Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyebut pesawat jenis ATR 42-500 (sebelumnya ditulis ATR-400) milik Indonesia Air Transport (IAT) hilang kontak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Berikut kronologinya.
Pesawat jenis ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT yang dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT), pemegang AOC 034, itu diduga kuat telah jatuh dan meledak. Hingga kini, tim SAR gabungan terus berupaya memastikan lokasi jatuhnya pesawat dengan mengecek area yang diduga menjadi titik kecelakaan.
“Kemungkinan besarnya itu (jatuh),” ujar Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Bangun Nawoko kepada wartawan di Kantor Basarnas Makassar, Sabtu (17/12026), dikutip dari infoSulsel.
Bangun mengatakan bahwa kecurigaan pesawat ATR telah terjatuh setelah menerima laporan adanya suara ledakan dari lokasi jatuhnya pesawat. Selain itu, dia juga menerima laporan titik api.
“Ini yang sedang dipastikan. Tetapi kecurigaan kita karena di situ kan hutan lebat, tetapi ada titik api yang cukup besar,” kata Bangun.
“Sepertinya seperti itu (pesawat meledak), tapi kita akan pastikan dulu sampai tim darat maupun Heli Karakal ini bisa memastikan apakah itu exact location-nya ataupun bukan,” kata dia.
Pesawat ATR 42-500 itu dilaporkan hilang kontak di kawasan Leang-Leang pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 Wita. Personel Basarnas sudah menuju lokasi melakukan pencarian.
Pesawat itu diketahui membawa 11 orang, yang terdiri dari delapan kru dan tiga penumpang.
Kru pesawat itu adalah Kapten Andy Dahananto, Second in Command (SIC) First Officer (FO) Yudha Mahardika, ex-Check Unit Captain (XCU) atau seorang kapten senior, Sukardi, Flight Operation Officer (FOO) Hariadi, EOB. Franky D Tanamal, EOB. Junaidi, serta pramugari Florencia Lolita dan Esther Aprilita S.
Sementara itu, penumpang terdaftar adalah Deden, Ferry, dan Yoga
“Target pencarian di pegunungan kapur Bantimurung, desa Leang-leang, Kabupaten Maros, dan menjadi Posko Basarnas di dekat lokasi,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa dalam keterangan di Jakarta, dikutip dari Antara.
Lukman mengatakan pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui penerbangan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas yang dijadwalkan pada pukul 16.25 WITA.
Pesawat ATR buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut terbang dari Yogyakarta Adi Sucipto (JOG) menuju Makassar Sultan Hasanuddin (UPG).
“Berdasarkan informasi kronologis terbaru, pada pukul 04.23 UTC, pesawat diarahkan oleh Air Traffic Control Makassar Area Terminal Service Center (MATSC) untuk melakukan pendekatan ke landasan pacu RWY 21 Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar,” ucap Lukman.
Dalam proses pendekatan, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya, sehingga Air Traffic Control (ATC) memberikan arahan ulang kepada awak pesawat untuk melakukan koreksi posisi.
“ATC selanjutnya menyampaikan beberapa instruksi lanjutan guna membawa pesawat kembali ke jalur pendaratan yang sesuai dengan prosedur,” ujar Lukman.
Setelah penyampaian arahan terakhir oleh ATC, kata Lukman, komunikasi dengan pesawat terputus (loss contact). Menindaklanjuti kondisi tersebut, ATC mendeklarasikan fase darurat DETRESFA (Distress Phase) sesuai dengan ketentuan dan prosedur yang berlaku.
AirNav Indonesia Cabang MATSC segera melakukan koordinasi dengan Rescue Coordination Center (RCC) Basarnas Pusat serta Kepolisian Resor Maros melalui Kapolsek Bandara guna mendukung langkah pencarian dan pertolongan.
Bandara Sultan Hasanuddin Makassar telah melakukan persiapan pembukaan Crisis Center di Terminal Keberangkatan sebagai pusat koordinasi informasi.
AirNav Indonesia saat ini juga tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan (Search and Rescue).
“Adapun jumlah orang di dalam pesawat (Persons on Board/POB) dilaporkan sebanyak 10 orang, terdiri atas tujuh awak pesawat dan tiga penumpang,” ujar Lukman.
Informasi awal terkait kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi cuaca di sekitar area dilaporkan sedikit berawan.
“Detail dan konfirmasi lebih lanjut masih dalam proses koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG),” kata Lukman.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi intensif melalui Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar dengan AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, TNI Angkatan Udara.
“Serta instansi terkait lainnya guna memantau perkembangan situasi dan memastikan langkah penanganan berjalan optimal,” kata Lukman.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan menyampaikan pembaruan informasi secara berkala sesuai dengan perkembangan resmi di lapangan.






