Dompet dan Senter Jadi Petunjuk Kunci Penemuan Ali di Gunung Slamet

Posted on

Penemuan pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan (18) yang hilang di Gunung Slamet tak lepas dari satu titik penting dalam proses pencarian. Dompet dan senter milik korban ditemukan.

“Dua barang itu dipastikan milik Ali karena di dalam dompet terdapat STNK dengan nama Ali,” kata Abdul Kholiq Zainal, relawan SAR dari UPL MPA Universitas Jenderal Soedirman yang terlibat dalam operasi SAR tahap II, saat dihubungi infoTravel, Rabu (14/1/2026).

Menurut Kholiq, tim SAR tahap II terdiri dari 24 relawan, gabungan dari UPL MPA Unsoed, Wanadri, beberapa Mapala berbasis di Banyumas, dan warga lokal. Tim dibagi ke dalam beberapa kelompok pencarian untuk menyisir jalur Gunung Malang secara terkoordinasi.

Dompet dan senter itu ditemukan pada Selasa (12/1) dari pencarian yang dilakukan sejak pagi. Penemuan dompet dan senter itu pun langsung menjadi titik balik pencarian.

Berdasarkan temuan tersebut, tim mempersempit area pencarian (MPP) dan memadatkan personel menjadi 12 orang yang dibagi ke dalam tiga tim untuk operasi lanjutan.

Meski penyisiran hari pertama SAR tahap II terus dilakukan hingga sore, korban belum ditemukan, sehingga tim menghentikan operasi sementara. Langkah itu sekaligus untuk melakukan evaluasi dan persiapan pencarian di hari berikutnya.

Pencarian kemudian dilanjutkan pada Rabu (14/1) dengan fokus pada area yang sudah dipersempit berdasarkan temuan barang korban.

Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada pukul 10.22 WIB, jenazah Ali ditemukan di jalur punggungan Gunung Malang, wilayah Pemalang, dekat Batu Watu Langgar. Selain jenazah, tim juga menemukan pakaian dan perlengkapan korban di sekitar lokasi.

Kholiq mengaku perasaan tim campur aduk saat menemukan Ali.

“Semua gemetar. Senang karena akhirnya korban ditemukan, tapi sangat sedih karena kondisinya sudah meninggal dunia,” ujar dia.

Penemuan Ali menutup pencarian panjang selama 17 hari.

Dalam pendakian itu Ali tidak sendirian. Dia memulai perjalanan dari Magelang, Jawa Tengah bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran. Mereka tiba di base camp pendakian Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (27/12/2025), sekitar pukul 23.00 WIB.

Mereka langsung melakukan pendakian dan menyatakan melakukan pendakian tektok alias tidak menginap di gunung. Namun, hingga Minggu malam, sekitar pukul 21.00 WIB, Syafiq dan Himawan belum kembali ke basecamp.

Pengelola base camp pun kemudian mengerahkan petugas untuk melakukan pengecekan awal. Titik terang baru muncul pada Senin (29/12) sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Himawan ditemukan oleh pendaki lain di sekitar Pos 9 jalur Dipajaya dalam kondisi lemas dan mengalami cedera akibat kram pada kaki. Dia kemudian dievakuasi oleh petugas.

Himawan mengatakan mereka terpisah saat turun gunung. Dia bilang mengalami cedera dan tidak mampu melanjutkan perjalanan, sedangkan Ali memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan.