Jembatan gantung yang menjadi ikon baru di kawasan Alun-Alun Barat (Albar) Kota Depok, Jawa Barat, kini sepi pengunjung. Jembatan yang menghubungkan wilayah Sawangan dan Bojongsari (Sabojong) tersebut ditutup total selama hampir dua bulan terakhir akibat kerusakan pada awal Desember 2025.
Penutupan akses jembatan yang juga dikenal sebagai Jembatan Muara Tujuh Muara ini dikeluhkan oleh masyarakat sekitar. Paryono (51), tokoh masyarakat setempat sekaligus pengurus Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC), menyayangkan lambatnya penanganan dari pemerintah daerah.
Menurut Paryono, kerusakan jembatan tersebut sebenarnya tergolong ringan. Kerusakan terjadi akibat sebuah pohon besar yang menimpa kawat seling penahan angin (tali angin) saat hujan deras dan angin kencang sekitar tanggal 6 Desember lalu.
“Sebenarnya kalau diibaratkan kaki cuma satu kelingking yang keseleo, mungkin hanya sebentar juga dibawa ke tukang urut sembuh, nggak harus direkayasa macam-macam gitu,” ujar Paryono kepada infoTravel di titik kawasan di ujung Jembatan Juara, kawasan Bojongsari Lama RT.1/ RW. 14, Kota Depok, Jawa Barat.
Paryono menjelaskan bahwa struktur utama jembatan seperti tiang penyangga (pylon) masih kokoh dan tidak mengalami kerusakan. Hanya bagian penyangga tali angin yang sedikit miring (doyong) akibat tertimpa pohon. Namun, ia heran mengapa perbaikan memakan waktu hingga berbulan-bulan.
“Jadi sudah sampai satu bulan lebih ini saya lihat memang belum ada penanganan. Saya juga beberapa kali sudah telepon Kasie LHK, waktu saya telepon pertama dia bilang dua-tiga hari mungkin bisa dikerjakan karena kita lihat memang kerusakannya tidak terlalu parah. Cuma sampai sebulan lebih ini kok belum ada penanganan. Kita juga masyarakat semua bertanya-tanya, kok lambat?” tambahnya.
Penutupan Jembatan Sabojong berdampak signifikan bagi pariwisata lokal. Jembatan ini biasanya ramai dipadati pengunjung dari Jabodetabek, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, baik untuk berolahraga maupun sekadar menikmati pemandangan di atas jembatan.
“Nggak cuma mereka yang datang dari Jabodetabek untuk datang berkunjung ke alun-alun aja, tapi view-nya memang jembatan ini juga. Satu sisi Sabtu-Minggu itu jadi ajang untuk berolahraga juga, untuk perlintasannya lewat jembatan gantung. Jadi memang kalau buat saya sendiri selaku masyarakat sekitaran situ, masyarakat sekitar jembatan ini, ada satu sisi itu ya pemanfaatan secara individu masyarakat itu untuk berolahraga dan sebagainya. Di sisi lain juga banyak pedagang-pedagang usaha kecil menengah seperti kuliner yang ada di pinggir situ ini berpengaruh dengan lamanya tutup jembatan. Pengunjung juga semakin berkurang karena akses jembatannya selalu ditutup, sudah sebulan ini,” jelas Paryono.
Jembatan ini tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai titik akses penting bagi warga setempat, memungkinkan mereka untuk saling mengunjungi antara Sawangan dan Bojongsari tanpa harus melalui rute memutar yang memakan waktu.
Paryono bersama warga mendesak Pemerintah Kota Depok, khususnya DLHK dan pengelola Alun-Alun Barat, untuk bertindak cepat. Paryono menekankan bahwa jembatan ini dibangun menggunakan dana anggaran daerah/APBD dan masih dalam masa garansi kontraktor, mengingat usianya baru sekitar satu tahun.
“Ya sebenarnya secara garansi perawatan mungkin masih ada lah, kan masih belum setahun, masih ada garansi kayanya. Jadi jangan menunggu istilahnya masyarakat ramai akhirnya buat framing yang macam-macam. Hingga akhirnya yang tadinya pengunjung banyak hadir datang ke wilayah kita dan memang sangat membantu dari sisi ekonomi masyarakat, mereka dagang mulai ada peningkatan,” tegasnya.
Ia membandingkan dengan kejadian sebelumnya saat angin puting beliung sempat mematahkan pegangan seling jembatan, namun perbaikan saat itu dilakukan dengan sangat cepat, tidak sampai satu minggu.
“Macem angin puting beliung, memang sempat memutuskan itu juga apa pegangan selingnya. Bukan karena tertimpa pohon, karena memang dorongan angin yang kuat hingga terlepas, patah ya. Tapi itu nggak sampai seminggu sudah ada perbaikan. Cuma beberapa hari ada perbaikan ya selesai. Cuma untuk yang ini memang sudah hampir sebulan lebih, hampir dua bulan,” ujarnya.
“Kalau perlu rapat di bawah pohon jati, ya kalau perlu rapat di bawah pohon, besok kerjain. Kan gitu. Nah ini kenapa harus lama? Masyarakat sudah sangat menanti jembatan ini dibuka kembali,” pungkas Paryono.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.






