Menara Air Balai Yasa Manggarai, yang menjulang dari bata merah, menjadi saksi bisu sejarah panjang perkeretaapian Indonesia sejak era kolonial Belanda. Meski kini terlihat tenang, menara itu menyimpan jejak aktivitas “ular besi” yang sibuk pada masa lalu, hingga tak jarang warga atau orang yang lewat mengira melihat sosok hantu di sekitarnya.
Menara yang berada di Manggarai, Jakarta Selatan itu sudah memiliki stempel cagar budaya. Menara itu lebih dari sekadar tangki air biasa.
Warga setempat, Syurul Ananta Putra, mencatat bahwa bangunan kolonial Belanda itu pernah menjadi bagian integral dari operasional Bengkel Kereta Api Manggarai.
“Menara itu bangunan tinggalan Belanda, emang itu diperuntukkan cuci rangkaian kereta api gitu. Dan di sana, ada Balai Yasa, makanya jaraknya itu enggak begitu jauh sama Balai Yasa sama stasiun gitu,” ujar Syurul kepada infoTravel di lokasi, Selasa (14/1/2026).
Air yang ditampung di menara itu disalurkan untuk mencuci rangkaian kereta dan mendukung segala aktivitas perbengkelan di Balai Yasa Manggarai.
Yang menarik adalah sistem penyaluran airnya. Syurul menjelaskan bahwa sumber air justru berasal dari sumur yang terletak cukup jauh, yakni di area SMP Negeri 33 Jakarta.
“Dan untuk sumurnya itu berada di SMP 33. Itu di bawah di dalam tanah bawah dekat bangunan SMP 33,” kata Syurul.
Kemudian, air tersebut dipompa melalui pipa-pipa besar di dalam menara dan disimpan dalam dua tangki raksasa yang terletak di lantai teratas. Dengan pendekatan yang unik, air tersebut dialirkan dari menara ke Balai Yasa bukan melalui selang sembarangan, melainkan melalui sistem pipa bawah tanah yang dirancang dengan teliti.
“Iya, jadi air itu nyedot ke sana (SMP 33), kemudian ditampung di sini (Menara Air), nyucinya ke sana gitu (Balai Yasa Manggarai), kirimnya ke sana gitu. Jadi, di sini cuma buat penampungan saja gitu,” kata dia.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Seiring berjalannya waktu dan kemajuan teknologi kereta api, peran menara tersebut berkurang secara bertahap. Syurul mengatakan bahwa penggunaan aktif menara tersebut berakhir pada 2000-an. Dia menebak Balai Yasa telah menerapkan sistem pengeboran air yang lebih modern saat ini.
Meskipun demikian, dilaporkan bahwa mesin dan instalasi air di dalam menara kolonial tersebut tetap beroperasi sesuai dengan tujuan awalnya. PT Kereta Api Indonesia (KAI) secara berkala melakukan pemeriksaan atau mengaktifkannya pada interval tertentu.
“Masih berfungsi, cuma kita enggak tahu difungsikannya itu kapan. Untuk apa nyalain air itu kayak misalkan untuk nampung atau apa itu masih bisa gitu. Cuma kan yang berpihak untuk menyalakan atau mengisi kan dari PT Kereta Api-nya gitu, dari Balai Yasa,” kata Syurul.
“Tahun kemarin masih ada. Ya kayak misalkan ada event besar atau kereta api kan kayak misalkan tadi ada kunjungan atau apa, nah itu biasanya tuh nyuci rangkaiannya ya kadang dia harus nyalain dulu atau apa gitu untuk suplai air yang di dalam gitu,” dia menambahkan.
Menara Air Manggarai dinilai memancarkan suasana mistis. Warga sekitar bangunan itu mengaitkan dengan usia bangunan yang sudah tua, kondisi gelap saat malam, dan jarang dikunjungi.
Syurul menyadari keyakinan warga sekitar bahwa ada “penjaga” menara tersebut. Dia menganggap penilaian warga itu sebagai respons yang wajar terhadap kondisi bangunan.
“Mistis juga banyak sih, ada yang bilang ada hantu, ada penunggunya. Ya itu mungkin perasaan mereka saja. Kami yang tinggal di sini biasa saja dengan penilaian itu. Wajar,” kata Syurul.
“Kenapa dibilang ada hal mistis karena itu bangunan tua, bangunan Belanda gitu. Serem kan? Enggak ada lampu, kalau masuk kan gelap. Nah, istilahnya orang jadi mikirnya “Oh ini serem nih, angker nih,” gitu kan gitu, kan,” dia menambahkan.
Meskipun penampilannya yang menyeramkan, menara itu tetap memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar. Dikarenakan bersebelahan dengan masjid, sebuah pengeras suara (TOA) diletakkan di jendela menara tersebut.
Bagi traveler yang memiliki minat dalam sejarah, ke depannya Menara Air Manggarai menawarkan kesempatan menarik untuk mengagumi eksterior dengan mengunjunginya. Namun, saat ini ini akses ke bagian dalam tetap dibatasi demi keamanan dan pelestarian.
Kesan Mistis Balai Yasa


Menara Air Manggarai dinilai memancarkan suasana mistis. Warga sekitar bangunan itu mengaitkan dengan usia bangunan yang sudah tua, kondisi gelap saat malam, dan jarang dikunjungi.
Syurul menyadari keyakinan warga sekitar bahwa ada “penjaga” menara tersebut. Dia menganggap penilaian warga itu sebagai respons yang wajar terhadap kondisi bangunan.
“Mistis juga banyak sih, ada yang bilang ada hantu, ada penunggunya. Ya itu mungkin perasaan mereka saja. Kami yang tinggal di sini biasa saja dengan penilaian itu. Wajar,” kata Syurul.
“Kenapa dibilang ada hal mistis karena itu bangunan tua, bangunan Belanda gitu. Serem kan? Enggak ada lampu, kalau masuk kan gelap. Nah, istilahnya orang jadi mikirnya “Oh ini serem nih, angker nih,” gitu kan gitu, kan,” dia menambahkan.
Meskipun penampilannya yang menyeramkan, menara itu tetap memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar. Dikarenakan bersebelahan dengan masjid, sebuah pengeras suara (TOA) diletakkan di jendela menara tersebut.
Bagi traveler yang memiliki minat dalam sejarah, ke depannya Menara Air Manggarai menawarkan kesempatan menarik untuk mengagumi eksterior dengan mengunjunginya. Namun, saat ini ini akses ke bagian dalam tetap dibatasi demi keamanan dan pelestarian.






