Kisah Cinta Tugu Lady Raffles Kebun Raya Bogor

Posted on

Di kawasan Kebun Raya Bogor berdiri sebuah monumen yang kerap disebut sebagai Tugu Lady Raffles, monumen yang menyimpan kisah cinta antara Sir Thomas Stamford Raffles dan istri pertamanya, Lady Olivia Mariamne Raffles.

Monumen ini bukan sekadar penanda sejarah, melainkan simbol duka dan penghormatan Raffles atas kepergian sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Lady Olivia wafat pada 26 November 1814, dua tahun sebelum Raffles mengakhiri masa jabatannya sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 1816. Raffles sendiri menjabat sejak 1811 hingga 1816.

Olivia adalah istri pertama Raffles, sementara bagi Olivia, Raffles merupakan suami keduanya. Pernikahan mereka berlangsung pada 1805 dan selama sembilan tahun bersama, pasangan ini tidak dikaruniai keturunan. Olivia diketahui berusia sekitar sepuluh tahun lebih tua dari Raffles.

“Olivia meninggal di 26 November tahun 1814. Jadi beliau meninggal sebelum Raffles selesai masa jabatnya terhadap India Belanda di tahun 1816,” kata Ara, pemandu wisata Jakarta Good Guide.

Sebelum menetap di Hindia Belanda, Raffles dan Olivia membawa seorang sahabat dekat sekaligus rekan kerja Raffles dari Madras, India, bernama John Caspar Leyden.

Leyden merupakan seorang dokter sekaligus cendekiawan yang fasih berbahasa Melayu dan menjadi tangan kanan Raffles dalam urusan pemerintahan. Namun, dua hari sebelum Raffles dilantik sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Leyden wafat akibat sakit.

Kepergian Leyden menjadi pukulan berat, terutama bagi Olivia. Dalam masa duka tersebut, kondisi kesehatan Olivia justru memburuk. Ia terserang malaria akut dan hanya bertahan selama sekitar enam bulan.

Menjelang wafatnya, Olivia menyampaikan dua permintaan terakhir kepada Raffles. Pertama, ia meminta agar dibuatkan taman di sekitar Istana Bogor karena kecintaannya pada tanaman.

Permintaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal pengembangan taman di lingkungan istana. Kedua, Olivia meminta agar dimakamkan di dekat makam John Caspar Leyden, yang kini berada di Museum Taman Prasasti, Jakarta, dan hingga kini makam keduanya tetap berdampingan.

Sepeninggal Olivia, Raffles mengalami masa duka mendalam. Ia jatuh sakit dan kehilangan semangat untuk bekerja. Dalam masa tersebut, saat membersihkan paviliun tempat Olivia biasa beristirahat, ditemukan sebuah kotak surat di bawah tempat tidurnya.

Kotak itu berisi kumpulan puisi karya Leyden. Temuan ini memunculkan berbagai spekulasi dan gosip yang berkembang hingga kini, termasuk dugaan adanya hubungan emosional yang lebih kompleks antara Raffles, Olivia, dan Leyden.

“Tapi Raffles cemburu melihat Leyden dekat dengan Olivia. Raffles tidak cemburu melihat Olivia dekat sama Leyden. Tapi Raffles cemburu melihat Leyden dekat dengan Olivia,” kata Ara.

Sejumlah pihak menduga adanya cinta segitiga, meskipun tidak pernah ada bukti sejarah yang secara tegas mengonfirmasi hal tersebut. Dalam beberapa catatan, justru kedekatan Raffles dengan Leyden disebut jauh lebih intens karena hubungan kerja yang sangat erat.

Sementara itu, Olivia dikenal sebagai sosok progresif pada masanya. Ia bahkan mengubah aturan sosial di lingkungan pemerintahan kolonial dengan mewajibkan para istri pejabat untuk menghadiri acara resmi bersama suami mereka, sebagai bentuk perlindungan dan keterbukaan sosial.

Tak lama setelah wafatnya Olivia, Raffles membangun sebuah monumen di Kebun Raya Bogor sebagai bukti cinta dan penghormatan terakhirnya. Bagian tengah monumen tersebut merupakan struktur asli peninggalan masa Raffles, sementara bagian lainnya mengalami pemugaran oleh pemerintah Indonesia setelah sempat rusak akibat angin pada tahun 1970.

Untuk menjaga kelestariannya, monumen ini kini dipagari dan tidak dibuka untuk umum. Tugu Lady Raffles kemudian dikenal luas sebagai salah satu simbol romantisme di Kebun Raya Bogor.

Bersama cerita-cerita yang menyelimutinya, monumen ini kerap dikaitkan dengan kawasan yang populer disebut “kebun jodoh”. Terlepas dari mitos dan gosip yang berkembang, monumen ini tetap menjadi pengingat bahwa di balik sejarah besar kolonialisme dan pemerintahan, tersimpan kisah manusiawi tentang cinta, kesetiaan, dan kehilangan.