Seorang turis memicu kemarahan di media sosial. Ia bersafari ke sebuah taman konservasi dan memberikan bir kepada gajah liar.
Pria yang tak disebutkan identitasnya itu merekam liburannya di Ol Jogi Conservancy di wilayah Laikipia bagian tengah, Kenya. Saat memberi makan dua gajah, ia tiba-tiba mengeluarkan sekaleng bir lokal.
“Kita sedang minum bir,” ucapnya dalam video tersebut dikutip dari BBC pada Sabtu (30/8).
Tanpa ragu ia menuangkan sekaleng bir kepada Gajah berukuran besar, dengan gading yang panjang, salah satunya terlihat unik karena rusak.
Dari gambar dan video lain yang diunggah dalam akun skydive_kenya, gajah tersebut cocok dengan deskripsi Bupa, gajah jantan yang ramah di Ol Jogi yang fotonya sering dibagikan oleh pengunjung.
Bupa diselamatkan dari pembantaian gajah massal di Zimbabwe pada tahun 1989 dan dibawa ke konservasi saat ia berusia delapan tahun.
Pria itu menggambarkan dirinya sebagai “pecandu adrenalin” di TikTok. Ia telah mengunggah video pada hari Senin di mana ia terlihat di Konservasi Ol Pejeta di dekatnya sedang memberi makan seekor badak dengan wortel.
Seorang anggota staf yang dihubungi BBC di suaka margasatwa milik swasta tersebut terkejut dengan perilaku tersebut dan mengatakan bahwa video tersebut akan diteruskan ke “otoritas terkait”.
“Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Kami adalah lembaga konservasi dan kami tidak bisa membiarkan hal itu terjadi,” kata staf tersebut, yang hanya diidentifikasi sebagai Frank.
“Kami bahkan tidak mengizinkan orang mendekati gajah.”
Kenya Wildlife Service (KWS) juga sedang menyelidiki insiden tersebut, kata juru bicara lembaga tersebut, Paul Udoto.
Dr. Winnie Kiiru, seorang ahli biologi dan konservasi gajah asal Kenya, menyebut perilaku turis tersebut “sangat disayangkan” karena telah membahayakan nyawanya dan nyawa gajah tersebut.
“Sekitar 95% gajah di Kenya adalah gajah liar dan salah jika mengunggah postingan di media sosial yang memberi kesan bahwa Anda bisa mendekati gajah dan memberi mereka makan,” ujarnya kepada BBC.
Ol Jogi menyatakan bahwa tempat tersebut merupakan rumah bagi sekitar 500 gajah dan menganggap dirinya sebagai salah satu pelopor dalam merehabilitasi hewan yatim piatu dan melepaskan mereka kembali ke alam liar.