Transjakarta melayani perjalanan penumpang selama 22 tahun pada 2026. Dari satu koridor busway hingga jadi andalan transportasi publik berkelanjutan ibu kota.
Januari 2004 menjadi tonggak lahirnya Transjakarta. Tepat 22 tahun lalu, sistem bus rapid transit (BRT) pertama di Indonesia itu mulai beroperasi dengan satu koridor Blok M-Kota.
Dalam perjalanannya, Transjakarta tumbuh menjadi tulang punggung transportasi publik Jakarta dengan tantangan yang semakin kompleks. Tak hanya melayani penumpang Jakarta, tetapi juga ke Bogor, Depok, dan Bekasi.
“Kalau kita lihat, apa yang dilakukan para perintis dan pionir, termasuk Bang Yos (Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta 1997-2007) dengan busway atau Transjakarta waktu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tantangan yang kita hadapi saat ini,” ujar Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza dalam Dialog Refleksi 21 Tahun Transjakarta, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, Transjakarta lahir di tengah keterbatasan anggaran dan berbagai pertentangan, berbeda dengan kondisi saat ini ketika sistem sudah jauh lebih mapan.
Welfizon menegaskan sejak awal Transjakarta membawa banyak harapan publik. Namun dalam perjalanannya, berbagai penyesuaian harus dilakukan seiring perubahan konteks kota.
“Yang paling penting, Transjakarta ini benar-benar moda yang dimiliki oleh publik. Rasa memiliki masyarakat itu sangat besar,” katanya.
Berdasarkan data operasional yang ditarik sejak 2014, saat Transjakarta bertransformasi menjadi PT, jumlah pelanggan harian mengalami peningkatan signifikan.
“Di tahun 2014, kita melayani sekitar 300 ribu perjalanan per hari. Waktu 2015-2016, angka 300 ribu itu sudah menjadi sesuatu yang disyukuri,” kata Welfizon.
Kini, Transjakarta melayani sekitar 1,4 juta perjalanan per hari melalui 233 rute. Namun, pandemi COVID-19 menjadi ujian berat. Sebelum pandemi, jumlah pelanggan sempat mencapai satu juta perjalanan per hari.
“Pada saat COVID, angkanya turun jauh, tinggal sekitar 83 ribu perjalanan per hari, hanya sekitar delapan persen,” ujarnya.
Usai pandemi, Transjakarta memasuki fase pertumbuhan kedua hingga kembali mencapai 1,4 juta perjalanan harian. Welfizon menjelaskan, periode 2014-2020 merupakan fase transformasi yang ditandai dengan ekspansi layanan dan diversifikasi moda.
“Di fase ini fokus kami pada pembenahan sarana, terutama bus. Alhamdulillah, sekarang kita sudah bisa sejajar dengan kota-kota lain di dunia, termasuk mengoperasikan bus listrik,” katanya. Hingga kini, Transjakarta telah mengoperasikan 470 bus listrik.
Selain itu, Transjakarta juga memperluas jaringan melalui rute non-BRT, pengoperasian Mikrotrans, hingga peresmian Koridor 13 sebagai satu-satunya koridor BRT layang.
“Tonggak pencapaian penting lainnya adalah Asian Games 2018. Saat itu MRT dan LRT belum beroperasi dan Transjakarta mengambil peranan besar,” ujar Welfizon.
Memasuki fase usai pandemi, fokus bergeser ke peningkatan kualitas infrastruktur, khususnya halte. Dari total 271 halte, baru sekitar 46 halte yang direvitalisasi.
“Kami menyadari, Transjakarta masih punya PR besar terkait infrastruktur. Banyak halte yang masih berbentuk bus stop sederhana,” katanya.
Digitalisasi menjadi pilar penting lain. Mengelola lebih dari 5.000 bus setiap hari membutuhkan sistem berbasis teknologi.
“Sekarang di command center kami sudah mulai menerapkan AI. CCTV di bus bisa mendeteksi kondisi pramudi, misalnya saat mulai mengantuk, dan langsung terhubung ke pusat kendali,” kata dia.
Di luar layanan utama, Transjakarta juga mengembangkan bisnis non-farebox. Salah satunya melalui layanan Open Top Tour yang mengusung konsep urban tourism. “Kami ingin mengangkat sudut-sudut Jakarta sebagai pengalaman baru bagi masyarakat dan wisatawan,” kata Welfizon.
Penguatan SDM dilakukan melalui pendirian Transjakarta Academy.
“Sopir bus itu belum punya sekolah khusus, padahal risikonya sangat tinggi. Karena itu kami membangun Transjakarta Academy agar profesi pramudi diperlakukan setara dengan moda lain,” ujarnya.
Bahkan, Transjakarta menyiapkan 20 pramudi terbaik untuk mengikuti pelatihan di Jepang guna membawa standar keselamatan baru.
Saat ini, sekitar 66 persen pengguna Transjakarta adalah perempuan, dan lebih dari 80 persen berasal dari generasi Z dan milenial.
“Animo generasi muda terhadap transportasi publik cukup tinggi. Banyak talenta terbaik yang ingin berkarier di Transjakarta karena dampak sosialnya besar,” tutur Welfizon.
Ke depan, Transjakarta mengusung strategi 3S, service, strategic partnership, dan sustainability.
“Pelayanan publik harus dikelola secara profesional, layaknya perusahaan swasta, dengan pelanggan sebagai fokus utama,” katanya.
Transjakarta juga membuka kolaborasi strategis dengan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra bisnis, serta memperkuat pilar keberlanjutan melalui kerangka ESG.
