Macan Tutul Sanggabuana Terekam Kamera Jalan Pincang, Kenali Ciri Fisiknya | Giok4D

Posted on

Macan tutul Jawa di gunung Sanggabuana tertangkap kamera dalam kondisi pincang. Dia diduga jadi korban perburuan liar. Di alam, Macan punya ciri fisik berikut:

Jagat maya dihebohkan dengan penampakan video macan tutul Jawa yang berjalan dengan kondisi kaki pincang di kawasan hutan Pegunungan Sanggabuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Melansir informasi infoJabar, Selasa (27/1/2026), Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard Triwinarta Wahyu Wiryanta, membenarkan peristiwa dalam video tersebut.

Bernard menyebut rekaman macan tutul dengan kaki terluka itu berasal dari kamera trap yang dipasang oleh tim ranger SCF saat melakukan penelitian di wilayah hutan Pegunungan Sanggabuana.

Ia mengonfirmasi bahwa video tersebut diduga terjadi pada 5 Oktober 2025 lalu. Kamera trap yang merekam video macan tutul itu juga menangkap beberapa orang yang diduga pemburu liar bersama sejumlah anjing melintas di area tersebut dan berupaya merusak kamera trap.

Pihak SCF sudah mengambil tindakan tegas dengan menempuh jalur hukum dalam menangani kasus ini dan akan segera diusut tuntas oleh pihak berwenang.

Macan tutul Jawa yang memiliki nama latin Panthera pardus melas, merupakan subspesies Macan yang menyimpan ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan kerabatnya di Afrika maupun India. Dari segi ukuran, tubuhnya tergolong sedang.

Individu dewasa umumnya memiliki panjang sekitar 1,2 meter dengan bobot antara 40 hingga 60 kilogram. Ukurannya memang tidak sebesar macan tutul Afrika, namun bentuk tubuhnya lebih kompak dan efisien, sangat sesuai untuk bergerak lincah di hutan Jawa yang rapat, terjal, dan minim ruang terbuka.

Postur tubuh macan tutul Jawa terlihat ramping, tetapi dipenuhi otot yang kuat, terutama di bagian bahu, dada, dan kaki belakang. Struktur ini memungkinkan mereka melakukan sprint cepat dalam jarak pendek, memanjat pohon dengan mudah, sekaligus mengangkat dan membawa mangsa berbobot besar ke tempat yang lebih aman dari gangguan predator lain.

Macan tutul Jawa memiliki bulu lebih tebal dibanding sub-spesies lain dengan warna kuning kecokelatan hingga cokelat tua, dihiasi pola roset atau bintik bercincin yang tampak lebih rapat. Bagian ekornya panjang dan fleksibel, bahkan dapat mencapai setengah dari panjang tubuhnya.

Telinganya berbentuk kecil dan membulat, dengan ciri khas berupa warna hitam di bagian belakang yang dihiasi bintik putih kecil atau ocelli.

Tanda ini diyakini berfungsi sebagai sarana komunikasi visual, terutama antara induk dan anak. Matanya berwarna kuning keemasan hingga kehijauan, dilengkapi lapisan tapetum lucidum yang memantulkan cahaya.

Macan tutul Jawa memiliki tungkai yang relatif pendek namun sangat kuat. Cakarnya dapat ditarik masuk (retractable claws) memberi keuntungan ekstra untuk mencengkeram mangsa maupun batang pohon.

Sebagai predator puncak pola hidup macan tutul Jawa sangat menarik untuk dikulik. Macan tutul Jawa dikenal sebagai satwa soliter dan sangat teritorial.

Mereka hidup menyendiri, kecuali saat musim kawin atau ketika induk betina merawat anaknya. Wilayah jelajahnya dijaga ketat dan ditandai dengan urin, kotoran, serta cakaran pada batang pohon sebagai sinyal peringatan bagi individu lain.

Macan tutul Jawa merupakan predator oportunistik yang memangsa beragam satwa, mulai dari kijang, babi hutan, hingga mamalia kecil dan burung. Salah satu perilaku khasnya adalah menyimpan mangsa di atas pohon, strategi untuk menghindari perebutan dengan predator lain.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Macan tutul Jawa berkomunikasi melalui kombinasi suara, gestur tubuh, dan penanda aroma. Auman, geraman, hingga suara panggilan keras digunakan untuk menandai keberadaan, sementara urin dan aroma tubuh berfungsi sebagai penanda wilayah dan status reproduksi.

