Di tengah hiruk-pikuk kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang berdiri mencolok. Bukan sekadar sebagai tempat ibadah, bangunan ini menyimpan jejak perjuangan kemerdekaan, simbol harmoni antar-etnis, dan cerminan stratifikasi sosial yang membentuk Jakarta tempo dulu.
Melihat latar kolonialnya, terlihat jelas ketimpangan dalam hierarki sosial terkait praktik keagamaan. Menurut pemandu Jakarta Good Guide (JGG), Arfianti, GKI Kwitang berbeda dengan Gereja Immanuel (Willemskerk) di alan Medan Merdeka Timur No.10, Jakarta Pusat.
Gereja Immanuel dalah tempat pejabat dan tokoh Belanda beribadah, sedangkan GKI Kwitang muncul sebagai tempat perlindungan bagi kelas menengah bawah.
“Kayak gereja kedua yang khusus untuk masyarakat yang bukan orang-orang tingkat atas. Karena orang-orang tingkat atas itu ibadahnya di GPIB Immanuel. Jadi yang petinggi-petinggi itu semuanya di sana. Kalau orang biasa, nggak boleh di sana,” ujar Arfianti kepada infoTravel dan wisatawan lain yang mengikuti tur jalan kaki, Senin (5/12/2026).
Menurut pemandu yang biasa disapa Mochi itu, perbedaan tersebut paling mencolok terlihat dari bahasa yang digunakan. Jika GPIB Immanuel menggunakan bahasa Belanda yang eksklusif, GKI Kwitang memilih menggunakan bahasa Melayu agar bisa menjangkau masyarakat luas, termasuk etnis Tionghoa, Jawa, dan Melayu.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Eksistensi gereja ini sudah dimulai sejak 1877. Menariknya, lahan tempat gereja ini berdiri merupakan hasil kedermawanan tokoh-tokoh kolonial.
“Sebenarnya dari umat-umat pada 1800-an. Di zaman-zaman Belanda itu, salah satunya ada yang namanya Nyonya Eighth, sama Nyonya Blancart, satu lagi Nyonya Haflar. Ya, ada tiga nyonya yang ngasih tanah ini buat dibangun gereja,” ujar Arfianti.
Arsitektur GKI Kwitang mencerminkan gaya kolonial Belanda yang disesuaikan dengan iklim tropis, terlihat dari atap yang tinggi dan jendela-jendela besar yang memaksimalkan cahaya serta sirkulasi udara.
Fasad gereja menampilkan kesederhanaan elegan, jauh dari ornamen dramatis Neo-Gothic atau garis geometris Art Deco. Pintu utama yang kokoh, jendela tinggi dengan bingkai kayu, dan ruang utama yang terang menciptakan suasana ibadah yang nyaman, sekaligus menegaskan karakter gereja sebagai pusat komunitas kelas menengah ke bawah pada masanya.
Setiap elemen bangunan, dari salib di atap hingga susunan bangku yang menghadap altar, tidak hanya fungsional, tetapi juga mencerminkan nilai religius dan sosial. Posisi strategis gereja di Kwitang, kawasan yang dulu ramai sebagai pusat perdagangan dan permukiman, membuatnya menjadi landmark sejarah dan budaya, yang tidak hanya dilihat sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai saksi bisu perjalanan masyarakat Jakarta tempo dulu.
Karena nilai sejarahnya yang tinggi, bangunan itu ditetapkan sebagai cagar budaya. Sebagai bangunan cagar budaya maka struktur bangunan itu dilarang keras untuk diubah, baik dari segi fungsi, bentuk, dan bahan materialnya.
“Untuk renovasi, bahan yang digunakan harus sama kayak yang dia pakai semula, jadi emang perawatannya susah,” kata Arfianti.
Hingga kini, GKI Kwitang masih aktif dan digunakan untuk beribadah. Di sini, ada ibadah rutin, perayaan ulang tahun gereja, dan kegiatan jemaat lainnya.
