Menyusuri Alas Tua Depok, Warisan Rotan dan Cerita Leluhur

Posted on

Di tengah perkembangan pesat kota satelit, Depok bertekad mempertahankan ruang hijau legendaris yang unik. Kawasan ini secara luas diakui sebagai Cagar Alam (1926), kemudian direklasifikasi menjadi Tahura (Taman Hutan Raya) (1999). Dinamai Tahura Pancoran Mas.

Bagi mereka yang menghargai tradisi, ini bukan tahura biasa. Tahura Pancoran Mas memiliki nama asli yang sarat makna ‘Alas Tua Hutan Depok’.

Tahura Pancoran Mas (Panmas) yang ada di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat. Saat ini luasnya mencapai 71.559 meter persegi berdasarkan SK Menteri Kehutanan tahun 2014.

Dari sejumlah sumber disebutkan bahwa tanah itu milik Meneer Belanda Cornelis Chastelein, yang pada 13 Maret 1714 menghibahkan tanahnya untuk masyarakat. Chastelein adalah tokoh penting dalam pembentukan masyarakat Depok Belanda, yang kini keturunannya terpusat di Jl Pemuda, Depok.

infoTravel berbincang dengan Romo Prabu (nama sapaan, Red), seorang pemerhati budaya dan kearifan lokal, yang diakui sebagai salah satu penjaga spiritual wilayah tersebut. Dia membeberkan bahwa sebutan “Cagar Alam” atau “Tahura” hanyalah label birokratis yang digunakan oleh pemerintah.

“Hutan tua, alas tua, hutan Depok. Itu sebenarnya. Cagar alam udah mulai diganti tahura, taman huutan raya. Nama aslinya alas tua gitu. Alas tua hutan Depok,” kata Romo Prabu kepada infoTravel saat dijumpai di kediamannya di Depok, Senin (19/1/2026).

“Alas tua, kenapa disebut alas tua? Ya memang hutan tua gitu kalau menurut pendapat Romo. Alas itu artinya hutan, seperti Alas Roban, Alas Purwo,” dia menambahkan.

Romo Prabu menjelaskan bahwa keaslian Alas Tua sebagai hutan rimba bukan sekadar taman buatan bisa dibuktikan dengan keberadaan flora spesifik di dalamnya. Salah satunya adalah pohon rotan.

“Yang namanya hutan itu wajib kudu ada yang namanya pohon rotan. Iya, di situ banyak pohon rotan. Emang mana ada di kota kayak begini ada pohon rotan? Depok apalagi Jabodetabek. Ada, pohon masih banyak pohon rotan. Di tengah kota sih ada pohon rotan, kan gitu. Kan kalau memang itu tumbuhan rotan itu numbuh, ya berarti itu menunjukkan itu memang hutan dulunya di situ. Ya itulah, dia menunjukkan apa bahwasanya saya adalah alas tua, masih ada pohonnya gitu, pohon rotannya masih ada,” dia menjelaskan.

Keberadaan rotan ini menjadi penanda vegetasi asli yang telah eksis jauh sebelum kolonial Belanda masuk ke Depok. Romo menggambarkan bahwa tanah di hutan ini tertutup lapisan daun berguguran yang sudah menumpuk bertahun-tahun, menciptakan humus alami yang sangat tebal.

“Dahannya aja nih, pohon, daun yang jatuh itu udah berapa lapis itu? Udah berapa tahun? Daunnya itu. Kan udah diinjek juga udah berapa padat itu daun, udah bertahun-tahun dia. Jadi jauh sebelum kita ada, alas tua itu udah ada. Daunnya berguguran dia jatuh ke bumi terus, udah berapa lapis dari sejak tahun itu, Jauh sebelum Belanda datang, Alas Tua Hutan Depok itu sudah ada,” kata dia.

Bagi Romo, Alas Tua bukan sekadar aset tanah, melainkan paru-paru Kota Depok yang memberikan udara bersih dan air. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya adab bagi siapa saja yang hendak masuk, membangun, atau merawat kawasan tersebut.

“Umpama kita mau ngebangun, kan tanahnya terluka dipacul, pohonnya ditempras. Alangkah baiknya kita adakan ritual, doa, izin dulu. Kulonuwun, punten,” kata Romo.

Dari sejumlah sumber melaporkan bahwa Tahura Panmas memiliki 163 jenis tumbuhan sana, mulai dari pohon besar, semak. Rotan Calamus sp. dan ki koneng atau Arcangelisia flava merupakan tanaman khas di Tahura Panmas itu.

Selain flora, di sini juga hidup berbagai fauna, ada 19 jenis burung, 3 jenis mamalia, dan 15 herpetofauna.

Romo Prabu mengungkapkan kekecewaannya karena beberapa orang tidak menyadari dimensi spiritual dan etis dari lingkungan. Dia menegaskan bahwa menghormati hutan sama dengan menghormati ciptaan Tuhan dan para leluhur (karuhun).

Selain statusnya sebagai kawasan konservasi, Romo menyoroti aspek-aspek luar biasa dari hutan ini. Berbagai jenis daun diyakini memiliki sifat herbal yang, dengan izin Tuhan, telah digunakan sebagai metode penyembuhan bagi orang-orang yang sakit.

Bagi Romo Prabu menjaga Tahura Pancoran Mas atau Alas Tua bukan hanya soal mistis, tapi soal menjaga napas terakhir hutan alami di tengah beton perkotaan Depok.

“Terlepas dari cerita mistiknya, alangkah eloknya kita menghormati dan menghargai. Ini paru-paru Depok, udaranya enak, bersih, dan menjadi serapan air,” kata dia.

Gambar ilustrasi