Kisah Driver Ojol Kini Banting Setir Jadi Perajin Anyaman

Posted on

Sutiyono yang akrab dipanggil Tiyono adalah contoh nyata bagaimana ketekunan, kreativitas, dan kecintaan pada seni dan tradisi dapat mengubah arah kehidupan.

Dulu, Tiyono bekerja di sebuah pabrik industri rotan besar. Dia sempat meninggalkan pekerjaan itu dan tergoda menjadi driver ojek online ketika layanan transportasi daring tersebut mulai booming.

Tetapi tidak lama. Meski memberi penghasilan cepat dan fleksibilitas, pengalaman sebagai driver ojek online telah mengajarkannya satu hal penting, penghasilan yang bergantung pada fluktuasi order tidak selalu memberi kepastian jangka panjang.

Akhirnya, Tiyono memilih kembali ke dunia anyaman, bidang yang pernah ditinggalkannya, dengan semangat baru dan visi yang lebih luas. Kembali bekerja sebagai buruh perajin di sentra industri kecil anyaman rotan di Trangsan, Gatak, Sukoharjo, Tiyono tidak sekadar mengulang keterampilan lama.

Ia mempelajari mekanisme distribusi, strategi pemasaran, dan dinamika pasar kerajinan. Tantangan muncul ketika harga bahan baku rotan meningkat dan distribusi produk tidak lagi semulus dahulu.

Alih-alih menyerah, ia bereksperimen dengan bahan alternatif, pelepah pisang, batang talas, serta limbah kertas dan kardus yang diolah ulang. Eksperimen ini membuka peluang produk baru yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis.

Dari proses tersebut lahir CRM Craft (Cahaya Rotan Mandiri), usaha keluarga yang dirintis bersama istri dan anak-anaknya di Colomadu, Karanganyar. Produk-produk mereka sederhana namun fungsional, tempat hampers, wadah serbaguna, dan berbagai anyaman rumah tangga yang menarik. Pendekatan homemade memberi nilai tambah berupa sentuhan personal dan cerita di balik setiap produk, sesuatu yang kini semakin dihargai konsumen.

Lebih dari sekadar perajin, Tiyono aktif berbagi. Ia rutin mengadakan pelatihan singkat dan workshop menganyam untuk kelompok ibu-ibu PKK, karang taruna, dan pengunjung restoran yang ingin mencoba keterampilan anyaman. Selain mengajar teknik, ia juga membantu peserta memahami cara mencari pasar dan mengemas produk agar lebih menarik.

Ia menyediakan bahan baku dan menerima hasil jadi dari para perajin pemula untuk didistribusikan ke pelanggannya, sehingga tercipta ekosistem usaha yang saling menguntungkan.

Kontribusi ini membawa dampak sosial-ekonomi nyata, membuka peluang pendapatan tambahan bagi keluarga, melestarikan keterampilan tradisional, dan mendorong penggunaan bahan lokal serta daur ulang. Bahkan, kiprahnya sempat menarik perhatian internasional, ia pernah diundang untuk mengisi workshop di Polandia.

Namun, karena komitmen pada keluarga dan komunitas lokal, ia memilih tetap berkarya di tanah kelahirannya. Kisah Tiyono mengandung beberapa pelajaran penting.

Pertama, keterampilan tradisional memiliki nilai jangka panjang jika dipadukan dengan inovasi. Kedua, kreativitas dalam memanfaatkan bahan alternatif dapat menjadi solusi ketika sumber daya utama terbatas atau mahal. Ketiga, berbagi pengetahuan memperkuat komunitas dan menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan.

Terakhir, kesederhanaan dan kerendahan hati tetap menjadi landasan yang membuat usaha tumbuh dengan akar yang kuat. Tiyono juga membagikan tips bagi para perajin pemula.

“Awali dengan mulai dari bahan yang mudah didapat seperti pelepah pisang, talas, atau kertas daur ulang untuk bereksperimen sebelum beralih ke bahan mahal, fokus pada fungsi dan estetika sehingga produk tidak hanya berguna tetapi juga menarik perhatian pembeli,” kata Tiyono dalam sebuah workshop.

“Bangun jaringan lokal dengan bekerja sama kelompok ibu-ibu, warung, atau toko souvenir untuk memperluas saluran distribusi, pelajari pemasaran sederhana, ambil foto produk yang rapi, ceritakan proses dan nilai di balik setiap karya,” kata dia lagi.

“Kemudian, kemas dengan menarik untuk meningkatkan nilai jual, dan ajarkan serta rekrut melalui workshop kecil agar keterampilan menyebar, tenaga kerja bertambah, dan komunitas perajin semakin kuat,” dia menambahkan.

Perjalanan Tiyono dari driver ojol kembali menjadi perajin anyaman adalah kisah tentang kembali ke akar, beradaptasi, dan memberi manfaat bagi banyak orang. CRM Craft bukan sekadar usaha keluarga; ia adalah wujud kreativitas yang lahir dari keterbatasan, serta bukti bahwa keterampilan tradisional bisa hidup kembali melalui inovasi dan kolaborasi.

Bagi siapa pun yang ingin memulai usaha kerajinan, kisah ini mengingatkan bahwa ketekunan, keberanian mencoba hal baru, dan kemauan berbagi adalah kunci untuk menenun masa depan yang lebih baik.

Tiyono selalu hadir bukan sekadar sebagai pengajar, melainkan sebagai penjaga warisan keterampilan yang tulus, setiap helai anyaman yang ia ajarkan adalah benang harapan yang merajut kemandirian dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Dengan kesediaan waktu dan tenaga yang tak kenal pamrih, ia menabur ilmu sebagai bentuk pengabdian, membuka peluang bagi banyak orang untuk menemukan keterampilan, penghasilan, dan kebanggaan diri.

Jejaknya tak hanya terlihat pada hasil anyaman, tetapi pada semangat yang tumbuh di hati mereka yang pernah disentuhnya, itulah warisan paling berharga yang akan terus mengalir, menginspirasi generasi demi generasi.

Kisah Perjalanan Tiyono