Mereka dapat berkembang biak sepanjang tahun, dengan induk betina mengasuh anaknya selama sekitar satu setengah hingga dua tahun sebelum dilepas mandiri.

Keunggulan lain macan tutul Jawa terletak pada kemampuan kamuflase dan adaptasi habitat. Warna bulu dan gerak senyap membuat mereka sulit terdeteksi. Sementara kemampuan adaptasi memungkinkan mereka bertahan di berbagai jenis habitat.

Melansir informasi dari situs Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Selasa (27/1), sesuai namanya, macan tutul Jawa merupakan satwa endemik yang berasal dari Pulau Jawa. Macan tutul Jawa merupakan satu-satunya sub-spesies macan tutul yang masih hidup di Indonesia.

Aktivitas manusia yang semakin marak di kawasan hutan Indonesia, alih fungsi lahan, dan perburuan liar menyebabkan populasi macan tutul Jawa kian menurun dan terancam punah sepenuhnya.

Penyebaran populasi macan tutul Jawa hanya tersisa di beberapa hutan lindung di kawasan Pulau Jawa. Ditjen KSDAE tahun 2024, mencatat bahwa macan tutul Jawa bisa hidup di berbagai jenis hutan dan kemampuan beradaptasinya sangat baik.

Meski begitu, habitat paling nyaman dan aman adalah kawasan hutan lebat dan jauh dari gangguan terutama perburuan liar.

Terdapat beberapa hutan lindung di Pulau Jawa yang menjadi habitat macan tutul Jawa, yaitu:

· Taman Nasional Ujung Kulon (kurang dari 350 individu)

· Taman Nasional Gunung Halimun Salak (42-50 individu)

· Taman Nasional Meru Betiri (22 individu)

· Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (20-24 individu)

· Taman Nasional Alas Purwo (23-36 individu)

· Pegunungan Sanggabuana (19 individu)

Sejak tahun 2021, status konservasi macan tutul Jawa berada dalam kondisi sangat mengkhawatirkan dan terancam punah. Macan Tutul Jawa masuk dalam Daftar Merah IUCN dan CITES Appendix I.

Dalam periode 1988-2008, tercatat kepunahan lokal macan tutul Jawa terjadi di 17 lokasi yang berada di kawasan hutan produksi. Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor seperti hilangnya tutupan hutan, penyempitan ruang jelajah, serta fragmentasi habitat yang semakin parah akibat aktivitas manusia.

Upaya konservasi untuk menyelamatkan populasi macan tutul Jawa dari kepunahan sudah dikerahkan. Melalui penetapan taman nasional dan kawasan konservasi di sejumlah daerah di Pulau Jawa menjadi langkah awal untuk menyelamatkan populasi macan tutul Jawa.

Pemerintah Indonesia dan pihak terkait bekerja sama untuk menjaga kawasan hutan lindung agar menjadi habitat yang aman bagi satwa tersebut. Pemerintah dan lembaga konservasi juga mengerahkan penanaman kembali pohon asli hutan jawa dan restorasi kawasan kritis untuk mengatasi fragmentasi macan tutul Jawa akibat alih fungsi lahan.

Konflik antara manusia dan satwa liar menjadi konflik penting yang tidak bisa dikesampingkan. Oleh karena itu, pemerintah melakukan mitigasi konflik antar manusia dan satwa liar ini dengan melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat.

Ciri Fisik Macan Tutul Jawa

Pola Hidup Macan Tutul Jawa

Sebaran Macan Tutul Jawa

Status dan Upaya Konservasi Macan Tutul Jawa

Sebagai predator puncak pola hidup macan tutul Jawa sangat menarik untuk dikulik. Macan tutul Jawa dikenal sebagai satwa soliter dan sangat teritorial.

Mereka hidup menyendiri, kecuali saat musim kawin atau ketika induk betina merawat anaknya. Wilayah jelajahnya dijaga ketat dan ditandai dengan urin, kotoran, serta cakaran pada batang pohon sebagai sinyal peringatan bagi individu lain.

