Sebanyak tiga jenazah korban pesawat ATR 42-500 jatuh pada Minggu (18/1/2026) berhasil ditemukan di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Selain itu, black box pesawat dengan nomor registrasi PK-THT juga ditemukan.
Dari tiga korban itu, dua di antaranya sudah diidentifikasi dan namanya diumumkan ke publik. Yakni, Florencia Lolita Wibisono, seorang pramugari berusia 33 tahun, dan Deden Mulyana, salah satu penumpang pesawat.
Sementara itu, jenazah korban ketiga masih dalam proses identifikasi. Jenazah ketiga diserahkan ke tim Disartee Victor Identification (DVI) Mabes Polri di RS Bhayangkara Makassar pada Rabu (21/1) sekitar pukul 23.20 Wita.
Basarnas membawa jenazah tersebut dengan menggunakan mobil ambulans yang dikawal Patwal dari Posko Tompo Bulu, Kabupaten Pangkep.
Saat penyerahan, tim DVI terlebih dahulu melakukan pengecekan fisik paket jenazah. Kemudian, mendata sejumlah barang yang dibawa oleh perwakilan Basarnas.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan jenazah ketiga tersebut ditemukan berkat penyisiran intensif yang dilakukan oleh beberapa Search and Rescue Unit (SRU) darat di sekitar lokasi badan dan ekor pesawat.
“Pada hari kelima operasi, tim SAR gabungan menemukan bagian tubuh korban berupa tulang serta sejumlah barang pribadi korban di beberapa titik pencarian. Seluruh temuan langsung diamankan sesuai prosedur,” ujar Arif.
“Penyerahan body part kepada tim DVI dilakukan guna proses identifikasi secara medis dan forensik, sehingga dapat dipastikan identitas korban secara akurat,” kata dia.
Tim SAR gabungan juga menemukan sejumlah barang milik korban, di antaranya laptop, telepon genggam, paspor, flash disk, kacamata, pouch, dokumen pribadi, dan beberapa barang lainnya yang ditemukan di sekitar bangkai pesawat dan jalur evakuasi.
“Seluruh barang temuan korban telah didata, diamankan, dan akan diserahkan kepada pihak berwenang sesuai mekanisme yang berlaku,” Arif menambahkan.
Selain tiga jenazah, black box atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 juga ditemukan. Black box, yang terpasang dalam bagian potongan ekor pesawat, ditemukan di tebing sedalam 150 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
“Dari puncak kami sudah diplot, ukur, kurang lebih 150 dari puncak,” kata Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi di Posko Operasi SAR gabungan, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep.
Dody mengatakan tim SAR bermula mengidentifikasi temuan ekor pesawat berdasarkan pantauan visual sejak Selasa (20/1). Personel sempat berupaya menjangkau titik lokasi, tetapi gagal karena terhambat medan yang terjal.
Setelah itu dibentuk tim khusus (timsus) dari unsur TNI, Basarnas, dan tim reaksi cepat Tonasa. Timsus lalu dikerahkan ke lokasi hingga berhasil mengamankan black box yang terpasang di bagian ekor pesawat.
“Kita bisa berhasil menemukan black box dan alhamdulillah sekarang sudah bisa kita lepas dari dudukannya dan sedang proses turun menuju posko kita di Desa Tompobulu ini,” ujar dia.
Dody memastikan black box dalam kondisi utuh saat ditemukan. Dia berharap data penerbangan dalam black box aman untuk mengungkap penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT).
“Kita doakan saja data-datanya masih aman. Itu intinya. Kalau teknisnya bukan bidang kami,” ujar Dody.
Sementara itu, Asrendam XIV/Hasanuddin Kolonel Inf Abi Kusnianto mengatakan black box menjadi salah satu fokus di tengah operasi SAR. Pencarian black box juga atas permintaan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Kita berusaha utama karena itu menjadi hal kunci buat mengetahui kenapa terjadinya kecelakaan, dan kami juga dari KNKT pun meminta menargetkan hal tersebut,” kata Abi Kusnianto.
Abi menambahkan tim SAR gabungan tetap memaksimalkan pencarian korban yang belum ditemukan. Sejumlah potongan pesawat dan barang milik korban juga telah diamankan.
“Kita temukan serpihan, ketemu benda-benda yang lebih besar, sayap, kemudian badan pesawat, kepala pesawat ada kelihatan, kursi yang dilipat, dokumen-dokumen dari korban,” ujar dia.
Black box itu kemudian diserahkan kepada Kabasarnas RI. Setelah itu alat itu akan diserahkan kepada KNKT untuk investigasi lebih lanjut.
“Sesuai dengan kesepakatan kita, kita hanya mencari dan menemukan, nanti kita berikan ke Kabasarnas selanjutnya diserahkan ke KNKT,” kata dia.
