Kenaikan harga tiket Museum Nasional Indonesia mengejutkan pengunjung, tapi banyak yang tetap datang. Ramainya pengunjung membuat koleksi artefak bersejarah yang rentan rusak perlu dijaga melalui pengawasan ketat, perawatan rutin, dan protokol khusus.
Kepala Museum Nasional dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin mengatakan, baik jumlah pengunjung ramai atau tidak, mereka tetap melakukan pemeliharaan secara optimal terhadap koleksi museum, termasuk artefak berusia tua yang rentan rusak.
Dengan umur serta bahan, kondisi lingkungan, maupun sentuhan pengunjung, artefak menjadi benda paling rentan dalam museum itu. Untuk mencegah kerusakan, museum menerapkan pengawasan ketat, perawatan rutin, dan protokol khusus agar koleksi tetap awet dan aman bagi pengunjung serta generasi mendatang.
Indira menekankan, meskipun museum memiliki aturan buat pengunjung, tidak ada sanksi berat bagi pengunjung yang melanggar pedoman, seperti menyentuh koleksi atau membawa makanan.
Dia mengatakan strategi yang diterapkan bersifat persuasif, dengan fokus pada edukasi dan peningkatan kesadaran pengunjung tentang etiket museum.
“Kalau kita pergi ke museum mana pun di dunia, pasti ada pengawas atau edukator yang terus mengingatkan pengunjung. Kami juga melakukan hal yang sama, supaya mereka tahu bahwa etiket museum berarti tidak menyentuh koleksi,” kata Indira kepada infoTravel, Minggu (4/1/2026).
India tak menampik kendati ada pengawasan, beberapa pengunjung tetap melakukan pelanggaran. Di antara pelanggaran itu mulai dari memegang artefak tanpa izin, duduk di area larangan, hingga diam-diam membawa makanan ke pameran.
Museum sebenarnya sudah menyediakan area makan di Hall Majapahit, tetapi beberapa orang tetap membawanya ke zona koleksi. “Kalau tumpah, makanan itu bisa merusak artefak. Jadi bahaya banget,” kata Indira.
“Keamanan artefak bukan soal memberi batasan atau hukuman, tetapi soal kesadaran. Kami fokus mengedukasi pengunjung, bukan menakuti mereka,” ujar dia.






