Cucu Paku Buwono (PB) XIII diduga melakukan penganiayaan terhadap salah satu tim sekuriti kubu PB XIV Purbaya. Namun, Lembaga Dewan Adat (LDA) membantahnya.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Wirabhumi, memberikan klarifikasi terkait laporan penganiayaan oleh cucu Paku Buwono (PB) XIII, BRM Suryo Mulyo, terhadap anggota tim keamanan PB XIV Purbaya berinisial RP (23) saat terjadi ribut-ribut di Keraton Solo.
Peristiwa itu terjadi di tengah keributan menjelang acara penyerahan Surat Keputusan (SK) Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026 untuk KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sebagai Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, atau Pemanfaatan Keraton Solo pada Minggu (18/1) lalu.
Eddy mengatakan, saat di lokasi dirinya melihat BRM Suryo Mulyo justru melakukan upaya penyelamatan terhadap seseorang yang dianggap bertindak terlalu agresif. Tujuannya agar tidak terjadi benturan dengan pihak lain.
“Yang saya lihat, kan dia disamping saya, saya juga lihat Mas Suryo Mulyo itu malah menarik dia (tim kemanan PB XIV Purbaya), dibawa minggir supaya tidak terjadi sesuatu kepada dia. Karena orang ini terlalu overaktif atau agresif, kalau dibiarkan pasti terjadi benturan. Makanya ditarik untuk dipinggirkan, itu kelihatan di video,” kata dia saat ditemui di Bangsal Morokoto, Selasa (20/1/2026).
Eddy juga sempat meminta BRM Suyo Mulyo untuk melepaskan orang dari tim Keamanan PB XIV Purbaya itu. Setelah dilepaskan oleh BRM Suyo Mulyo, Wirabhumi mengaku tidak tahu bagaimana kondisi orang tersebut.
“Saya sampaikan mas udah cukup, terus dilepaskan. setelah dilepas saya nggak tahu. Mas Suryo Mulyo malah menyelamatkan. Makanya ditarik, dipinggirkan,” ucapnya.
Setelah mengonfirmasi langsung kepada Mas Suryo Mulyo, Eddy menegaskan bahwa tidak ada aksi pemukulan yang dilakukan saat itu. Mengenai kondisi baju korban yang dilaporkan robek-robek, Eddy mengaku tidak mengetahui kapan dan di mana hal itu terjadi.
“Enggak, dia (Mas Suryo) tidak melakukan pemukulan. Kalau soal bajunya robek atau siapa yang mengeroyok, saya tidak tahu. Yang pasti Mas Suryo justru menyelamatkan itu agar tidak berbenturan dengan yang lain,” ujarnya.
Eddy mengatakan saat itu dirinya sedang berjalan dengan BRM Suryo untuk mencari Gusti Moeng. Mengenai adanya pengaduan ke polisi dari pihak PB XIV Purbaya, Eddy mengaku belum menerima surat pemanggilan atau pertemuan.
“Belum, belum, belum ada apa-apa karena ini kan kita baru tahu juga dari media saja. Ya, seperti itu, klambinya (bajunya) robek-robek, lah itu dirobek di mana, kita juga nggak tahu. Yang ngeroyok sopir saya juga enggak tahu, gitu,” ucapnya.
Lebih lanjut Eddy menjelaskan bahwa keberadaan dirinya, BRM Suryo Mulyo, dan GRay Koes Murtiyah Wandansari atau Gusti Moeng di lokasi saat itu sedang menjalankan tugas resmi terkait rencana revitalisasi oleh pemerintah pusat. Rapat Koordinasi (Rakor) di Pemkot Solo bersama Forkopimda juga sudah dilakukan sebelumnya.
“Kami sedang menjalankan tugas. Harusnya hari Minggu itu semua kunci sudah dibuka. Kami datang bersama polisi dan TNI. SK kementerian pun sudah dipegang oleh Panembahan,” jelasnya.
“Mereka menghalangi pembukaan itu. Padahal menghalangi pejabat negara, dalam hal ini Pak Menteri yang mau melakukan kunjungan, itu ada pasalnya. Apalagi ini dalam upaya revitalisasi untuk perbaikan,” sambung Eddy.
