Jejak hewan yang diduga dari macan ditemukan di Semanu, Gunungkidul. Namun BKSDA menyebut lokasi tersebut bukanlah habitat hewan predator.
Jejak hewan yang diduga macan itu bikin heboh media sosial. Apalagi lokasi penemuannya berada di sekitar lokasi pembangunan sebuah pondok pesantren.
BKSDA melalui Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto mengatakan bahwa di sekitar lokasi penemuan jejak diduga macan itu merupakan lahan pertanian.
“Jadi di situ lahan pertanian dan setiap hari ada orangnya. Nah, sementara untuk jenis binatang buas pasti habitatnya jauh dari aktivitas manusia,” kata dia saat dihubungi.
“Meski belum bisa dipastikan, tapi kalau habitat binatang buas saya kira bukan,” sambungnya.
Tugimayanto menjelaskan, jika jejak tersebut memang benar merupakan bekas tapak kaki macan, kemungkinan hewan itu hanya sebatas melintas. Mengingat ada telaga di sekitar lokasi penemuan jejak tersebut.
“Tapi kalau melintas kemungkinan bisa, karena telaga juga di sana. Jadi melintas mencari air, itu pun kalau misal benar-benar jejak itu jejak binatang buas,” ujar dia.
Tugimayanto menjelaskan, sepengetahuannya hanya di Girisubo yang menjadi habitat macan tutul. Habitat itu jauh dari permukiman.
“Kalau itu (binatang buas) dari Girisubo ke Semanu sepertinya terlalu jauh ya, karena jaraknya jauh sekali,” ucap dia.
Disinggung mengenai kemungkinan memasang kamera di lokasi, Tugimayanto mengatakan hal itu perlu dibahas lebih lanjut.
“Kalau itu (pemasangan kamera di lokasi penemuan jejak) perlu kami diskusikan dan konsultasikan ke pimpinan. Jika memang perlu (dipasang kamera) paling kamera trap, bukan CCTV,” kata dia, Sabtu (3/1/2026).
Tugimayanto menjelaskan, BKSDA pernah melakukan pemasangan kamera trap di Panggang, Gunungkidul, terkait informasi adanya macan.
“Dulu sebelum pandemi (COVID-19) itu kami pernah pasang kamera trap di Panggang karena (info) ada macan. Tapi yang terekam di kamera itu ternyata binatang jenis anjing,” pungkasnya.
Sementara itu, Heru Purwanto (56), warga sekitar yang juga pekerja di proyek pembangunan Ponpes di Semanu, Gunungkidul, menyebut belum ada lagi temuan jejak di sekitar lokasi proyek.
“Pagi tadi saya cek belum ada lagi jejaknya. Biasanya beberapa hari muncul lagi, gitu. Jadi tidak setiap hari muncul,” kata dia.
Sebelumnya, Heru melihat jejak itu ditemukan sekitar tiga hari yang lalu. Heru menyebut lokasi penemuan jejak itu di sisi timur proyek pembangunan Ponpes.
“Tiga hari lalu, pagi-pagi saya datang ke sini mau kerja lihat jejak harimau. Itu jejaknya besar sekali, seukuran telapak sapi. Tapi jejak itu sudah hilang karena kemarin kan hujan deras sekali,” imbuh dia.
Menurut Heru, operator backhoe di proyek pembangunan Ponpes juga pernah melihat sosok harimau atau macan.
“Sudah (ada yang pernah lihat harimau) itu pagi-pagi operator backhoe lihat sendiri warnanya kuning hitam dengan ukuran lebih besar dari kambing, saat itu satu ekor yang dilihat,” ucapnya.
Heru menyebut harimau atau macan itu tidak pernah mengganggu pekerja proyek.
“Tidak mengganggu, macan jinak maksudnya penunggu, sesepuh sini dan tidak mengganggu warga sini. Warga juga sudah biasa (melihat harimau). Masih ada, yakin ada, kalau ingin lihat sendiri pasang CCTV, yakin nanti muncul,” katanya yakin.
Pekerja bangunan lainnya, Jono (60), juga mengaku sudah beberapa kali melihat harimau di Panggul Kulon. Menurutnya, hal itu terjadi saat musim kemarau.
“Sering (lihat), saat sudah tidak ada air, yang penting jangan diganggu. Pernah saya duduk dan lewat didiamkan saja, jangan dilempar,” kata warga Gaduhan, Harjosari, Tanjungsari itu.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
——–
Artikel ini telah naik di
Kesaksian Warga Gunungkidul
Sementara itu, Heru Purwanto (56), warga sekitar yang juga pekerja di proyek pembangunan Ponpes di Semanu, Gunungkidul, menyebut belum ada lagi temuan jejak di sekitar lokasi proyek.
“Pagi tadi saya cek belum ada lagi jejaknya. Biasanya beberapa hari muncul lagi, gitu. Jadi tidak setiap hari muncul,” kata dia.
Sebelumnya, Heru melihat jejak itu ditemukan sekitar tiga hari yang lalu. Heru menyebut lokasi penemuan jejak itu di sisi timur proyek pembangunan Ponpes.
“Tiga hari lalu, pagi-pagi saya datang ke sini mau kerja lihat jejak harimau. Itu jejaknya besar sekali, seukuran telapak sapi. Tapi jejak itu sudah hilang karena kemarin kan hujan deras sekali,” imbuh dia.
Menurut Heru, operator backhoe di proyek pembangunan Ponpes juga pernah melihat sosok harimau atau macan.
“Sudah (ada yang pernah lihat harimau) itu pagi-pagi operator backhoe lihat sendiri warnanya kuning hitam dengan ukuran lebih besar dari kambing, saat itu satu ekor yang dilihat,” ucapnya.
Heru menyebut harimau atau macan itu tidak pernah mengganggu pekerja proyek.
“Tidak mengganggu, macan jinak maksudnya penunggu, sesepuh sini dan tidak mengganggu warga sini. Warga juga sudah biasa (melihat harimau). Masih ada, yakin ada, kalau ingin lihat sendiri pasang CCTV, yakin nanti muncul,” katanya yakin.
Pekerja bangunan lainnya, Jono (60), juga mengaku sudah beberapa kali melihat harimau di Panggul Kulon. Menurutnya, hal itu terjadi saat musim kemarau.
“Sering (lihat), saat sudah tidak ada air, yang penting jangan diganggu. Pernah saya duduk dan lewat didiamkan saja, jangan dilempar,” kata warga Gaduhan, Harjosari, Tanjungsari itu.
——–
Artikel ini telah naik di
