Pulau es yang sebagian besar tertutup salju dan nyaris tak berpenghuni ini mendadak menjadi pusat perhatian geopolitik dunia. Greenland, wilayah Arktik yang sunyi, sekali lagi ingin dikuasai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Ketertarikan Trump melebarkan wilayah AS hingga ke Greenland itu diucapkan setelah AS melakukan serangan militer ke Venezuela. Tepatnya, setelah Trump menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya kemudian membawa mereka ke New York.
“Kami membutuhkan Greenland dari segi keamanan nasional. Itu sangat strategis. Saat ini, Greenland dipenuhi dengan kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” kata Trump dilansir BBC, Rabu (7/1/2026).
Keinginan Trump untuk mencaplok Greendland itu bukan pertamanya. Pada 2019, saat menjabat sebagai presiden AS pada periode pertama, Trump menyatakan berminat untuk membeli pulau tersebut. Saat itu, permintaan tersebut dibalas bahwa pulau itu tidak dijual.
Trump menghidupkan kembali keinginan itu pada Januari 2025, saat masuk Gedung Putih.
Dikutip dari sejumlah sumber, Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang bukan merupakan sebuah benua. Nggak main-main, luasnya mencapai 2,16 juta kilometer persegi.
Wilayah itu terletak di kawasan Arktik dan secara geografis merupakan bagian dari Amerika Utara. Meski demikian, Greenland berada di bawah kekuasaan Denmark selama hampir 300 tahun, tepatnya sejak 1953.
Jika pulau es kenapa dinamai Greenland? Para peneliti meyakini dulu Greenland memang hijau dengan banyak pepohonan. Bukan 300 tahun atau 500 tahun lampau, Greenland diyakini sebagai pulau yang benar-benar penuh pepohonan pada 2,5 juta tahun lalu.
Versi lain menyebut bahwa penamaan Greenland diberikan oleh seseorang bernama ‘Erik The Red’, seorang penjahat di Islandia dan diasingkan ke sana. Kemudian, dia menyampaikan kabar bahwa pulau yang ditempati sangat hijau dan menarik untuk dikunjungi. Sejak itulah pulau itu disebut dengan Greenland.
Greenland berpenduduk sekitar 56.000 jiwa, mayoritas merupakan penduduk asli Inuit. Sekitar 80 persen wilayah Greenland tertutup lapisan es, sehingga sebagian besar penduduk tinggal di pesisir barat daya, terutama di sekitar ibu kota Nuuk.
Menurut para sejarawan, manusia menempati Greenland sejak sekitar tahun 2500 SM (Sebelum Masehi). Penduduk asli Greenland disebut suku Inuit yang merupakan suku Eskimo. Suku Inuit berasal dari kawasan Amerika Utara, bangsa Viking dari Eropa dan juga dari Asia.
Perekonomian Greenland sangat bergantung pada sektor perikanan serta subsidi tahunan dari pemerintah Denmark.
Dalam beberapa tahun terakhir, Greenland kian menarik perhatian dunia. Mencairnya lapisan es akibat pemanasan global membuka peluang eksploitasi sumber daya alam bernilai tinggi, seperti mineral tanah jarang, uranium, dan bijih besi.
Nah, ketertarikan terhadap sumber daya inilah yang membuat Greenland menjadi rebutan strategis negara-negara besar. Namun, Trump menegaskan bahwa kepentingan AS terhadap Greenland bukan semata soal mineral.
“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional, bukan untuk mineral,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut tak lepas dari posisi strategis Greenland di kawasan Arktik. Dalam beberapa tahun terakhir, China dan Rusia dilaporkan meningkatkan kehadiran dan kemampuan militer mereka di wilayah ini. Laporan dari Arctic Institute bahkan menyerukan agar AS memperkuat posisinya di Arktik guna menandingi rival geopolitiknya.
Kepentingan keamanan AS di Greenland sebenarnya sudah berlangsung lama. Saat Nazi Jerman menduduki Denmark pada Perang Dunia II, AS mengambil alih Greenland dan mendirikan pangkalan militer serta stasiun radio. Setelah perang berakhir, kehadiran militer AS tidak pernah sepenuhnya ditarik.