Welfizon menegaskan pentingnya co-creation dengan masyarakat. “Value itu tidak hanya diciptakan dari internal, tapi juga dari masukan, feedback, bahkan komplain masyarakat,” ujarnya. Termasuk dalam penanganan isu pelecehan seksual di transportasi publik, Transjakarta menggandeng berbagai lembaga untuk memperbaiki layanan dan memberikan efek jera bagi pelaku.
“Dengan perjalanan 22 tahun ini, tantangan ke depan adalah bagaimana membangun Transjakarta agar lebih berkelanjutan dan terus tumbuh bersama masyarakat,” kata Welfizon.
Transjakarta tak lagi sekadar simbol busway pertama di Indonesia, melainkan cerminan perjalanan Jakarta membangun sistem transportasi publik yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Transjakarta terus menjadi milik bersama dan bagian penting dari masa depan Jakarta.
Masa Pandemi Covid-19
Kini, Transjakarta melayani sekitar 1,4 juta perjalanan per hari melalui 233 rute. Namun, pandemi COVID-19 menjadi ujian berat. Sebelum pandemi, jumlah pelanggan sempat mencapai satu juta perjalanan per hari.
“Pada saat COVID, angkanya turun jauh, tinggal sekitar 83 ribu perjalanan per hari, hanya sekitar delapan persen,” ujarnya.
Usai pandemi, Transjakarta memasuki fase pertumbuhan kedua hingga kembali mencapai 1,4 juta perjalanan harian. Welfizon menjelaskan, periode 2014-2020 merupakan fase transformasi yang ditandai dengan ekspansi layanan dan diversifikasi moda.
“Di fase ini fokus kami pada pembenahan sarana, terutama bus. Alhamdulillah, sekarang kita sudah bisa sejajar dengan kota-kota lain di dunia, termasuk mengoperasikan bus listrik,” katanya. Hingga kini, Transjakarta telah mengoperasikan 470 bus listrik.
Selain itu, Transjakarta juga memperluas jaringan melalui rute non-BRT, pengoperasian Mikrotrans, hingga peresmian Koridor 13 sebagai satu-satunya koridor BRT layang.
“Tonggak pencapaian penting lainnya adalah Asian Games 2018. Saat itu MRT dan LRT belum beroperasi dan Transjakarta mengambil peranan besar,” ujar Welfizon.
Memasuki fase usai pandemi, fokus bergeser ke peningkatan kualitas infrastruktur, khususnya halte. Dari total 271 halte, baru sekitar 46 halte yang direvitalisasi.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
“Kami menyadari, Transjakarta masih punya PR besar terkait infrastruktur. Banyak halte yang masih berbentuk bus stop sederhana,” katanya.
Digitalisasi menjadi pilar penting lain. Mengelola lebih dari 5.000 bus setiap hari membutuhkan sistem berbasis teknologi.
“Sekarang di command center kami sudah mulai menerapkan AI. CCTV di bus bisa mendeteksi kondisi pramudi, misalnya saat mulai mengantuk, dan langsung terhubung ke pusat kendali,” kata dia.
Di luar layanan utama, Transjakarta juga mengembangkan bisnis non-farebox. Salah satunya melalui layanan Open Top Tour yang mengusung konsep urban tourism. “Kami ingin mengangkat sudut-sudut Jakarta sebagai pengalaman baru bagi masyarakat dan wisatawan,” kata Welfizon.
Penguatan SDM dilakukan melalui pendirian Transjakarta Academy.
“Sopir bus itu belum punya sekolah khusus, padahal risikonya sangat tinggi. Karena itu kami membangun Transjakarta Academy agar profesi pramudi diperlakukan setara dengan moda lain,” ujarnya.
Bahkan, Transjakarta menyiapkan 20 pramudi terbaik untuk mengikuti pelatihan di Jepang guna membawa standar keselamatan baru.
Saat ini, sekitar 66 persen pengguna Transjakarta adalah perempuan, dan lebih dari 80 persen berasal dari generasi Z dan milenial.
“Animo generasi muda terhadap transportasi publik cukup tinggi. Banyak talenta terbaik yang ingin berkarier di Transjakarta karena dampak sosialnya besar,” tutur Welfizon.
Ke depan, Transjakarta mengusung strategi 3S, service, strategic partnership, dan sustainability.
“Pelayanan publik harus dikelola secara profesional, layaknya perusahaan swasta, dengan pelanggan sebagai fokus utama,” katanya.
Transjakarta juga membuka kolaborasi strategis dengan pemerintah, pelaku usaha, dan mitra bisnis, serta memperkuat pilar keberlanjutan melalui kerangka ESG.
Welfizon menegaskan pentingnya co-creation dengan masyarakat. “Value itu tidak hanya diciptakan dari internal, tapi juga dari masukan, feedback, bahkan komplain masyarakat,” ujarnya. Termasuk dalam penanganan isu pelecehan seksual di transportasi publik, Transjakarta menggandeng berbagai lembaga untuk memperbaiki layanan dan memberikan efek jera bagi pelaku.
“Dengan perjalanan 22 tahun ini, tantangan ke depan adalah bagaimana membangun Transjakarta agar lebih berkelanjutan dan terus tumbuh bersama masyarakat,” kata Welfizon.
Transjakarta tak lagi sekadar simbol busway pertama di Indonesia, melainkan cerminan perjalanan Jakarta membangun sistem transportasi publik yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Transjakarta terus menjadi milik bersama dan bagian penting dari masa depan Jakarta.
