Trevi Fountain atau Air mancur Trevi akan mengenakan tiket masuk kepada turis internasional. Warga lokal tetap gratis.
Langkah ini merupakan serangkaian skema pelestarian warisan budaya di Italia. Langkah ini dipromosikan oleh Anggota Dewan Pariwisata dan Acara Besar Alessandro Onorato dan disetujui oleh pemerintah kota, seperti dikutip dari Euronews pada Kamis (8/1/2026).
Tiket masuk ini merupakan bagian dari rencana untuk mengelola arus wisatawan dan melindungi situs dari kerusakan dan degradasi yang disebabkan oleh kerumunan pengunjung.
Italia memperkirakan peningkatan pendapatan kota hingga 20 juta euro melalui skema tiket masuk itu. Nantinya, uang itu akan menjadi sumber dana untuk fasilitas bagi wisatawan dan layanan yang didedikasikan untuk situs tersebut.
Selama beberapa bulan belakangan, area di sekitar air mancur telah dikontrol dengan membatasi jumlah pengunjung maksimal 400 orang dalam satu waktu. Kini, sebagai bagian dari langkah-langkah baru, dua jalur akses terpisah akan diatur, satu untuk penduduk setempat yang akses masuknya tetap gratis, dan satu lagi untuk wisatawan yang dapat membayar tiket mereka dengan kartu kredit.
Tak dapat dipungkiri, Trevi Fountain menjadi ikon wisata Italia. Hanya dalam enam bulan pertama tahun 2025, situs tersebut mencatat lebih dari 5,3 juta pengunjung, jumlah yang lebih tinggi daripada Pantheon sepanjang tahun 2024.
Namun, tidak sedikit kritik terhadap monetisasi ruang publik. Asosiasi Codacons menyebut tiket tersebut sebagai hal yang merugikan, dengan alasan bahwa keindahan seperti alun-alun dan air mancur harus tetap dapat diakses secara gratis dan bahwa hasil dari pajak pariwisata seringkali tidak diinvestasikan kembali untuk meningkatkan layanan.
Menurut asosiasi tersebut, justru lebih baik untuk mempertahankan akses kuota untuk menghindari kepadatan dan perusakan.
Ada sebuah tradisi yang dilakukan oleh turis tiap datang ke Trevi Fountain, yaitu lempar koin. Tradisi melempar koin ke dalam Trevi Fountain di Roma didasari oleh mitos populer yang menentukan nasib pengunjung berdasarkan jumlah koin yang mereka jatuhkan ke air.
Jika seseorang melempar satu koin, mitosnya ia akan kembali lagi ke Roma suatu hari nanti. Melempar dua koin dipercaya akan membawa seseorang menemukan cinta baru atau pasangan hidup dari Italia, sementara melempar tiga koin diyakini sebagai pertanda akan segera menikah.
Agar keinginan tersebut dianggap “sah” menurut tradisi, koin harus dilemparkan menggunakan tangan kanan melalui bahu kiri dengan posisi tubuh membelakangi air mancur.
Selain nilai mitosnya, tradisi ini memiliki dampak sosial yang nyata karena seluruh koin yang terkumpul-yang jumlahnya bisa mencapai ribuan Euro setiap harinya-secara rutin diambil oleh petugas untuk disumbangkan kepada badan amal Caritas Roma. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membiayai dapur umum dan membantu masyarakat yang membutuhkan di kota tersebut.
Meskipun tradisi ini sangat ikonik dan terinspirasi dari film tahun 1954 berjudul Three Coins in the Fountain, pemerintah setempat sangat melarang pengunjung untuk masuk ke dalam kolam atau mencoba mengambil koin secara ilegal karena akan dikenakan denda yang berat.