Saat ini, AS mengoperasikan Pituffik Space Base-sebelumnya dikenal sebagai Pangkalan Udara Thule-yang menjadi bagian penting dari sistem pertahanan Amerika Serikat. Perjanjian pertahanan tahun 1951 dengan Denmark memberi AS hak membangun dan memelihara pangkalan militer di Greenland.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Menurut Marc Jacobsen, dosen di Royal Danish Defence College, posisi Greenland sangat krusial dalam konteks pertahanan global.
“Jika Rusia mengirim misil ke Amerika Serikat, rute terpendek senjata nuklir adalah melalui Kutub Utara dan Greenland,” ujar Jacobsen.
Upaya Amerika Serikat untuk menguasai Greenland sebenarnya bukan hal baru. Pada 1867, setelah membeli Alaska dari Rusia, AS sempat bernegosiasi untuk membeli Greenland dari Denmark, tetapi gagal. Kemudian pada 1946, AS kembali menawarkan 100 juta dolar, namun pemerintah Denmark menolaknya.
Meski secara geografis lebih dekat ke Amerika Utara, Greenland telah berada di bawah kendali Denmark sejak abad ke-18. Awalnya dikelola sebagai koloni, pada 1953 Greenland resmi menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan penduduknya memperoleh kewarganegaraan Denmark.
Pada 1979, melalui referendum, Greenland mendapatkan status otonomi, sehingga dapat mengendalikan sebagian besar kebijakan dalam negeri. Namun, urusan luar negeri dan pertahanan tetap berada di tangan Denmark.
Transportasi di Greenland sangat unik karena kondisi geografisnya yang ekstrem. Sekitar 80 persen wilayah pulau ini tertutup es, sehingga tidak ada jaringan jalan yang menghubungkan kota-kota utama. Akibatnya, transportasi udara dan laut menjadi tulang punggung mobilitas di Greenland.
Pesawat kecil dan helikopter digunakan untuk menghubungkan kota dan permukiman terpencil, dengan Air Greenland sebagai maskapai utama. Bandara penting seperti Nuuk, Kangerlussuaq, dan Ilulissat menjadi hub bagi penerbangan domestik dan internasional. Helikopter juga berfungsi sebagai angkutan harian bagi desa-desa yang tidak memiliki landasan pacu.
Selain udara, transportasi laut memegang peran penting, terutama saat musim panas ketika laut tidak membeku. Kapal feri menghubungkan kota-kota pesisir, sedangkan kapal kargo memasok bahan pokok dan BBM. Kapal pesiar juga menjadi pintu masuk utama wisatawan.
Sementara itu, transportasi darat sangat terbatas, hanya ada di dalam kota untuk mobil, bus kecil, dan taksi, karena tidak ada jalan yang menghubungkan kota. Semua tertutup es.
Di wilayah utara dan pedalaman, kereta anjing masih digunakan, terutama saat musim dingin, sebagai alat transportasi sekaligus bagian dari tradisi Inuit.
Greenland dengan dominasi pulau es itu memiliki wisata yang unik dan menarik bagi mereka pencinta alam dan petualangan ekstrem. Wisata alamnya begitu dramatis, mulai dari gletser raksasa, fjord, hingga pegunungan yang tertutup salju sepanjang tahun.
Salah satu destinasi yang paling terkenal adalah Ilulissat Icefjord adalah fjord (teluk berbentuk panjang dan sempit) yang dipenuhi gunung es dari gletser Sermeq Kujalleq, salah satu gletser paling aktif dan cepat bergerak di dunia. Lokasinya sekitar 250km utra Nuuk, dekat Illulissat di pesisir barat Greenland.
Gletser itu secara terus-menerus memecah es raksasa yang kemudian mengapung di fjord dan mengalir ke Laut Baffin. Fenomena ini menciptakan pemandangan yang spektakuler, bongkahan es raksasa terapung di air biru jernih, dengan suara retakan es yang dramatis.
UNESCO menetapkan Ilulissat Icefjord sebagai situs Warisan Dunia pada 2004 karena pentingnya sebagai contoh perubahan iklim dan dinamika gletser. Wisatawan dapat menyaksikan gunung es yang pecah dan terapung di laut, fenomena yang jarang ditemukan di tempat lain di dunia.
Selain pemandangan alam, Greenland juga memiliki keunikan budaya. Penduduk asli Inuit masih melestarikan tradisi mereka, seperti berburu, kerajinan tangan, dan kereta anjing, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kota Nuuk, ibu kota Greenland, juga memiliki museum, galeri seni, dan kuliner khas Greenland.
