Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Griffith University dan Southern Cross University (Australia) menemukan seni cadas (rock art) cap tangan manusia tertua di dunia di Leang Metanduno, Desa Liangkabhori, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan itu berusia sekitar 67.800 tahun.
Gua Metanduno sudah sejak lama menjadi tujuan wisata situs purbakala. Orang-orang mengunjungi gua ini untuk melihat lukisan dinding prasejarah. Leang Metanduno dan kawasan Liangkabori pun sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Sultra.
Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana mengungkapkan bahwa usia minimum seni cadas Pulau Muna itu lebih tua 16,6 ribu tahun dibandingkan seni cadas dari Maros-Pangkep yang ditemukan sebelumnya.
Seni cadas itu juga 1,1 ribu tahun lebih tua dibandingkan cap tangan dari Spanyol yang sebelumnya dikaitkan dengan Neanderthal dan selama ini dianggap sebagai seni gua tertua di dunia.
Adhi menjelaskan untuk mengungkap usia lukisan cadas itu, tim peneliti menerapkan teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.
Hasil analisis menunjukkan umur 71,6 ± 3,8 ribu tahun, yang memberikan batas usia minimum sebesar 67,8 ribu tahun bagi cap tangan di Liang Metanduno, Pulau Muna.
Penemuan cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun di gua batu gamping itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting dalam sejarah awal seni simbolik dan penjelajahan laut manusia modern di dunia.
Seni cadas tersebut merupakan yang tertua di dunia yang berhasil ditentukan usianya secara metode penanggalan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penemuan itu sekaligus memberikan bukti langsung bahwa manusia telah menyeberangi laut secara sengaja sejak hampir 70.000 tahun lalu.
Temuan ini menegaskan bahwa Wallacea bukan hanya jalur menuju Australia, melainkan ruang hidup utama bagi manusia modern awal.
“Sangat mungkin bahwa pembuat lukisan ini merupakan bagian dari populasi yang kemudian menyebar lebih jauh ke timur dan akhirnya mencapai Australia,” kata Adhi dikutip dari situs resmi BRIN, Sabtu (24/1/2026).
Temuan itu sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia-Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.
“Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” kata Dr Oktaviana.
Penelitian itu memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua-sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.
“Dengan penanggalan seni cadas ini, kita kini memiliki bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul,” ujar Prof Renaud Joannes-Boyau.
“Temuan itu menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” kata Prof Maxime Aubert, salah satu peneliti utama.
Sementara itu, Prof Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menyampaikan cap tangan yang ditemukan dalam seni cadas di Pulau Muna itu juga memiliki ciri unik secara global, dengan modifikasi yang mempersempit bentuk jari sehingga menyerupai cakar (narrow finger), mencerminkan ekspresi simbolik yang matang. Menurutnya, makna simbolik dari penyempitan bentuk jari ini masih bersifat spekulatif,
“Namun, seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” kata Prof Adam Brumm, yang juga ikut memimpin penelitian ini.
Temuan seni cadas berusia 67.800 tahun di Sulawesi Tenggara menandai tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia.
Kepala Pusat Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi mengatakan bahwa penelitian itu menunjukkan bagaimana penerapan teknologi mutakhir, khususnya penanggalan uranium series berbasis laser ablation (LA-U-series), memungkinkan penentuan kronologi budaya secara jauh lebih presisi.
“Melalui analisis langsung pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen seni cadas, kami tidak lagi bergantung pada penanggalan tidak langsung. Sifat fisikokimia speleothem kalsit berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami yang memungkinkan kami menetapkan batas umur minimum yang andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” kata Sofwan.
Dengan ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi, hal ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan.
Maka dari itu, para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.
Selain melakukan kolaborasi dengan Grifith Univeristy (Australia), penelitian ini juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Temuan itu sekaligus memperkuat model kronologi panjang, yang menyatakan bahwa manusia telah mencapai daratan Sahul (Australia-Papua) setidaknya sekitar 65.000 tahun lalu.
“Penemuan ini memberikan dukungan kuat bahwa leluhur masyarakat Aborigin Australia telah berada di Sahul pada atau sebelum 65.000 tahun yang lalu,” kata Dr Oktaviana.
Penelitian itu memberikan bukti langsung tertua keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul, yang melibatkan penjelajahan laut antara Kalimantan (Borneo) dan Papua-sebuah wilayah yang hingga kini masih relatif kurang dieksplorasi secara arkeologis.
“Dengan penanggalan seni cadas ini, kita kini memiliki bukti paling awal keberadaan manusia modern di jalur migrasi utara menuju Sahul,” ujar Prof Renaud Joannes-Boyau.
“Temuan itu menunjukkan bahwa Sulawesi merupakan salah satu pusat budaya artistik tertua dan paling berkelanjutan di dunia, dengan akar yang berasal dari fase paling awal hunian manusia di kawasan ini,” kata Prof Maxime Aubert, salah satu peneliti utama.
Sementara itu, Prof Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE), Griffith University, menyampaikan cap tangan yang ditemukan dalam seni cadas di Pulau Muna itu juga memiliki ciri unik secara global, dengan modifikasi yang mempersempit bentuk jari sehingga menyerupai cakar (narrow finger), mencerminkan ekspresi simbolik yang matang. Menurutnya, makna simbolik dari penyempitan bentuk jari ini masih bersifat spekulatif,
“Namun, seni ini bisa saja melambangkan gagasan bahwa manusia dan hewan memiliki hubungan yang sangat erat. Hal tersebut sudah mulai terlihat dalam seni lukis paling awal di Sulawesi, termasuk setidaknya satu adegan yang kami tafsirkan sebagai representasi makhluk setengah manusia dan setengah hewan,” kata Prof Adam Brumm, yang juga ikut memimpin penelitian ini.
Temuan seni cadas berusia 67.800 tahun di Sulawesi Tenggara menandai tonggak penting dalam pengembangan arkeologi berbasis sains material di Indonesia.
Kepala Pusat Arkeometri BRIN, Sofwan Noewidi mengatakan bahwa penelitian itu menunjukkan bagaimana penerapan teknologi mutakhir, khususnya penanggalan uranium series berbasis laser ablation (LA-U-series), memungkinkan penentuan kronologi budaya secara jauh lebih presisi.
“Melalui analisis langsung pada lapisan kalsit yang menutupi pigmen seni cadas, kami tidak lagi bergantung pada penanggalan tidak langsung. Sifat fisikokimia speleothem kalsit berfungsi sebagai arsip mikrostratigrafi alami yang memungkinkan kami menetapkan batas umur minimum yang andal bagi aktivitas simbolik manusia modern,” kata Sofwan.
Dengan ditemukannya sebaran situs seni cadas Pleistosen di kawasan karst wilayah Sulawesi, hal ini membawa tanggung jawab besar dalam pelestarian warisan budaya tak tergantikan.
Maka dari itu, para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba menjadi bagian integral dari perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.
Selain melakukan kolaborasi dengan Grifith Univeristy (Australia), penelitian ini juga melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
