Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Saya mengunjungi Hainan, provinsi paling Selatan di China, hanya 4 jam saja terbang dari Jakarta. Ibukotanya adalah Haikou, dimana salah satu obyek wisata utamanya adalah Kota Tua.
Nama lengkap kota tua itu adalah Qilou Old Street. Kota tua ini diisi bangunan bergaya Eropa dan Asia, tetapi juga ada pengaruh India dan Arab.
Konon sejarahnya dapat ditarik sampai ke 2000 tahun yang lalu, khususnya bila melihat pola arsitektur Yunani di sana yang diperkenalkan oleh para pedagang di era 1820-1840, dan juga arsitektur Baroque.
Kini ada sekitar 200 bangunan yang ada di sana. Sebagian tertulis sejarahnya. Salah satunya adalah penerbitan koran “jadul”, yang didepannya kita bisa berfoto sehingga “seakan-akan” jadi berita utama koran (seperti foto di bawah ini).
Saya juga sempat melihat Tin Hau Temple di sana, yang konon pertama kali dulunya dibangun di dinasti Yuan pada periode tahun 1271-1308.
Dari Haikou, saya melanjutkan perjalanan ke Sanya. Di perjalanan, sempat singgah di destinasi KW-nya Bali yang disebut “Bali Village”. Konon, tempat ini dulu dibuat waktu ada kepindahan warga dari Indonesia ke Hainan.
Di sepanjang jalan hari Haikou ke Sanya maka seperti kita melintas di Indonesia saja, pohon-pohon di kiri kanan jalan, sawah dan ladang serta petani dengan kerbau dan sapinya.
Yang menarik, sawah dan ladang semua tertata amat rapi, begitu juga saluran air dan bahkan tepian sungai-sungai ditata baik. Jadi kemajuan China bukan hanya di perkotaan tapi juga sudah sampai pedesaan.
Kota Sanya dikenal sebagai “Hawaii-nya Tiongkok” atau “Florida-nya Tiongkok” karena daya tarik tropis dan sebagai tempat tujuan pensiunan di musim dingin. Juga ada berbagai pantai indah.
Di Sanya saya menginap di Sanya Gionee International Hotel. Bangunannya unik seperti pohon raksasa, sehingga dikenal juga sebagai Grand Tree Hotel. Di kompleksnya juga ada bangunan Beauty Crown Grand Theater-yang di atasnya ada bentuk mahkota.
Ini tempat mereka sebagai tuan rumah final Miss World pada tahun 2003, 2004, 2005, 2007, 2010, 2015, 2017, dan 2018. Di kota Sanya juga ada populasi muslim dari Suku Hui. Ada masjid juga disini.
Saya sedang di Sanya, kota di selatan Pulau Hainan. Salah satu obyek wisata Sanya adalah pantai, salah satunya Dadonghai Bay. Suasana seperti pantai Kuta, hanya saja tidak ada ombak untuk surfing, tetapi pantainya amat bersih dan tempat jalan-jalan serta restauran dll. tertata amat rapi, nampaknya bisa dicontoh oleh Bali dan tempat wisata pantai lain kita.
Juga ada pantai yang disebut Taman Ujung Dunia (Tianya Haijiao). Ini adalah salah satu bagian paling Selatan dari Pulau Hainan dan juga dari China. Mungkin sedikit banyak seperti Tanjung Harapan di Afrika Selatan, yang banyak mengira ujung paling Selatan benua Afrika, walaupun sebenarnya ujung paling barat daya Afrika.
Seperti kota-kota lain di China, maka Sanya juga banyak sekali sepeda motor listrik. Selalu ada tiga jalur, pertama jalur mobil, lalu jalur motor listrik dan ke tiga jalur pejalan kaki.
Yang menarik, motor listrik kalau mau nyebrang harus ikut zebra cross bersama pejalan kaki. Kalau di persimpangan besar maka ada tempat menunggu lampu merah bagi motor listrik ini, dan sebagian diberi atap, jadi si pemotor nggak kepanasan di zebra cross waktu tunggu lampu lalu lintas jadi hijau.
Di sebagian besar toko dan restoran di Sanya maka di bawah tulisan China selalu ada tulisan bahasa Rusianya, karena banyak orang Rusia di sini. Bahkan, di pantai Dadonghai maka pengumuman keselamatan pantai diberikan dalam dua bahasa, China dan Rusia, sehingga selain Xie Xie maka terdengar juga Spasiba, terimakasih dalam bahasa China dan Rusia.
——-
Artikel ini ditulis oleh Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University Brisbane.







