Pendaki remaja asal Magelang, Jawa Tengah Syafiq Ridhan Ali Razan (18) di Gunung Slamet ditemukan meninggal dunia setelah pencarian 17 hari. berikut kronologi sejak Ali memulai pendakian hingga ditemukan oleh relawan SAR.
Ali mendaki Gunung Slamet melalui basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (27/12/2025) pukul 23.00 WIB. Dia tak sendirian. Ali mendaki bersama Himawan Choidar Bahran, warga Secang, Magelang.
Mereka mendaki Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 mdpl tektok atau tanpa bermalam. Artinya, seharusnya mereka kembali ke basecamp pada Minggu (28/12).
Namun, Ali dan Himawan tak juga berada di basecamp hingga Minggu (28/12/2025) petang. Dhani Rusman, ayah Ali, pertama-tama mencoba mengontak basecamp untuk menanyakan kabar terakhir putranya. Karena belum ada kepastian, Dhani bersama keluarga kemudian langsung menuju basecamp Dipajaya untuk memastikan kondisi Ali dan mengecek daftar pendaki.
Di sana, basecamp mengonfirmasi bahwa Ali dan Himawan terdaftar sebagai pendaki dan belum kembali. Sepeda motor dan kartu identitas juga masih di basecamp.
Laporan kehilangan itu langsung ditindaklanjuti dengan operasi pencarian oleh tim SAR gabungan BASARNAS Pemalang, BPBD, dan relawan. Pencarian mulai dilakukan pada Minggu malam.
Kabar pendaki hilang tersebar dari mulut ke mulut di antara pendaki Gunung Slamet. Keesokan harinya, Himawan dilaporkan bisa kembali ke basecamp Dipajaya setelah dievakuasi oleh tim SAR.
Kepala Pelaksana BPBD Pemalang, Andri Adi, menyatakan Himawan ditemukan selamat di Pos 5.
“Ada kabar baik ketemu 1 anak, alhamdulillah katanya kondisi aman,” ujar Andri melalui pesan singkat, Selasa (30/12).
Sementara itu, jejak Ali masih gelap. Operasional dilanjutkan dengan menyisir antara jalur pendakian yang mencakup Pos 5 hingga Pos 9. Lokasi pencarian merujuk kepada keterangan Himawan dan spekulasi berbagai kemungkinan jalur yang mungkin dilalui Syafiq selama pendakian.
Berdasarkan keterangan Himawan, keduanya sempat berpisah saat turun gunung. Himawan mengatakan dia kelelahan dan mengalami cedera kaki sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan. Sementara itu, Ali memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan.
Setelah pencarian selama lebih dari sepekan, pada Rabu (7/1), operasi SAR resmi dihentikan dan dialihkan ke tahap pemantauan. Menurut Unit Siaga SAR BASARNAS Pemalang, penghentian operasi pencarian telah dilakukan dengan persetujuan keluarga Ali.
Meski demikian, sejumlah relawan masih terus melakukan upaya pencarian secara mandiri di kawasan Gunung Slamet.
Saat pencarian berlangsung, sejumlah warganet membagikan keterangan dari pendaki lain sempat menjumpai pendaki yang diduga Ali. Ada yang mengaku sempat melihat Ali di sekitar Pos 3. Ada pula yang menyebut dengan menduga-duga videonya merekam ada jaket pendaki di jurang.
Selain itu, ada pula yang mengatakan Ali jatuh ke Segoro Wedi alias lautan pasir. Area ini tidak berada di jalur utama basecamp-puncak, tapi merupakan jalur tambahan yang bisa dicapai setelah sampai puncak. Area ini relatif berbahaya sehingga tidak disarankan untuk didatangi.
Merujuk keterangan kakak dan ayahnya, Ali ternyata berpamitan kepada keluarga untuk mendaki Gunung Sumbing, bukan Gunung Slamet. Kedua gunung itu ada di Jawa Tengah dan sama-sama memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl. Gunung Slamet sebagai atap Jateng lebih tinggi mencapai 3248 mdpl, sedangkan ketinggian Gunung Sumbing 3371 mdpl.
Kendati sama-sama memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl, tetapi Gunung Slamet memiliki karakteristik yang berbeda dibanding Gunung Sumbing. Gunung Slamet adalah gunung berapi aktif dengan medan yang lebih terjal dan jalur pendakian yang panjang, dan hutan yang masih lebat dan lembab.
