Monyet-monyet di Cagar Alam Depok atau Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas dulu dikenal gemar menonton bola dan mengamati aktivitas warga dari balik pepohonan. Kisah unik itu tinggal kenangan, sekaligus menjadi pengingat perubahan habitat dan harapan Yayasan Lestari Cagar Alam (YLCC) untuk menjaga sisa cagar alam di tengah kota.
Asal mula Cagar Alam Depok atau kini dinamai Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas yang ada di tengah permukiman warga bikin penasaran. Salah yang diyakini oleh warga sekitar adalah hutan dengan tanaman tua seluas 7 hektare di Jalan Raya Cagar Alam No 54, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat itu merupakan tinggalan Meneer Belanda Conelis Chastelein. Dia sosok penting masyarakat Depok Belanda.
Boy Loen, koordinator Divisi Sejarah di Yayasan Cornelis Chastelein (YLCC), menceritakan kisah tentang hutan itu. Dia menggambarkan Cagar Alam Depok itu sebagai komitmen sejati terhadap ekologi dan komunitas Depok.
Boy Loen menjelaskan bahwa hutan yang itu dulu memiliki luas 12 hektar dan terbentuk berkat niat Chastelein, seorang pejabat tinggi VOC yang dikenal karena penentangannya terhadap perbudakan. Sebelum wafat, Chastelein membebaskan budaknya dan meninggalkan 1.244 hektar tanah, yang mencakup kawasan hutan yang kini dikenal sebagai Tahura Pancoran Mas.
“Chastelein dalam wasiatnya mengatakan hutan yang seluas 12 hektar itu didedikasikan ya untuk penduduk Depok. Selain untuk menjaga keseimbangan ekologi, hutan itu juga sebagai hutan budaya dan kawasan tanaman herbal. Nah, itu yang tertua, yang pertama memang. Dan orang yang pertama menyerahkan tanah milik pribadinya menjadi hutan, itu adalah Cornelis Chastelein,” ujar Boy saat dihubungi infoTravel, Rabu (21/1/2026).
Dia menekankan bahwa Chastelein adalah orang pertama di Asia yang membebaskan perbudakan dan memberikan tanah pribadi menjadi hutan lindung. Hutan itu memang tidak selamanya terawat, tetapi dalam hutan itu hidup berbagai flora dan fauna. SAlah satunya monyet.
Nah, salah satu kisah unik dari Tahura Pancoran Mas itu adalah monyet dan sepakbola. Boy mengatakan tahura Pancoran Mas itu bersebelahan dengan lapangan sepak bola (sekarang Lapangan Koni Depok), yang disebut Lapangan Hutan.
Boy menceritakan bagaimana satwa penghuni hutan, khususnya monyet-monyet, kerap “keluar” untuk menonton pertandingan sepakbola.
“Mereka keluar dari hutan, mereka juga ikut menonton. Karena hutannya itu kan dipagar kawat, dibuat pagar kawat, mereka naik kawat itu kemudian ikut masuk ke lapangan. Biasanya kalau ada pertandingan-pertandingan itu, ada banyak pedagang-pedagang kan yang jualan apa jajanan-jajanan. Nah itu monyet-monyet itu selalu minta,” kata Boy.
Boy mengatakan monyet-monyet itu hidup berdampingan secara harmonis dengan manusia, sering menerima kacang rebus dari penonton sebelum kembali ke hutan lebat setelah permainan berakhir.
Sayangnya, keseimbangan itu mulai terganggu akibat lonjakan urbanisasi yang signifikan pada 1978, yang ditandai dengan pembangunan Perumnas Depok 1, 2, dan Depok Utara.
Distribusi penduduk yang tidak merata telah menyebabkan kelangkaan ruang terbuka hijau yang semakin parah. Luas lahan Tahura pancoran Mas juga susut, sehingga tak lagi bersebelahan langsung dengan Lapangan KONI Depok.
Tahura Pancoran Mas yang semula seluas 12 hektare, telah berkurang menjadi 6 hektare akibat perambahan. Kini laporan terbaru menunjukkan luasnya telah meningkat menjadi 7,2 hektar.
“Pendudul Depok makin banyak, terjadi urbanisasi kan pekerja dari daerah ke Jakarta dan mencari rumah di Depok. Mereka (monyet-moyet di Tahura Pancoran Mas) enggak, merasa tidak nyaman, ya. Mereka tidak nyaman, kemudian lambat laun ya hilang satu per satu gitu,” kata Boy.
“Kemudian juga pendatang-pendatang itu sering juga ya melakukan hal-hal yang mengganggu monyet-monyet itu, ditembak dengan senapan angin, diburu degan berbagai cara. Saya tidak tahu mereka pindahan entah ke mana, karena biasanya ya mereka berpindahnya kan mereka lompat dari pohon ke pohon kan, bisa seperti itu,” Boy menjelaskan.
