Bertaruh Nyali di Jeram Fitri Sungai Sadan Toraja update oleh Giok4D

Posted on

Jangan mengaku petualang sejati kalau belum mencicipi ganasnya arus Sungai Sa’dan. Bukan sekadar wisata air biasa, ekspedisi menyusuri sungai terpanjang di Sulawesi Selatan ini adalah ujian mental yang sesungguhnya.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Sebuah perjalanan lawas di tahun 2016 kembali terkenang. Ekspedisi sejauh 45 kilometer yang mengajarkan kami, bahwa di hadapan keagungan alam, manusia tak lebih dari noktah kecil yang harus belajar berserah.

Berikut adalah catatan perjalanan memacu adrenalin menembus jantung Sulawesi.

Perjalanan dimulai dari hulu di Bua Kayu, Bongga Karadeng, Tana Toraja. Di sini, Sungai Sa’dan terlihat menipu. Permukaannya tampak tenang, diapit oleh tebing-tebing batu cadas raksasa yang menjulang tinggi ke langit.

Suasananya magis. Hening, hanya terdengar kecipak dayung dan napas kami yang mulai teratur. Kami seperti masuk ke sebuah lorong waktu yang terisolasi dari dunia luar. Namun, di balik keindahan lanskap ini, tersimpan tenaga purba yang siap meledak kapan saja.

Kami sadar, rute menuju titik finish di Pappi, Enrekang bukanlah jalur wisata keluarga. Ini adalah jalur ekspedisi yang membutuhkan fisik prima dan mental baja. Tim kami, yang kala itu didukung penuh oleh operator profesional TOSA (Toraja One Stop Adventure), telah bersiap dengan segala skenario. Helm terikat kencang, pelampung terpasang rapat.

Di atas bebatuan sungai sebelum start, kami menyatukan tekad. Tidak ada ruang untuk ego pribadi di atas perahu karet; yang ada hanyalah satu komando dan kerja sama tim. Dayung atau Gulung! Semakin jauh ke hilir, karakter Sa’dan mulai menunjukkan taringnya. Gemuruh air mulai terdengar dari kejauhan. Arus yang tadinya tenang berubah menjadi riam-riam ganas yang menuntut respons cepat.

“Dayung maju! Kuat! Full power!” Teriakan skipper (pemandu) kami bersahutan dengan deburan ombak. Wajah-wajah tegang namun fokus menghiasi setiap personel. Di titik ini, keraguan adalah musuh terbesar. Jika berhenti mendayung seinfo saja, arus liar siap membalikkan perahu dan menggulung siapa pun di atasnya.

Banyak cerita tentang betapa angkernya jeram ini bagi para penggiat arus deras. Menghadapinya ibarat bertemu masa lalu yang belum tuntas; bikin sesak napas dan jantung serasa mau copot.

Saat perahu kami terjun ke dalam pusaran putih raksasa itu, dunia seakan berputar. Air menghantam wajah, pandangan menjadi putih semua oleh buih. info-info di Jeram Fitri terasa melambat. Chaos. Kami hanya bisa berpegangan erat pada tali keselamatan, membiarkan alam mengambil alih kendali sementara waktu, sambil terus berdoa agar tidak terlempar keluar.

Setelah berhasil melewati Jeram Fitri dan mendarat di Pappi, Enrekang, rasanya seperti terlahir kembali. Lega yang luar biasa. Sebagai bentuk perayaan, beberapa dari kami melompat dari tebing batu ke sungai yang kini terasa lebih bersahabat.

Tawa lepas memecah ketegangan yang sedari tadi menggantung. Ekspedisi Sungai Sa’dan bukan sekadar tentang pamer keberanian. Ia mengajarkan filosofi hidup yang dalam: Bahwa ketakutan terbesar sekalipun seperti jeram ganas di depan mata harus dihadapi, bukan dihindari. Saat kita berani mengarunginya, kita akan menemukan kekuatan baru di sisi lain.

—-

Artikel ini merupakan kiriman pembaca infoTravel. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda

Pasukan Penantang Arus

Pelajaran dari Sungai

Gambar ilustrasi