Selain itu, Gunung Slamet memiliki Plawangan cukup panjang dengan medan yang terbuka dan kemiringan 30-40 derajat serta area berbatu dan berpasir. Selain itu, Slamet memiliki cuaca yang cepat berubah-hujan dan kabut bisa muncul secara mendadak-membuat pendakian lebih menantang, terutama bagi pendaki pemula.
Sebaliknya, Gunung Sumbing memiliki jalur yang relatif lebih rapi dan berundak, dengan kombinasi hutan dan padang sabana di bagian atas. Medannya cenderung lebih stabil dan landai, meski tetap menantang karena ketinggiannya yang mencapai 3371 mdpl. Karena itu, meskipun kedua gunung sama-sama tinggi, karakteristik medan, kondisi jalur, dan faktor cuaca membuat pengalaman pendakian di Slamet dan Sumbing cukup berbeda.
“Ali awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” kata Dhani.
Entah kenapa perjalanan berubah ke Gunung Slamet. Kepada ibunya, Ali sempat mengirimkan pesan yang kini menjadi kenangan paling pilu.
“Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,” kata Ali.
Syafiq Ali dipastikan mendaki Gunung Slamet dan mencapai puncaknya. Sejumlah foto menunjukkan dia berada di puncak, termasuk foto papan berwarna hijau yang ditujukan untuk mantan pacar.
‘HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL’ itu ditemukan dalam jaket temannya yang sempat ikut hilang dalam pendakian, Himawan.
Keberadaan papan tersebut diketahui saat Himawan ditemukan oleh tim relawan. Barang tersebut diletakkan di dalam jaket Himawan. Tulisan untuk mantan itu memang sengaja dipesan oleh Ali di online dan dibawa saat pendakian.
“Ya, kami temukan papan tulisan itu saat menemukan survivor pertama. Dalam jaket. Kondisi tubuhnya lemas dan langsung kita evakuasi ke Basecamp Dipajaya,” kata Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, ditemui di lokasi, Jumat (2/1).
Saat ini, tulisan ini, disimpan di Basecamp Dipajaya. Sementara itu, Himawan, korban selamat yang saat ini berada di Basecamp Dipajaya bersama ayahnya yakni Imam Bukhori, membenarkan tulisan itu sengaja dibawa sampai puncak.
“Iya, milik dia (Syafiq Ali). Pesan dulu di online baru saya yang bawa, saya masukin ke jaket. Di atas berfoto dengan itu. Ya, katanya untuk ramai-ramai saja,” kata Himawan.
Pencarian Syafiq Ali di Gunung Slamet memasuki babak krusial setelah relawan menginisiasi pencarian tahap II. Pencarian Ali pada tahap kedua ini dilakukan secara mandiri.
Sebelum melakukan pencarian di Gunung Slamet, relawan dari UPL MPA Unsoed dan Wanadri mendatangi Magelang untuk menemui Himawan, rekan pendakian Ali yang selamat, pada Jumat (9/1). Mereka menggali informasi detail tentang pergerakan terakhir korban.
Dari pertemuan itu, relawan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pendakian dan kemungkinan jalur yang dilalui Ali.
“Kami tidak ingin berspekulasi, informasi dari Himawan menjadi dasar kami menyusun strategi pencarian lanjutan,” ujar salah satu relawan dari UPL MPA Unsoed, Abdul Kholiq Zainal Muttaqin, dalam perbincangan dengan infoTravel.
Setelah itu, mereka menuju Pemalang dan bablas ke basecamp Dipjaya. Setelah itu, mereka berkoordinasi dengan APGI dan sejumlah komunitas pecinta alam serta warga lokal untuk melanjutkan pencarian. Mereka juga meminta izin kepada basecamp Dipajaya untuk mencari Ali.
Tim relawan itu kemudian menuju Gunung Slamet dan membangun camp operasional di area dekat Plawangan. Merujuk keterangan Himawan mereka melakukan penyisiran di dekat Pos 9 jalur Dipajaya dan Gunung Malang sehari kemudian.
Petunjuk kunci akhirnya muncul ketika relawan menemukan dompet dan senter milik Ali pada 13 Januari. Penemuan dua barang pribadi tersebut menjadi titik balik yang mempersempit area pencarian dan menguatkan dugaan jalur yang dilalui korban.
“Dari temuan dompet dan senter itu, kami yakin Ali berada tidak jauh dari lokasi tersebut,” kata Kholiq.
Sehari kemudian, pada Rabu (14/1), pukul 10.22 WIB, Ali ditemukan di jalur punggungan Gunung Malang dekat area Batu Watu Langgar di wilayah Pemalang. Lokasi itu tidak jauh dari titik dia berpisah dari Himawan. Dia sudah meninggal saat ditemukan oleh tim SAR.