Kini, pemerintah Kota Depok tengah melakukan revitalisasi dengan menambahkan fasilitas seperti jogging track dan pagar. Boy, yang merupakan pewaris Belanda Depok itu, mengingatkan agar pembangunan tersebut tidak merusak esensi hutan.
Dia berharap pendatang tidak hanya mencari nafkah, tapi juga menjaga warisan sejarah Depok, termasuk Tahura Pancoran Mas itu.
“Harapan saya kepada masyarakat Depok, terutama para pendatang, hargailah sejarah Depok. Nah, itu yang harus dihargai oleh para pendatang. Jadi jangan hanya datang ke Depok untuk mencari nafkah, tapi hargailah sejarahnya,” kata Boy.
“Dan, salah satu bagian dari sejarah itu adalah Hutan Depok atau Taman Hutan Raya itu. Itu adalah wasiat dari Cornelis Chastelein, agar hutan itu tetap dijaga. Jadi jangan dirusak, jangan diokupasi. Itu harapan saya untuk masyarakat,” dia menambahkan.
Dia berharap revitalisasi harus bijaksana, jangan sampai pembangunan fisik merusak fungsi paru-paru kota dan resapan air. Selain itu, hutan harus tetap menjadi tempat aman bagi satwa yang tersisa, bukan sekadar taman rekreasi komersial.
“Nah, untuk pemerintah, kalau memang ada rencana revitalisasi, tolong lakukan de
ngan bijaksana. Revitalisasi itu jangan hanya membangun bangunan-bangunan fisik yang justru merusak fungsi ekologi dari hutan itu sendiri. Hutan itu fungsinya adalah sebagai paru-paru kota, sebagai tempat resapan air, dan sebagai tempat perlindungan bagi satwa-satwa yang masih ada di sana,” kata Boy.
“Kalau mau dibuat jogging track, silakan, tapi jangan sampai menebang pohon-pohon yang sudah ada. Dan jangan sampai pembangunan itu justru mengundang semakin banyak orang yang akhirnya membuang sampah sembarangan di sana,” ujar dia.
“Jadi revitalisasi itu harus benar-benar bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan itu, bukan malah mengubahnya menjadi taman rekreasi yang komersial. Itu harapan saya untuk pemerintah Kota Depok,” ujar dia lagi.
Kisah Monyet Penyuka Pertandingan Sepakbola



Kini, pemerintah Kota Depok tengah melakukan revitalisasi dengan menambahkan fasilitas seperti jogging track dan pagar. Boy, yang merupakan pewaris Belanda Depok itu, mengingatkan agar pembangunan tersebut tidak merusak esensi hutan.
Dia berharap pendatang tidak hanya mencari nafkah, tapi juga menjaga warisan sejarah Depok, termasuk Tahura Pancoran Mas itu.
“Harapan saya kepada masyarakat Depok, terutama para pendatang, hargailah sejarah Depok. Nah, itu yang harus dihargai oleh para pendatang. Jadi jangan hanya datang ke Depok untuk mencari nafkah, tapi hargailah sejarahnya,” kata Boy.
“Dan, salah satu bagian dari sejarah itu adalah Hutan Depok atau Taman Hutan Raya itu. Itu adalah wasiat dari Cornelis Chastelein, agar hutan itu tetap dijaga. Jadi jangan dirusak, jangan diokupasi. Itu harapan saya untuk masyarakat,” dia menambahkan.
Dia berharap revitalisasi harus bijaksana, jangan sampai pembangunan fisik merusak fungsi paru-paru kota dan resapan air. Selain itu, hutan harus tetap menjadi tempat aman bagi satwa yang tersisa, bukan sekadar taman rekreasi komersial.
“Nah, untuk pemerintah, kalau memang ada rencana revitalisasi, tolong lakukan de
ngan bijaksana. Revitalisasi itu jangan hanya membangun bangunan-bangunan fisik yang justru merusak fungsi ekologi dari hutan itu sendiri. Hutan itu fungsinya adalah sebagai paru-paru kota, sebagai tempat resapan air, dan sebagai tempat perlindungan bagi satwa-satwa yang masih ada di sana,” kata Boy.
“Kalau mau dibuat jogging track, silakan, tapi jangan sampai menebang pohon-pohon yang sudah ada. Dan jangan sampai pembangunan itu justru mengundang semakin banyak orang yang akhirnya membuang sampah sembarangan di sana,” ujar dia.
“Jadi revitalisasi itu harus benar-benar bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan itu, bukan malah mengubahnya menjadi taman rekreasi yang komersial. Itu harapan saya untuk pemerintah Kota Depok,” ujar dia lagi.