Saksikan Live infoPagi:
Tentang Greenland Pulau Es di Arktik
Lapisan Es Mencair, Kekayaan SDA Terkuak
Daerah Otonomi Denmark
Transportasi dan Bandara di Greenland
Wisata Greenland
Upaya Amerika Serikat untuk menguasai Greenland sebenarnya bukan hal baru. Pada 1867, setelah membeli Alaska dari Rusia, AS sempat bernegosiasi untuk membeli Greenland dari Denmark, tetapi gagal. Kemudian pada 1946, AS kembali menawarkan 100 juta dolar, namun pemerintah Denmark menolaknya.
Meski secara geografis lebih dekat ke Amerika Utara, Greenland telah berada di bawah kendali Denmark sejak abad ke-18. Awalnya dikelola sebagai koloni, pada 1953 Greenland resmi menjadi bagian dari Kerajaan Denmark dan penduduknya memperoleh kewarganegaraan Denmark.
Pada 1979, melalui referendum, Greenland mendapatkan status otonomi, sehingga dapat mengendalikan sebagian besar kebijakan dalam negeri. Namun, urusan luar negeri dan pertahanan tetap berada di tangan Denmark.
Daerah Otonomi Denmark
Transportasi di Greenland sangat unik karena kondisi geografisnya yang ekstrem. Sekitar 80 persen wilayah pulau ini tertutup es, sehingga tidak ada jaringan jalan yang menghubungkan kota-kota utama. Akibatnya, transportasi udara dan laut menjadi tulang punggung mobilitas di Greenland.
Pesawat kecil dan helikopter digunakan untuk menghubungkan kota dan permukiman terpencil, dengan Air Greenland sebagai maskapai utama. Bandara penting seperti Nuuk, Kangerlussuaq, dan Ilulissat menjadi hub bagi penerbangan domestik dan internasional. Helikopter juga berfungsi sebagai angkutan harian bagi desa-desa yang tidak memiliki landasan pacu.
Selain udara, transportasi laut memegang peran penting, terutama saat musim panas ketika laut tidak membeku. Kapal feri menghubungkan kota-kota pesisir, sedangkan kapal kargo memasok bahan pokok dan BBM. Kapal pesiar juga menjadi pintu masuk utama wisatawan.
Sementara itu, transportasi darat sangat terbatas, hanya ada di dalam kota untuk mobil, bus kecil, dan taksi, karena tidak ada jalan yang menghubungkan kota. Semua tertutup es.
Di wilayah utara dan pedalaman, kereta anjing masih digunakan, terutama saat musim dingin, sebagai alat transportasi sekaligus bagian dari tradisi Inuit.
Transportasi dan Bandara di Greenland
Greenland dengan dominasi pulau es itu memiliki wisata yang unik dan menarik bagi mereka pencinta alam dan petualangan ekstrem. Wisata alamnya begitu dramatis, mulai dari gletser raksasa, fjord, hingga pegunungan yang tertutup salju sepanjang tahun.
Salah satu destinasi yang paling terkenal adalah Ilulissat Icefjord adalah fjord (teluk berbentuk panjang dan sempit) yang dipenuhi gunung es dari gletser Sermeq Kujalleq, salah satu gletser paling aktif dan cepat bergerak di dunia. Lokasinya sekitar 250km utra Nuuk, dekat Illulissat di pesisir barat Greenland.
Gletser itu secara terus-menerus memecah es raksasa yang kemudian mengapung di fjord dan mengalir ke Laut Baffin. Fenomena ini menciptakan pemandangan yang spektakuler, bongkahan es raksasa terapung di air biru jernih, dengan suara retakan es yang dramatis.
UNESCO menetapkan Ilulissat Icefjord sebagai situs Warisan Dunia pada 2004 karena pentingnya sebagai contoh perubahan iklim dan dinamika gletser. Wisatawan dapat menyaksikan gunung es yang pecah dan terapung di laut, fenomena yang jarang ditemukan di tempat lain di dunia.
Selain pemandangan alam, Greenland juga memiliki keunikan budaya. Penduduk asli Inuit masih melestarikan tradisi mereka, seperti berburu, kerajinan tangan, dan kereta anjing, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kota Nuuk, ibu kota Greenland, juga memiliki museum, galeri seni, dan kuliner khas Greenland.
Saksikan Live infoPagi:
