Badai musim dingin dahsyat menyapu Amerika Serikat dan meninggalkan dampak: pembatalan penerbangan, pemutusan aliran listrik hingga korban jiwa.
Sepanjang akhir pekan, badai bergerak luas dari Texas hingga Maine. Salju tebal menutup jalan-jalan utama, listrik padam di banyak kota, dan ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan atau tertunda. Aktivitas warga pun nyaris berhenti total di beberapa daerah.
Setidaknya selusin orang dilaporkan meninggal dunia akibat badai ini. Mengutip BBC, Selasa (27/1/2026), National Weather Service (NWS) mencatat wilayah timur laut AS diguyur salju lebih dari 20 inci (50 centimeter) hanya dalam waktu 24 jam.
Dampaknya bahkan terasa hingga ke Kanada, khususnya Ontario bagian selatan, yang aktivitas warganya ikut terganggu.
Para ahli cuaca memperingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya berlalu. Badai musim dingin lain berpotensi kembali menghantam wilayah timur AS pada akhir pekan mendatang.
Di Tennessee, lebih dari 200.000 warga masih hidup tanpa aliran listrik hingga Senin siang. Suhu dingin ekstrem membuat kondisi semakin berat, terutama bagi mereka yang kehilangan penerangan dan pemanas rumah.
“Banyak pohon tumbang dan kabel listrik menutup jalan,” ujar Wakil Presiden Nashville Rescue Mission, Joy Flores.
Ia mengatakan pusat penampungan kebanjiran panggilan dari warga yang membutuhkan bantuan. Jalanan yang licin menyulitkan mobilitas, bahkan Flores sendiri mengaku rumahnya sempat tanpa pemanas dan koneksi internet.
Situasi tak kalah parah terjadi di New York City. Delapan orang dilaporkan meninggal dunia sejak Jumat hingga Senin pagi, saat suhu turun hingga di bawah 10 derajat Celsius. NWS mencatat, Central Park diselimuti salju setebal 11,4 inci.
Korban juga tercatat di negara bagian lain. Di Texas, seorang remaja putri meninggal dunia dan satu lainnya kritis akibat kecelakaan saat bermain seluncur salju, menurut Kepolisian Frisco.
Di North Carolina, seorang pria ditemukan tewas di pinggir jalan di Buncombe County dan pihak berwenang masih menyelidiki apakah kematiannya terkait langsung dengan cuaca ekstrem. Sementara di Louisiana, Departemen Kesehatan melaporkan dua kematian akibat hipotermia.
Gubernur Massachusetts, Maura Healey, mengingatkan warganya bahwa kondisi darurat ini belum usai. Ia menyebut wilayahnya masih berpotensi diguyur salju tambahan setebal satu hingga lima inci.
Dampak badai juga terasa kuat di Kanada. Ottawa dan Quebec menjadi wilayah paling terdampak, dengan gangguan transportasi serta penutupan sejumlah sekolah. Bandara Toronto Pearson mencatat curah salju sekitar 46 centimeter pada Minggu, angka tertinggi yang pernah tercatat.
Menurut NWS, cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlanjut. Badai musim dingin berikutnya berpotensi membawa suhu sangat dingin, hujan lebat, dan salju ke wilayah timur AS mulai Jumat mendatang. Meski demikian, jalur pasti badai dan wilayah yang akan terdampak paling parah masih belum dapat dipastikan.






