Di kawasan PIK 2, traveler bisa menemukan karya seni anyaman asli Indonesia dalam bentuk berbagai produk menarik. Seperti apa penampakannya?
Di tengah pesona arsitektur tropis kontemporer yang sering ditampilkan di resor mewah, tidak dapat diabaikan pengaruh penting bahan sintetis yang menggabungkan keindahan alam dengan ketahanan teknologi.
infoTravel berkunjung ke Viro yang didirikan oleh PT Polymindo Permata, sebuah perusahaan Indonesia yang telah beroperasi sejak 1989. Lokasinya berada di Indonesia Design District (IDD) PIK 2, Jalan MH. Thamrin, Blok 61, Rasuna Said, Unit S11, Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten.
Kiprah perusahaan lokal ini ternyata sudah sampai di dunia internasional. “Jadi kita ini lebih ke ekspor dibanding ke lokal, domestik” ujar Adinda Fatya Pramesti selaku Sales Gallery Viro PIK 2 dalam perbincangan dengan infoTravel, Jumat (5/12) lalu.
Perjalanan Viro pun makin berkembang seiring berjalannya waktu. Awalnya, fokus utama perusahaan adalah pemasaran bahan serat sintetis mentah (raw material) dan saat ini sudah ada produk koleksi seninya.
“Sales kita itu pertama kali kita jualan itu per kilo. Ini kan sudah berbentuk artwork. Kalau dulu itu jualnya per fibers. Per bahan kiloan,” jelas dia.
Perubahan signifikan terjadi pada tahun 2000-an, ditandai dengan aliansi strategis Viro dengan Rehau, pemain utama di pasar Jerman.
Kerja sama ini menyebabkan pergeseran, Rehau bertanggung jawab atas distribusi bahan baku untuk sektor furnitur, sementara Viro memulai pengembangan penawaran arsitekturnya sendiri.
Produk pertama yang dihasilkan dari inovasi ini adalah Virothatch (atap dari serat sintetis), yang kini menjadi salah satu produk andalan mereka.
Teknologi Viro menonjol sebagai salah satu keunggulan utamanya. Dengan memanfaatkan teknologi Jerman, Viro telah berhasil mengembangkan bahan sintetis yang terbuat dari Polietilen Berdensitas Tinggi atau High Density Polyethylene (HDPE) yang sangat mirip dengan bahan alami.
Adinda menjelaskan perbedaan paling signifikan terletak pada ketahanannya. “Awalnya biji plastik HDPE, kita extrude di mesin extrude bareng sama warnanya. Warnanya itu pellet to pellet. Jadi langsung dicampur bukan di-coating” jelasnya.
Metode pencampuran yang sederhana ini memastikan warna meresap secara mendalam ke dalam material. Berbeda dengan metode coating yang cenderung cepat rusak, serat Viro dikenal tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Saat menggunakan bahan alami, perawatan sering menjadi masalah utama bagi arsitek dan pemilik properti. Dengan filosofi Zero Maintenance-nya, Viro mengatasi masalah ini.
“Maintenance kita zero maintenance. Cuma disiram air, enggak rusak,” tambahnya.
Perpaduan antara keindahan alami, teknologi tahan pudar, dan perawatan yang mudah. Telah memungkinkan Viro untuk berkembang pesat, membuktikan bahwa produk yang diproduksi di Indonesia dapat bersaing dan sukses di pasar internasional.








