Ketegangan diplomatik antara Jepang dan China membuat jumlah penumpang pesawat antarnegara merosot drastis. Nggak main-main angka itu anjlok hingga 48%.
Dari Bandara Kansai di Prefektur Osaka, jumlah pelancong yang terbang ke China tercatat turun hampir setengahnya dibandingkan tahun sebelumnya.
Mengutip The Straits Times, Rabu (14/1/2026), data imigrasi yang dirilis pada Selasa lalu mencatat, hanya 55.170 orang yang bepergian dari bandara-bandara utama Osaka menuju China selama periode libur tersebut.
Penurunan ini menjadi sinyal bahwa memburuknya hubungan diplomatik antara kedua negara mulai terasa dampaknya di sektor pariwisata.
Situasi itu tak lepas dari ketegangan politik yang mencuat sejak November lalu. Saat itu, pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait kemungkinan respons Jepang terhadap situasi darurat di Taiwan memicu kemarahan Beijing.
Menyusul pernyataan tersebut, Pemerintah China pun menyarankan warganya untuk menunda atau menghindari perjalanan ke Jepang.
Berdasarkan data awal dari kantor imigrasi cabang Bandara Kansai di Osaka, jumlah penumpang rute Bandara Internasional Kansai-China tercatat merosot 48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penghitungan dilakukan pada rentang 26 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, yang merupakan puncak musim liburan akhir tahun.
Secara keseluruhan, pergerakan keluar-masuk Jepang melalui Bandara Kansai juga mengalami sedikit penurunan.
Total penumpang tercatat sebanyak 747.620 orang atau turun sekitar 2% dibandingkan tahun lalu. Dari jumlah tersebut, sekitar 70% atau 515.430 orang merupakan warga negara asing.
Dalam daftar tujuan favorit selama periode tersebut, Korea Selatan menjadi negara paling banyak dikunjungi dengan total 127.990 wisatawan. Taiwan menyusul di posisi kedua dengan 59.970 wisatawan dan China yang sempat memuncaki daftar tujuan pada 2025, kini turun ke peringkat ketiga.
Dampak ketegangan ini juga terlihat pada sektor penerbangan. Operator bandara Kansai Airports mengungkapkan bahwa jumlah penerbangan ke dan dari China sepanjang Desember hanya mencapai 2.286 penerbangan.
Angka tersebut setara sekitar 60% dibandingkan jumlah penerbangan pada periode yang sama tahun sebelumnya.
