Monas (Monumen Nasional) masih jadi destinasi favorit bagi keluarga dan anak sekolah. Keramaiannya makin terasa di akhir pekan.
Memasuki area Monumen Nasional (Monas), pengunjung langsung disambut suasana yang ramai dengan banyak burung beterbangan di sekitar kawasan.
Sejak pagi, kawasan Monas dipadati wisatawan, termasuk pengunjung dari luar kota. Salah satunya Hari, warga Cianjur, yang datang bersama keluarganya. Ia mengaku senang bisa berkunjung ke Monas karena ini merupakan pengalaman pertamanya.
“Kami pilih datang hari ini karena ingin menghindari kepadatan. Kebetulan juga sedang berkunjung ke rumah saudara di Jakarta, jadi sekalian mampir ke Monas,” ujar Hari.
Menurutnya, suasana Monas terasa seru dan ramai. Selain menikmati area terbuka, pengunjung juga bisa masuk ke museum dan melihat pemandangan Jakarta dari puncak Tugu Monas.
“Di dalamnya ada museum, terus dari atas tugu bisa lihat Jakarta,” tambahnya. Namun, bagi wisatawan yang ingin naik hingga puncak Monas, perlu ekstra bersabar karena antrean cukup panjang, dengan waktu tunggu mencapai sekitar 45 menit.
“Antreannya panjang. Kami datang sekitar pukul 09.50 WIB, tapi baru bisa naik sekitar pukul 10.30 WIB. Karena anak-anak ingin naik, jadi kami tunggu saja,” ujar Rosidah, pengunjung asal Bogor.
Selain wisata keluarga, Monas juga menjadi tujuan studi tur sekolah. Qori, guru SDN Tengah 01, mengatakan Monas dipilih karena menjadi ikon utama Jakarta.
“Alasan kami memilih Monas untuk studi tur karena Monas adalah ciri khas Jakarta. Kalau ke Jakarta tapi tidak ke Monas rasanya kurang afdal,” kata Qori. Ia menambahkan, kunjungan ini juga bertujuan sebagai sarana edukasi bagi siswa.
“Di dalam Monas ada museum sejarah Indonesia, jadi anak-anak bisa belajar sambil berwisata sejarah,” tambahnya.
– Anak/Pelajar Museum & Cawan: Rp3.000 Hingga Puncak: Rp6.000
– Mahasiswa Museum & Cawan: Rp5.000 Hingga Puncak: Rp13.000
– Dewasa/Umum Museum & Cawan: Rp8.000 Hingga Puncak: Rp24.000
Memasuki area diorama, pengunjung disambut pencahayaan yang agak redup dengan iringan lagu-lagu nasional dan daerah. Terdapat beberapa kipas angin di dalam ruangan. Akses masuk dan keluar museum melalui terowongan bercahaya oranye, dengan pintu keluar berada di antara diorama 3 dan 4.
Area ini tampak ramai oleh pengunjung. Diorama Sisi 1 menampilkan sejarah awal Nusantara, mulai dari masyarakat Indonesia purba, Bandar Sriwijaya, Candi Borobudur, hingga peran pesantren dalam penyatuan bangsa dan berbagai peristiwa kerajaan seperti Majapahit dan Bugis-Makassar.
Diorama Sisi 2 mengangkat perlawanan rakyat terhadap penjajahan, di antaranya Perang Pattimura, Perang Diponegoro, Perang Aceh, Tanam Paksa, hingga kebangkitan nasional dan peran tokoh Kartini.
Diorama Sisi 3 menampilkan masa pergerakan nasional hingga awal kemerdekaan, seperti Muhammadiyah, Perhimpunan Indonesia, STOVIA, Romusha, Proklamasi Kemerdekaan, pengesahan Pancasila dan UUD 1945, serta Pertempuran Surabaya.
Diorama Sisi 4 menggambarkan masa mempertahankan kemerdekaan hingga Orde Baru, mulai dari gerilya Jenderal Sudirman, Konferensi Asia Afrika, pemilihan umum pertama, pembebasan Irian Jaya, hingga peristiwa Surat Perintah 11 Maret.
Diorama Sisi 5 menampilkan peristiwa yang lebih modern, seperti Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Non-Blok ke-10 tahun 1992 dan integrasi Timor Timur.
Fasilitas toilet dan musala tersedia di dalam area museum, dengan pemisahan untuk pria dan wanita. Toilet dan musala wanita berada di antara diorama 1 dan 2, sementara fasilitas pria berada di antara diorama 2 dan 3.
Sementara itu, Cawan Monas berada di lantai 2 dan dapat diakses dengan berbelok ke arah kanan setelah naik dari area museum.