Evakuasi jenazah Ali dari lokasi penemuan baru bisa dilakukan sehari kemudian, Kamis (15/1), karena kondisi cuaca buruk dan kabut tebal yang menyulitkan tim di lapangan. Unit Siaga SAR (USS) Basarnas Pemalang, Handika, mengatakan jenazah Ali diturunkan melalui basecamp Gunung Malang Purbalingga dan tiba pukul 14.25 WIB.
Jenazah langsung dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata untuk dilakukan visum. Dokter yang menangani pemeriksaan, dr Gunawan, mengungkapkan telah melakukan autopsi luar.
Dia menjelaskan, pada bagian kepala, leher, dada, hingga perut tidak ditemukan tanda-tanda luka atau jejak situ (petunjuk di lapangan yang digunakan relawan dan tim SAR untuk menelusuri pergerakan terakhir korban). Berdasarkan kondisi jenazah dan perkembangan belatung, tim medis memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar dua pekan sebelum pemeriksaan dilakukan.
“Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan korban diperkirakan meninggal sekitar 15 hari sebelum ditemukan dan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan maupun kekerasan pada tubuh korban,” kata Wakapolres Purbalingga Kompol Agus Amjat Purnomo di Purbalingga, seperti dilansir Antara, Kamis (15/1).
Jenazah Ali kemudian dibawa ke kediamannya di Magelang dan dimakamkan di Pemakaman Umum Sidotopo, Kelurahan Kedungsari.
Rencana ke Gunung Sumbing
Papan Hijau untuk Mantan & Bukti Sampai Puncak Slamet
Pencarian Tahap II oleh Relawan
Diduga Meninggal 15 Hari Sebelum Ditemukan
Merujuk keterangan kakak dan ayahnya, Ali ternyata berpamitan kepada keluarga untuk mendaki Gunung Sumbing, bukan Gunung Slamet. Kedua gunung itu ada di Jawa Tengah dan sama-sama memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl. Gunung Slamet sebagai atap Jateng lebih tinggi mencapai 3248 mdpl, sedangkan ketinggian Gunung Sumbing 3371 mdpl.
Kendati sama-sama memiliki ketinggian di atas 3000 mdpl, tetapi Gunung Slamet memiliki karakteristik yang berbeda dibanding Gunung Sumbing. Gunung Slamet adalah gunung berapi aktif dengan medan yang lebih terjal dan jalur pendakian yang panjang, dan hutan yang masih lebat dan lembab.
Selain itu, Gunung Slamet memiliki Plawangan cukup panjang dengan medan yang terbuka dan kemiringan 30-40 derajat serta area berbatu dan berpasir. Selain itu, Slamet memiliki cuaca yang cepat berubah-hujan dan kabut bisa muncul secara mendadak-membuat pendakian lebih menantang, terutama bagi pendaki pemula.
Sebaliknya, Gunung Sumbing memiliki jalur yang relatif lebih rapi dan berundak, dengan kombinasi hutan dan padang sabana di bagian atas. Medannya cenderung lebih stabil dan landai, meski tetap menantang karena ketinggiannya yang mencapai 3371 mdpl. Karena itu, meskipun kedua gunung sama-sama tinggi, karakteristik medan, kondisi jalur, dan faktor cuaca membuat pengalaman pendakian di Slamet dan Sumbing cukup berbeda.
“Ali awalnya pamit ke Gunung Sumbing,” kata Dhani.
Entah kenapa perjalanan berubah ke Gunung Slamet. Kepada ibunya, Ali sempat mengirimkan pesan yang kini menjadi kenangan paling pilu.
“Duh Bun, aku kok kesasar ke Gunung Slamet,” kata Ali.
Rencana ke Gunung Sumbing
Syafiq Ali dipastikan mendaki Gunung Slamet dan mencapai puncaknya. Sejumlah foto menunjukkan dia berada di puncak, termasuk foto papan berwarna hijau yang ditujukan untuk mantan pacar.
‘HI MANTAN, DAPAT SALAM DARI GUNUNG SLAMET 3428 MDPL’ itu ditemukan dalam jaket temannya yang sempat ikut hilang dalam pendakian, Himawan.
Keberadaan papan tersebut diketahui saat Himawan ditemukan oleh tim relawan. Barang tersebut diletakkan di dalam jaket Himawan. Tulisan untuk mantan itu memang sengaja dipesan oleh Ali di online dan dibawa saat pendakian.
“Ya, kami temukan papan tulisan itu saat menemukan survivor pertama. Dalam jaket. Kondisi tubuhnya lemas dan langsung kita evakuasi ke Basecamp Dipajaya,” kata Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, ditemui di lokasi, Jumat (2/1).
