Bagi para pelintas yang sering menumpangi kapal Pelni di Kawasan Timur Indonesia, Pelabuhan Murhum di Baubau, Sulawesi Tenggara bukan sekadar tempat transit. Saat kapal raksasa seperti KM Dobonsolo, KM Ciremai, atau KM Lambelu mulai menurunkan jangkarnya, pemandangan unik di permukaan laut selalu menyita perhatian.
Di antara riak ombak, puluhan anak dengan perahu kecil khas yang disebut koli-koli tampak sigap bermanuver. Teriakan ‘Om, lempar Om’ menggema, bersahutan dengan deru mesin kapal.
Ada satu kebiasaan unik yang dipahami betul oleh para penumpang setia. Jika ingin memberi lebih, uang kertas tidak dilempar begitu saja agar tidak basah atau tenggelam.
Penumpang biasanya memasukkan lembaran rupiah ke dalam botol plastik bekas air mineral, lalu melemparkannya ke laut. Botol botol berisi uang yang mengapung inilah yang kemudian menjadi rebutan.
Begitu botol rezeki atau koin koin melayang dari geladak setinggi belasan meter, tubuh tubuh kecil itu tanpa ragu melesat meninggalkan koli koli mereka, menyelam dan berenang lincah di kedalaman laut Teluk Bau bau.
Bagi ribuan penumpang, aksi ini adalah hiburan pelepas penat. Namun, di balik kelincahan mereka, ada pertaruhan nyawa yang sesungguhnya.
Profesi Anak Koin di Murhum menyimpan bahaya fatal yang sering kali luput dari sorak-sorai penumpang. Ancaman terbesar bukanlah ombak, melainkan perputaran mesin kapal kapal besar yang mereka kelilingi.
Area buritan kapal Pelni adalah zona maut. Ketika kapal hendak olah gerak baik sandar maupun lepas tali putaran baling baling raksasa di bawah air menciptakan arus sedot (turbulensi) yang sangat kuat.
Risiko tubuh kecil mereka terseret arus menuju baling baling menjadi ancaman nyata yang bisa merenggut nyawa atau menyebabkan cacat permanen dalam hitungan info.
Kucing-kucingan dengan Petugas Syahbandar Pemerintah setempat, melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bau-bau serta pihak PT Pelni, sebenarnya tidak tinggal diam.
Peringatan keras melalui pengeras suara hingga patroli rutin kerap dilakukan untuk menghalau koli koli menjauh dari area manuver kapal (zona labuh). Ini demi keselamatan mereka sendiri, adalah pesan yang terus diulang.
Pihak pelabuhan menyadari betul bahwa insiden di area vital ini tidak hanya membahayakan nyawa, tapi juga mengganggu keselamatan pelayaran. Namun, desakan ekonomi seringkali lebih nyaring daripada sirine peringatan.
Sering terjadi aksi kucing kucingan; saat petugas patroli datang, koli koli akan menjauh sejenak. Namun begitu pengawasan melonggar, mereka kembali merapat, memburu botol botol plastik berisi rupiah yang dilempar penumpang.
Di Pelabuhan Murhum, botol botol itu adalah penyambung hidup, meski harus didapatkan dengan cara berteman dengan maut di sisi lambung kapal kapal putih yang gagah itu.
