Nostalgia, Lokomotif Lawas D301 dan BB306 Kembali Berbalut Livery Lawas

Posted on

Balai Yasa Manggarai menjadi saksi bisu kembalinya kejayaan kereta api masa lalu. Komunitas pecinta kereta api bersama PT KAI resmi meluncurkan lokomotif D301 dan BB306 dengan tampilan livery (seragam) vintage yang ikonik.

Kedua lokomotif tersebut kini tampil dengan desain klasik yang merepresentasikan era awal operasionalnya, sekaligus membangkitkan nostalgia bagi para pecinta kereta api.

Peluncuran itu diklaim bukan sekadar mengecat ulang, melainkan upaya preservasi sejarah transportasi di Indonesia. Lokomotif BB306 dan D301 merupakan jenis lokomotif hidrolik buatan Jerman yang kini populasinya sudah sangat langka.

“Jadi lokomotif ini lokomotif lawas ya, buatan Jerman juga. Dan ini memang untuk populasinya memang sedikit, sudah sedikit dan sudah tidak digunakan untuk lintas jarak jauh,” ujar Ricky Dirjo, ketua Indonesian Railway Preservation Society (IRPS), saat peluncuran sekaligus Gathering Railfans Indonesia, di di Balai Yasa Manggarai, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Saat ini, kedua lokomotif tersebut bertugas sebagai mesin langsir di area Balai Yasa Manggarai. Melalui inisiatif IRPS, tampilan lokomotif yang sebelumnya berwarna kuning-hijau dikembalikan ke warna orisinalnya saat pertama kali berdinas dulu.

“kegiatan hari ini adalah sebenarnya adalah memberikan mereka seragam barulah. Seragam baru bahwa tampilan mereka sempat menggunakan warna-warna itu saat dulu berdinas jauh,” kata Ricky.

Warnanya ada yang merah, ada yang putih. Kebetulan kalau yang putih ini memang dulu pertama kali dipindahkan ke sini itu warnanya putih, setelah itu pindah ke kuning-hijau. Nah, sekarang kita minta dikembalikan ke warna putih lagi. Kalau yang merah itu dulu memang merah, lintas di luar itu merah, lalu balik ke sini warnanya kuning-hijau, kita minta lagi dikembalikan lagi gitu,” Ricky menambahkan.

Dia mengatakan keputusan memilih tipe D301 dan BB306 didasari oleh faktor kelangkaan. Menurut Ricky, unit BB306 yang ada di Balai Yasa Manggarai saat ini kemungkinan adalah satu-satunya yang tersisa dalam kondisi baik, selain satu unit D301 yang berada di Museum Kereta Api Ambarawa.

Acara tersebut berfungsi sebagai titik temu bagi komunitas penggemar kereta api Indonesia dan dewan direksi baru PT Kereta Api Indonesia (Persero). Para penggemar kereta api/railfans optimis tentang kolaborasi yang sedang berlangsung dengan KAI, terutama dengan Didiek Hartantyo sebagai Direktur Utama sebelumnya, yang kini digantikan oleh Bobby Rasyidin.

Kolaborasi ini bertujuan untuk menginformasikan masyarakat tentang sejarah kaya kereta api sambil menumbuhkan apresiasi terhadap transportasi kereta api.

“Bagaimana kita bisa berkontribusi, bagaimana kita bisa memberikan edukasi kepada masyarakat supaya orang-orang itu bisa nyaman dalam perjalanan kereta api sebagai penumpang dan juga bisa menumbuhkan rasa cinta masyarakatlah kepada kereta api melalui kegiatan-kegiatan komunitas kita ini gitu,” kata Ricky.

Bagi traveler pecinta sejarah dan kereta api, kehadiran lokomotif dengan livery vintage ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, menambah nilai estetika sekaligus pengingat akan evolusi perkeretaapian di Tanah Air.

Gambar ilustrasi