Toko Populer di kawasan Pasar Baru merupakan milik Tio Tek Hong yang berdiri sejak tahun 1902. Mari simak jejak sejarah di balik toko ini.
Pada masa itu, toko ini menjual berbagai alat musik dan kebutuhan rumah tangga, menjadikannya sebagai toko paling lengkap sekaligus department store pertama di Indonesia.
“Bahkan Tio Tek Hong menjadikan rumahnya sebagai department store pertama di Indonesia, awalnya memang dari sini,” ujar Mutia Az Zahra, pemandu wisata Pasar Baru.
Keunikan lain dari Toko Populer adalah penerapan sistem harga tetap. “Kalau toko lain masih pakai sistem tawar-menawar, hanya dia yang sudah menetapkan harga pasti atau fixed price,” tutur Muti, sapaan akrabnya.
Tempat ini juga mencatat sejarah penting karena menjadi lokasi rekaman perdana lagu kebangsaan Indonesia Raya.
“Saking takutnya dengan masa penjajahan kala itu, alat pemutarnya selalu ia bawa ke mana-mana. Bahkan rekaman lagu Indonesia Raya pertama kali dilakukan di sini oleh dia sendiri menggunakan piringan hitam,” tambah Muti.
Nama Toko Populer diberikan karena ketenarannya di masa lalu. Kini, bangunan bersejarah itu masih berfungsi sebagai toko, meski hanya menjual berbagai jenis tas.
Pada masa rekaman “Indonesia Raya”, sekitar tahun 1920-an, Toko Populer dikenal sebagai toko modern milik Tio Tek Hong yang berlokasi tepat di depan Toko Buku Gramedia Pasar Baru.
Toko ini menjual perlengkapan musik seperti gramofon dan piringan hitam, simbol kemewahan pada zamannya. Setelah berpindah tangan ke Yo Kim Tjan, toko ini turut melahirkan Orkes Musik Populer, kelompok musik yang mengiringi WR Supratman dalam rekaman pertama Indonesia Raya.
Secara historis, lagu Indonesia Raya dikenal karena diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II tahun 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Namun, rekaman aslinya sudah dilakukan setahun sebelumnya, yakni pada 1927 di Toko Populer, Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Bangunan toko seluas 1.700 meter persegi itu awalnya dimiliki oleh Tio Tek Hong, sosok yang juga dikenal lewat karya tulisnya dalam buku ‘Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959.’
Selain menjual alat musik, Toko Populer juga menyediakan perlengkapan berburu seperti senapan, amunisi, topi, dan berbagai barang impor asal Eropa. Pada masa akhir 1800-an hingga 1950-an, kawasan Pasar Baru memang dikenal sebagai pusat belanja mewah barang-barang Eropa.
Tio Tek Hong bersama saudaranya, Tio Tek Tjoe, merupakan pelopor sistem harga tetap (vaste prijs) yang menghapus tradisi tawar-menawar di toko. Gerai pertama mereka dibuka di Jalan Pasar Baru No. 93 pada tahun 1902.
Menariknya, Toko Populer Tio Tek Hong juga menjadi pelopor kebijakan tutup toko setiap hari Minggu dan hari besar keagamaan, tradisi yang kemudian diikuti oleh banyak pengusaha lain.
Seiring berkembangnya usaha, pada 1904 Tio Tek Hong mulai mengimpor fonograf dan gramofon dari Eropa beserta piringan hitamnya. Dari sinilah tren musik di Hindia Belanda mulai tumbuh pesat, dengan berbagai lagu Melayu, keroncong, dan tambulan dijual melalui Toko Populer Tio Tek Hong, menandai awal “demam musik” di Nusantara.
Hingga kini, Toko Populer di Pasar Baru masih berdiri dan menjadi saksi bisu perkembangan Jakarta dari masa kolonial hingga kini. Di balik bangunannya yang sederhana, tersimpan sejarah besar lahirnya lagu kebangsaan Indonesia.
Dari toko milik Tio Tek Hong inilah, semangat kemerdekaan pertama kali direkam dalam nada, menjadikannya bagian penting dari perjalanan musik dan nasionalisme Indonesia.