Dia berharap pihak-pihak yang memiliki aspirasi bisa menyampaikan secara baik-baik kepada pemerintah daripada melakukan aksi penguncian pintu.
“Harusnya Pak Menteri diterima, diderekke (diantar), ditunjukkan kerusakannya sambil ngobrol kalau ada aspirasi. Jangan model dikunci-kunci. Kami sangat menyayangkan sikap seperti itu,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, pihak Paku Buwono (PB) XIV Purbaya mengadukan cucu dari PB XIII berinisial BRM S ke Polresta Solo. Aduan ini dipicu dugaan pengeroyokan terhadap salah satu tim keamanan pihak Purbaya berinisial RP (23).
Insiden tersebut terjadi pada Minggu (18/1/2026) pukul 10.20 WIB. Saat kejadian, tim keamanan sedang berjaga di Bangsal Siaga Pulisen.
“Kejadian tepatnya saat akan adanya prosesi serah terima SK dari Kementerian Kebudayaan. Saat itu tim keamanan kami sedang berjaga di sekitar Bangsal Siaga Pulisen, di Ndalem Ageng Keraton,” ujar Kuasa Hukum Tim Keamanan Pihak Purbaya, Ardi Sasongko, saat jumpa pers di Keraton Solo, Senin (19/1/2026).
Ardi mengatakan, tanpa ada komando yang jelas, tiba-tiba pecah keributan. Korban RP sempat dibawa oleh BRM S, yang diketahui merupakan keponakan dari Paku Buwono XIV Mangkubumi.
“Tiba-tiba ada pihak-pihak yang mengeluarkan kata-kata pedas. Suasana menjadi ribut, saling dorong, dan salah satu penjaga kami karena perawakannya kecil langsung diamankan. Saat itu korban mendapat perlakuan kasar, mohon maaf, ditendang di kemaluannya,” ungkap Ardi.
——-
Artikel ini telah naik di
Cucu PB XIII Dilaporkan ke Polisi
“Mereka menghalangi pembukaan itu. Padahal menghalangi pejabat negara, dalam hal ini Pak Menteri yang mau melakukan kunjungan, itu ada pasalnya. Apalagi ini dalam upaya revitalisasi untuk perbaikan,” sambung Eddy.
Dia berharap pihak-pihak yang memiliki aspirasi bisa menyampaikan secara baik-baik kepada pemerintah daripada melakukan aksi penguncian pintu.
“Harusnya Pak Menteri diterima, diderekke (diantar), ditunjukkan kerusakannya sambil ngobrol kalau ada aspirasi. Jangan model dikunci-kunci. Kami sangat menyayangkan sikap seperti itu,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, pihak Paku Buwono (PB) XIV Purbaya mengadukan cucu dari PB XIII berinisial BRM S ke Polresta Solo. Aduan ini dipicu dugaan pengeroyokan terhadap salah satu tim keamanan pihak Purbaya berinisial RP (23).
Insiden tersebut terjadi pada Minggu (18/1/2026) pukul 10.20 WIB. Saat kejadian, tim keamanan sedang berjaga di Bangsal Siaga Pulisen.
“Kejadian tepatnya saat akan adanya prosesi serah terima SK dari Kementerian Kebudayaan. Saat itu tim keamanan kami sedang berjaga di sekitar Bangsal Siaga Pulisen, di Ndalem Ageng Keraton,” ujar Kuasa Hukum Tim Keamanan Pihak Purbaya, Ardi Sasongko, saat jumpa pers di Keraton Solo, Senin (19/1/2026).
Ardi mengatakan, tanpa ada komando yang jelas, tiba-tiba pecah keributan. Korban RP sempat dibawa oleh BRM S, yang diketahui merupakan keponakan dari Paku Buwono XIV Mangkubumi.
“Tiba-tiba ada pihak-pihak yang mengeluarkan kata-kata pedas. Suasana menjadi ribut, saling dorong, dan salah satu penjaga kami karena perawakannya kecil langsung diamankan. Saat itu korban mendapat perlakuan kasar, mohon maaf, ditendang di kemaluannya,” ungkap Ardi.
——-
Artikel ini telah naik di