Macan tutul Jawa merupakan predator oportunistik yang memangsa beragam satwa, mulai dari kijang, babi hutan, hingga mamalia kecil dan burung. Salah satu perilaku khasnya adalah menyimpan mangsa di atas pohon, strategi untuk menghindari perebutan dengan predator lain.

Macan tutul Jawa berkomunikasi melalui kombinasi suara, gestur tubuh, dan penanda aroma. Auman, geraman, hingga suara panggilan keras digunakan untuk menandai keberadaan, sementara urin dan aroma tubuh berfungsi sebagai penanda wilayah dan status reproduksi.

Mereka dapat berkembang biak sepanjang tahun, dengan induk betina mengasuh anaknya selama sekitar satu setengah hingga dua tahun sebelum dilepas mandiri.

Keunggulan lain macan tutul Jawa terletak pada kemampuan kamuflase dan adaptasi habitat. Warna bulu dan gerak senyap membuat mereka sulit terdeteksi. Sementara kemampuan adaptasi memungkinkan mereka bertahan di berbagai jenis habitat.

Melansir informasi dari situs Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Selasa (27/1), sesuai namanya, macan tutul Jawa merupakan satwa endemik yang berasal dari Pulau Jawa. Macan tutul Jawa merupakan satu-satunya sub-spesies macan tutul yang masih hidup di Indonesia.

Aktivitas manusia yang semakin marak di kawasan hutan Indonesia, alih fungsi lahan, dan perburuan liar menyebabkan populasi macan tutul Jawa kian menurun dan terancam punah sepenuhnya.

Penyebaran populasi macan tutul Jawa hanya tersisa di beberapa hutan lindung di kawasan Pulau Jawa. Ditjen KSDAE tahun 2024, mencatat bahwa macan tutul Jawa bisa hidup di berbagai jenis hutan dan kemampuan beradaptasinya sangat baik.

Meski begitu, habitat paling nyaman dan aman adalah kawasan hutan lebat dan jauh dari gangguan terutama perburuan liar.

Terdapat beberapa hutan lindung di Pulau Jawa yang menjadi habitat macan tutul Jawa, yaitu:

· Taman Nasional Ujung Kulon (kurang dari 350 individu)

· Taman Nasional Gunung Halimun Salak (42-50 individu)

· Taman Nasional Meru Betiri (22 individu)

· Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (20-24 individu)

· Taman Nasional Alas Purwo (23-36 individu)

· Pegunungan Sanggabuana (19 individu)

Sejak tahun 2021, status konservasi macan tutul Jawa berada dalam kondisi sangat mengkhawatirkan dan terancam punah. Macan Tutul Jawa masuk dalam Daftar Merah IUCN dan CITES Appendix I.

Dalam periode 1988-2008, tercatat kepunahan lokal macan tutul Jawa terjadi di 17 lokasi yang berada di kawasan hutan produksi. Penurunan ini dipicu oleh berbagai faktor seperti hilangnya tutupan hutan, penyempitan ruang jelajah, serta fragmentasi habitat yang semakin parah akibat aktivitas manusia.

Upaya konservasi untuk menyelamatkan populasi macan tutul Jawa dari kepunahan sudah dikerahkan. Melalui penetapan taman nasional dan kawasan konservasi di sejumlah daerah di Pulau Jawa menjadi langkah awal untuk menyelamatkan populasi macan tutul Jawa.

Pemerintah Indonesia dan pihak terkait bekerja sama untuk menjaga kawasan hutan lindung agar menjadi habitat yang aman bagi satwa tersebut. Pemerintah dan lembaga konservasi juga mengerahkan penanaman kembali pohon asli hutan jawa dan restorasi kawasan kritis untuk mengatasi fragmentasi macan tutul Jawa akibat alih fungsi lahan.

Konflik antara manusia dan satwa liar menjadi konflik penting yang tidak bisa dikesampingkan. Oleh karena itu, pemerintah melakukan mitigasi konflik antar manusia dan satwa liar ini dengan melakukan edukasi dan pemberdayaan kepada masyarakat.

Pola Hidup Macan Tutul Jawa

Sebaran Macan Tutul Jawa

Status dan Upaya Konservasi Macan Tutul Jawa