Saat ini, tulisan ini, disimpan di Basecamp Dipajaya. Sementara itu, Himawan, korban selamat yang saat ini berada di Basecamp Dipajaya bersama ayahnya yakni Imam Bukhori, membenarkan tulisan itu sengaja dibawa sampai puncak.
“Iya, milik dia (Syafiq Ali). Pesan dulu di online baru saya yang bawa, saya masukin ke jaket. Di atas berfoto dengan itu. Ya, katanya untuk ramai-ramai saja,” kata Himawan.
Papan Hijau untuk Mantan & Bukti Sampai Puncak Slamet
Pencarian Syafiq Ali di Gunung Slamet memasuki babak krusial setelah relawan menginisiasi pencarian tahap II. Pencarian Ali pada tahap kedua ini dilakukan secara mandiri.
Sebelum melakukan pencarian di Gunung Slamet, relawan dari UPL MPA Unsoed dan Wanadri mendatangi Magelang untuk menemui Himawan, rekan pendakian Ali yang selamat, pada Jumat (9/1). Mereka menggali informasi detail tentang pergerakan terakhir korban.
Dari pertemuan itu, relawan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pendakian dan kemungkinan jalur yang dilalui Ali.
“Kami tidak ingin berspekulasi, informasi dari Himawan menjadi dasar kami menyusun strategi pencarian lanjutan,” ujar salah satu relawan dari UPL MPA Unsoed, Abdul Kholiq Zainal Muttaqin, dalam perbincangan dengan infoTravel.
Setelah itu, mereka menuju Pemalang dan bablas ke basecamp Dipjaya. Setelah itu, mereka berkoordinasi dengan APGI dan sejumlah komunitas pecinta alam serta warga lokal untuk melanjutkan pencarian. Mereka juga meminta izin kepada basecamp Dipajaya untuk mencari Ali.
Tim relawan itu kemudian menuju Gunung Slamet dan membangun camp operasional di area dekat Plawangan. Merujuk keterangan Himawan mereka melakukan penyisiran di dekat Pos 9 jalur Dipajaya dan Gunung Malang sehari kemudian.
Petunjuk kunci akhirnya muncul ketika relawan menemukan dompet dan senter milik Ali pada 13 Januari. Penemuan dua barang pribadi tersebut menjadi titik balik yang mempersempit area pencarian dan menguatkan dugaan jalur yang dilalui korban.
“Dari temuan dompet dan senter itu, kami yakin Ali berada tidak jauh dari lokasi tersebut,” kata Kholiq.
Sehari kemudian, pada Rabu (14/1), pukul 10.22 WIB, Ali ditemukan di jalur punggungan Gunung Malang dekat area Batu Watu Langgar di wilayah Pemalang. Lokasi itu tidak jauh dari titik dia berpisah dari Himawan. Dia sudah meninggal saat ditemukan oleh tim SAR.
Pencarian Tahap II oleh Relawan
Evakuasi jenazah Ali dari lokasi penemuan baru bisa dilakukan sehari kemudian, Kamis (15/1), karena kondisi cuaca buruk dan kabut tebal yang menyulitkan tim di lapangan. Unit Siaga SAR (USS) Basarnas Pemalang, Handika, mengatakan jenazah Ali diturunkan melalui basecamp Gunung Malang Purbalingga dan tiba pukul 14.25 WIB.
Jenazah langsung dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata untuk dilakukan visum. Dokter yang menangani pemeriksaan, dr Gunawan, mengungkapkan telah melakukan autopsi luar.
Dia menjelaskan, pada bagian kepala, leher, dada, hingga perut tidak ditemukan tanda-tanda luka atau jejak situ (petunjuk di lapangan yang digunakan relawan dan tim SAR untuk menelusuri pergerakan terakhir korban). Berdasarkan kondisi jenazah dan perkembangan belatung, tim medis memperkirakan korban telah meninggal dunia sekitar dua pekan sebelum pemeriksaan dilakukan.
“Hasil pemeriksaan dokter menyebutkan korban diperkirakan meninggal sekitar 15 hari sebelum ditemukan dan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan maupun kekerasan pada tubuh korban,” kata Wakapolres Purbalingga Kompol Agus Amjat Purnomo di Purbalingga, seperti dilansir Antara, Kamis (15/1).
Jenazah Ali kemudian dibawa ke kediamannya di Magelang dan dimakamkan di Pemakaman Umum Sidotopo, Kelurahan Kedungsari.
