Pertunjukan tetralogi Batavia Tales memasuki episode pamungkas. Episode keempat bertajuk ‘The Sailing of Batavia’ membingkai rangkaian kisah perjuangan delapan karakter berlatar Batavia abad ke-19 dalam menghadapi kolonialisme.
Melanjutkan rangkaian cerita sebelumnya, The Sailing of Batavia hadir sebagai penutup perjalanan kreatif Batavia Tales. Episode ini menghadirkan sudut pandang baru tentang perjuangan, mimpi, dan keberanian di tengah tekanan kolonial. Acara Batavia Tales digelar di The Port, Batavia PIK.
Director & Playwright of Batavia Tales, Mhyajo menjelaskan bahwa Batavia Tales merupakan rangkaian pertunjukan musikal berdurasi total dua jam yang dibagi menjadi empat episode, masing-masing berdurasi 30 menit dan digelar rutin setiap akhir pekan.
“Jadi malam hari ini adalah malam perdana tayangan episode 4. Jadi rangkaian dari cerita musikal, pertunjukan musikal, yang sebenarnya totalnya berdurasi 2 jam, tapi kami divide atau kami belah menjadi 4 episode,” ucap Mhyajo, dalam keterangannya di The Port, Batavia PIK, Sabtu (24/1/2026).
Lebih lanjut, Mhyajo menambahkan episode keempat disebut menjadi pengikat dari keseluruhan cerita sebelumnya.
“Kalau episode 4 itu adalah refill dari setiap Easter Eggs yang ada di setiap episode. Jadi boleh dibilang setiap episode itu ceritanya adalah menceritakan fokus pada masing-masing 2 karakter dari 8 karakter yang kita tonjolkan,” katanya.
Kesuksesan Batavia Tales tak lepas dari antusiasme penonton sejak tiga episode sebelumnya. Sejak penayangan perdana, pertunjukan musikal ini konsisten menarik minat publik berkat kekuatan cerita, pendalaman karakter, serta perpaduan musik dan visual yang imersif. Sambutan positif tersebut membuat Batavia Tales memiliki tempat tersendiri di hati penikmat seni pertunjukan.
Managing Director of Amantara Agung Sedayu Group, Soesilawati, mengatakan penayangan episode keempat ini merupakan bagian dari inisiatif budaya yang lebih besar, yakni PIK Berbudaya.
“Ya, hari ini kita berkumpul di sini untuk menyaksikan tayangan perdana Batavia Tales IV. Ini episode terakhir. Dan ini sebenarnya acara merupakan bagian dari inisiatif yang lebih besar, yaitu PIK Berbudaya,” ujar Soesilawati.
Ia menjelaskan, PIK Berbudaya merupakan wujud komitmen Agung Sedayu Group dalam melestarikan dan menjaga keberagaman budaya Nusantara dengan pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
“PIK Berbudaya adalah inisiatif yang melahir dari komitmen Agung Sedayu Group untuk turut serta melestarikan, menjaga aneka ragam budaya Nusantara. Ya, tentunya melalui pendekatan yang relevan dengan zaman sekarang ini. Bagi kami, budaya itu bukan cuma simbol, tapi itu adalah identitas, value yang kita tanamkan,” jelasnya.
Melalui kampanye PIK Berbudaya, berbagai kegiatan berbasis sejarah, seni, budaya, kreativitas, desain, kuliner, hingga gaya hidup dikurasi untuk menjadikan kawasan PIK sebagai destinasi yang memiliki cerita dan tidak monoton.
“Setidaknya rupa sehingga menjadikan PIK ini destinasi yang menarik, yang nggak membosankan, punya cerita. Itu adalah tujuan kami lakukan seperti hari ini,” katanya.
Terkait pemberdayaan UMKM dan keberlanjutan, Soesilawati menegaskan PIK Berbudaya melibatkan banyak pihak, mulai dari pekerja seni, komunitas kreatif, hingga UMKM lokal.
“Dalam menjalankan PIK Berbudaya, kami menggandeng banyak pihak. Ya, antara lain pekerja seni, komunitas kreatif, UMKM. Seperti yang kita lihat, produk-produk UMKM yang disajikan di sana, itu adalah hasil karya teman-teman kita,” ujarnya.
Selain itu, kolaborasi juga dilakukan dengan Cisadane Riverwood dalam pengelolaan sampah sungai yang kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah oleh pelaku UMKM.
“Kami berkolaborasi dengan Cisadane Riverwood untuk memilah-milah sampah yang ada di Cisadane. Kami memilah, mensorter, kemudian oleh teman-teman UMKM ini dibuat produk yang value-nya tinggi,” lanjutnya.
Menurutnya, setiap program yang dijalankan diharapkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
“Apapun yang kami lakukan, kita ingin hasilnya nyata untuk masyarakat sekitar. Membawa perubahan, membuat arah hidupnya bisa naik. Itu objektif kita,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kurator pertunjukan Batavia Tales.
“Kami berterima kasih kepada Ibu Miyajo yang telah dengan sepenuh hati mengkurasi, membuat pertunjukan yang demikian bagusnya,” tuturnya.
Melalui Batavia Tales, Soesilawati berharap nilai-nilai sejarah dan budaya Nusantara tidak hanya dikenang, tetapi juga terus diperkenalkan dan dijaga sebagai bagian dari cerita besar yang membentuk masyarakat hari ini dan di masa depan.
Pertunjukan The Sailing of Batavia digelar setiap Sabtu dan Minggu pukul 19.00 WIB di The Port, Batavia PIK. Penonton dapat menyaksikan pertunjukan ini dengan membeli kerajinan tangan UMKM senilai Rp25.000 sebagai tanda masuk. Seluruh apresiasi yang terkumpul akan disalurkan untuk mendukung PIK Berbudaya, sebuah inisiatif pelestarian yang berfokus pada keberlanjutan ekosistem budaya lokal.
