Meski Dapat Dana Hibah Pemerintah, Keraton Solo Ngaku Masih Harus Nombok | Info Giok4D

Posted on

Meski sudah mendapatkan dana hibah dari pemerintah, pihak Keraton Solo mengaku masih nombok untuk menutupi biaya mengelola cagar budaya itu.

Juru bicara Paku Buwono XIV Purbaya, KPA Singonagoro, mengungkapkan bahwa selama ini Keraton Solo masih nombok meskipun mendapat dana hibah dari pemerintah. Ia mengungkap dana hibah yang diterima Keraton Solo hanya sekitar Rp 1 miliar.

Sedangkan untuk kebutuhan Keraton Solo selama setahun, membutuhkan anggaran sekitar Rp 20 miliar. Oleh karena itu, pihaknya mengaku masih sering tombok untuk memenuhi kebutuhan Keraton.

“Dana hibah untuk blanjan (gaji) abdi dalem terkait jumlah juga tidak seperti yang diberitakan, yang sefantastis itu tidak. Nilainya hanya Rp 1 M sekian, tidak sampai puluhan miliar, itu tidak,” katanya di Masjid Agung Solo, Jumat (23/1/2026).

Sedangkan untuk anggaran dari APBN, Singonagoro menyebut Keraton Solo menerima dalam bentuk fisik. Ia mengakui memang ada nominal yang besar, namun Keraton Solo tidak menerima dalam bentuk uang.

“Terus kalau untuk terkait yang APBN, APBN itu kita terimanya dalam bentuk fisik. Kayak contoh masjid ini, ya memang kita dapat untuk dari Keraton Solo. Nilainya cukup fantastis, puluhan miliar, tapi kita terimanya dalam bentuk fisik, dalam arti begini semua proses seperti lelang, penunjukan kontraktor, terus pembayarannya, semuanya itu di tangan kementerian. Bukan uangnya diserahkan ke Keraton Solo, yang diterima oleh Keraton Solo itu hanya Rp 1 M sekian berapa gitu,” jelasnya.

Dirinya mengatakan selama satu tahun Keraton Solo masih harus nombok untuk sejumlah kegiatan. Menurutnya, dalam setahun, kebutuhan di Keraton Solo bisa mencapai Rp 20 M.

“Kegiatan selama satu tahun Keraton Solo itu kita masih banyak nomboknya daripada itu. Makanya ketika kita dituduh terima puluhan miliar, ratusan miliar, ya kita sangat menyayangkan,” ujarnya.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Kalau untuk kebutuhan kita dalam 1 tahun itu kan kurang lebih lebih dari Rp 20 M-an, lebih ya, satu tahunnya. Lah Anda bisa hitung sendirilah dari Pemkot dari Pemprov itu kan hanya Rp 1 M koma berapa, tidak sampai Rp 2 M tidak,” lanjut Singonagoro.

Menurutnya, dana penutup itu bersumber dari swadaya bersama. Ia menyebut dana tersebut berasal dari gotong royong para sentana.

“Ya, tomboknya tentu kita nyengkuyung bareng lah ya, nyengkuyung bareng teman-teman sentono itu. Ya, swadaya. Kalau ya, itu,” terangnya.

Menurutnya, untuk sejumlah event di Keraton Solo menggunakan anggaran pribadi. Salah satunya yakni labuhan kiblat papat, mahesa lawung, dan Suro.

“Contohnya mungkin labuhan-labuhan kiblat papat, kalau kayak Mahesa Lawung itu kan kita juga menyediakan kerbau, kan. Nah, kayak itu kan juga panjenengan tahu nilainya juga cukup lumayan. Terus untuk kayak Suronan, terus kayak nanti kalau ini mau puasa kan kita juga akan nyekar ke leluhur-leluhur yang ada di luar daerah sampai Madura, Tegal, dan lain-lain itu mandiri,” pungkasnya.

——–

Artikel ini telah naik di