Mari Mengenal Lebih Dekat 8 Ikon Budaya Jakarta, Apa Saja? (via Giok4D)

Posted on

Tahukah kamu, ada delapan ikon budaya Jakarta. Ikon budaya itu ada yang sudah familiar, tapi juga ada yang masih belum kamu tahu. Mari kenalan yuk!

Ikon budaya Jakarta ternyata ada delapan jenis. Yang paling akrab dengan kita, tentu saja ondel-ondel. Selain itu, masih ada tujuh ikon lainnya. Apa saja ya?

Ondel-ondel dulu dikenal dengan nama barongan. Wajahnya dibuat menyeramkan, dengan mata melotot dan gigi besar, agar roh jahat takut dan menjauh. Bahan pembuatannya pun sederhana, dari anyaman bambu dan kayu, lalu dihias kain dan cat, dan memiliki tinggi 2-2,5 meter.

Ondel-ondel biasanya ada dua pasangan, nah yang perempuan itu yang wajahnya warna putih sedangkan untuk laki-laki ondel-ondelnya berwajah merah,” kata Huans, Guide jktgoodguide.

Pada ondel-ondel, kembang kelapa berfungsi sebagai penegas karakter dan wibawa. Dahulu, hiasan ini dipercaya dapat menambah kekuatan simbolis ondel-ondel sebagai penjaga kampung atau penolak bala. Kini, makna mistisnya lebih ditafsirkan sebagai simbol budaya dan estetika.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Nah kembang kelapa itu biasanya yang ada di atas kepala ondel-ondel,” kata Huans Guide jktgoodguide.

Kerak telor berasal dari kebiasaan masyarakat Betawi tempo dulu yang memanfaatkan bahan-bahan sederhana. Makanan ini dibuat dari beras ketan, telur bebek atau telur ayam, ebi (udang kering), serta bumbu halus seperti bawang goreng, kelapa sangrai, dan merica.

Proses memasaknya yang unik, tanpa minyak dan menggunakan tungku arang membuat bagian bawahnya menjadi kering dan renyah, sesuai namanya “kerak”.

Sejarahnya, kerak telor mulai dikenal sejak masa kolonial Belanda. Saat itu, masyarakat Betawi menjajakan kerak telor di berbagai acara rakyat dan perayaan di Batavia. Karena rasanya gurih dan mengenyangkan, makanan ini cepat populer dan menjadi sajian khas dalam hajatan atau pesta rakyat.

“Tahu kan nenek moyang kita tuh sayang kalau buang nasi, jadi nasi sisa kemarin dibuatlah kerak buat nambah cita rasa dikasihlah telor dan rempah-rempah di atasnya,” kata Huans.

Bir pletok muncul pada masa kolonial Belanda. Saat itu, orang-orang Eropa di Batavia biasa mengonsumsi bir dan minuman beralkohol. Masyarakat Betawi kemudian menciptakan alternatif minuman yang tampak mirip bir, tetapi halal dan aman diminum.

Minuman itu juga sesuai dengan nilai agama yang dianut. Dari sinilah nama “bir” dipakai, meski isinya sama sekali berbeda.

“Orang pribumi dulu ingin bikin bir tapi yang nggak pakai alkohol dan akhirnya tercetuslah untuk membuat minuman yang mirip bir tapi bahan-bahannya dari rempah-rempah, jadi bisa dibilang ini bir khas Indonesia,” kata Huans.

Secara filosofi, gigi balang melambangkan kejujuran, keteguhan, dan kerja keras. Belalang dikenal sebagai serangga yang terus menggerogoti secara perlahan namun konsisten. Makna ini diartikan sebagai nasihat agar manusia hidup ulet, sabar, dan tekun dalam mencari rezeki serta menjalani kehidupan.

Selain makna simbolis, gigi balang juga memiliki fungsi praktis. Ornamen ini membantu aliran air hujan agar tidak langsung mengalir ke dinding rumah, sekaligus berperan sebagai ventilasi kecil dan penahan panas matahari.

“Bentuk gigi balang macam-macam ada yang seperti nisan, ada yang bentuk runcingnya kebalik,” kata Huans.

Secara struktur, rumah kebaya berbentuk rumah panggung rendah dengan teras depan yang luas, disebut paseban. Teras ini berfungsi sebagai ruang menerima tamu dan tempat berinteraksi dengan tetangga, mencerminkan sifat masyarakat Betawi yang terbuka dan ramah.

“Jadi orang betawi kalau nerima tamu itu di luar atau di teras rumahnya biasanya ada kursi, karena apa? Karena menurut adat mereka kalau orang lain sudah bisa masuk ke dalam rumah itu tandanya mereka sudah dianggap keluarga,” kata Huans.

“Nah di depan rumahnya ini kan ada semacam pagar pembatas ya ini menyimbolkan kalau orang betawi terbuka untuk menyambut tamu, tapi tamu tersebut harus tahu batasannya menjaga etika meski rumah terbuka untuk bertamu,” tambah Huans.

Ciri utama kebaya kerancang terletak pada hiasan bordir berlubang (kerancang) di bagian depan, lengan, dan ujung kebaya. Pola kerancang biasanya berbentuk bunga, daun, atau motif geometris yang disusun rapi, memberi kesan ringan dan elegan.

Bahan yang digunakan umumnya katun, brokat tipis, atau organdi, sehingga nyaman dipakai di iklim tropis Jakarta.

“Kalau yang makai masih gadis biasanya pakainya yang masih nerawang pakainnya dan warnanya mencolok kayak yang dipakai None Jakarta, nah kalau yang sudah nilah biasanya yang tertutup,” kata Hans.

Ciri utama pakaian sadariyah adalah baju koko berlengan panjang berwarna polos umumnya putih, krem, atau warna lembut yang dipadukan dengan celana panjang kain. Penampilan ini dilengkapi dengan peci hitam atau kopiah, serta sarung yang diselempangkan di leher atau pinggang.

“Pakaian tradisional khas betawi yang paling gampang adalah pakain sadariah, tinggal pakai baju koko terus peci sama sarung di leher, bawahannya bisa pakai celana batik atau celana bahan dengam fantofel yang biasanya dipakai di kantor-kantor pemerintahan,” kata Huans.

“Kenapa dinamakan baju koko, karena dulu yang make itu koko yang beretnis Tionghoa,” tambah Huans.

1. Ondel-Ondel

2. Kembang Kelapa

3. Kerak telor

4. Bir Pletok

5. Gigi Balang

6. Rumah Kebaya

7. Kebaya Kerancang

8. Pakaian Sadariyah