Pohon Randu Berusia Ratusan Tahun di Borobudur Itu Mau Ditebang!

Posted on

Pohon randu alas yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun di Borobudur bakal ditebang. Alasannya warga setempat khawatir pohon itu bakal roboh.

Pohon ikonik yang berdiri di Lapangan Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang itu bakal ditebang lantaran pohon tersebut sudah kering dan dikhawatirkan bisa menimpa rumah warga.

Pohon randu alas ini memang sudah menjadi ikon untuk Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Terlebih lapangan ini menjadi salah satu tujuan destinasi rombongan wisatawan yang naik VW, Jeep, ATV maupun lainnya.

Biasanya wisatawan berfoto-foto maupun selfie di Lapangan Desa Tuksongo dengan latar belakang perbukitan Menoreh. Adapun pohon randu alas ini berada di sisi pojok utara lapangan.

Bahkan dari kejauhan saat menuju lokasi lapangan sudah terlihat. Pasalnya, pohon randu alas yang berusia ratusan tahun ini menjulang tinggi serta terlihat kering.

Pohon tersebut batangnya sudah mengelupas kering. Adapun kondisi pohon yang kering dari bawah sampai ranting-ranting kering.

Di bawah pohon randu alas ini dipergunakan untuk tempat berteduh. Di mana dibuat bangunan peneduh memutar separuhnya untuk berteduh.

Kepala Desa Tuksongo, M Abdul Karim, saat dimintai konfirmasi membenarkan rencana untuk menebang randu alas yang jadi ikon desanya.

“Sebetulnya kami dari desa sangat menyayangkan. Karena pohon randu itu sebagai ikon desa kami, tetapi berhubung pohon randu itu usianya sudah ratusan tahun,” kata Karim kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).

“Wong itu (pohon randu) dari simbah saya berada, pohon itu sudah besar. Jadi, kemungkinan sudah lebih dari 200 tahunan. Tetapi, berhubung pohon randu itu kebetulan di Lapangan Randu Alas,” sambung Karim.

Lapangan Randu Alas, kata Karim, pada saat ini dipakai untuk spot foto untuk wisatawan yang berkunjung di Desa Tuksongo.

“Wisata VW, jeep, ATV. Rata-rata tetap masuk ke dalam (lapangan) untuk mengabadikan atau foto di lapangan. Dan, rencana penebangan itu bentuk kita antisipasi sebelum terjadi apa-apa,” jelasnya.

“Karena pohon randu itu tidak ada galihe (inti kayu), jadi mudah patah. Yang kami takutkan bilamana pohon tidak ditebang, nantinya ada salah satu ranting ataupun pohon yang menimpa para wisatawan,” tambah Karim.

Karim mengatakan, sebelum adanya kesepakatan untuk dipotong, pemerintah desa (Pemdes), BPD dan Bumdes telah berupaya.

“Kita sudah ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup) minta pengupayaan agar pohon bisa disembuhkan dari pengeringan. Tetapi, kita sudah berusaha pohon itu sudah diobati ternyata tidak mandhi (tetap kering). Mungkin, memang itu sudah waktunya (mati), karena usia dan upaya kami termasuk gagal tidak bisa menyelamatkan,” beber Karim.

“(Rencana penebangan) Penebangan mungkin segera di bulan ini. Insyaallah, kami tebang karena memang pohon sudah dinyatakan mati,” lanjutnya.

Lahan yang ditumbuhi pohon randu alas tersebut, katanya, sebagian milik warga dan desa. Kemudian, untuk menebang rencananya penebangnya dari Wonosobo.

“(Dipotong) Desa serta warga sudah sepakat. Kemarin, kita sudah ke PU dan DLH (minta bantuan saat penebangan). Valid belum tahu (penebangannya), penebangan nggak mudah karena besar. Jadi, harus matang persiapannya agar tidak terjadi apa-apa,” tambahnya.

“Diameter (nggak tahu). Pernah dicakup orang 8 nggak nyakup,” tuturnya.

Ditemui terpisah, salah satu warga, Ashari (53), bercerita dulu kakeknya menanam pohon randu alas tersebut sebagai batas tanah.

“Sebelah sini (utara) tanah pribadi, sana tanah bengkok. Kemudian, kalau zaman dulu ada batas, sama mbah buyut saya kan dulu ditanami (pohon randu alas),” kata dia.

“Kemudian waktu orang tua saya, H Munajir (almarhum), dulunya sudah diwakafkan ke masjid. Dari masjid dijual (kepada seseorang) laku Rp 900 ribu, tapi sama perwakilan masyarakat tidak boleh (dijual) untuk tetenger (penanda). Nggak jadi (dijual), sudah dibeli, tapi dikembalikan (uangnya) sekitar tahun 1990-an,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat kecil melihat pohon randu alas sudah seperti sekarang ini.

“Saya sudah 53 tahun (dari dulu pohon sudah besar). Tahunya sudah besar (pohon) nggak tambah, nggak kurang,” katanya yang tinggal persis di bawah pohon randu alas.

“Saya khawatir (hujan deras dan angin). Lha ini saja ranting-ranting sudah jatuh di atap yang kecil-kecil. Itu mulai rapuh,” tuturnya.

Warga lainnya, Atmojo, mengatakan pohon randu alas itu sudah menjadi salah satu ikon Desa Tuksongo.

“Karena barometernya wisata di Lapangan Tuksongo, salah satunya randu alas. Ya memang karena kondisi alam,” katanya.

“Kalau saya nggak usah dipotong semua (dari bawah), tapi disisakan paling nggak 5 meter. Di sini akan menjadi penanda. Secara historis, kalau orang bertanya masih ada sisanya karena sudah menjadi ikon,” ucap Atmojo.

Pohon randu alas tersebut, kata dia, jika dipotong semua dari bawah tidak ada ceritanya.

“Kalau saya pengennya jangan dipotong semua. Tapi, disisakan sebagai penanda,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di

Warga Sepakat untuk Menebang


Lahan yang ditumbuhi pohon randu alas tersebut, katanya, sebagian milik warga dan desa. Kemudian, untuk menebang rencananya penebangnya dari Wonosobo.

“(Dipotong) Desa serta warga sudah sepakat. Kemarin, kita sudah ke PU dan DLH (minta bantuan saat penebangan). Valid belum tahu (penebangannya), penebangan nggak mudah karena besar. Jadi, harus matang persiapannya agar tidak terjadi apa-apa,” tambahnya.

“Diameter (nggak tahu). Pernah dicakup orang 8 nggak nyakup,” tuturnya.

Ditemui terpisah, salah satu warga, Ashari (53), bercerita dulu kakeknya menanam pohon randu alas tersebut sebagai batas tanah.

“Sebelah sini (utara) tanah pribadi, sana tanah bengkok. Kemudian, kalau zaman dulu ada batas, sama mbah buyut saya kan dulu ditanami (pohon randu alas),” kata dia.

“Kemudian waktu orang tua saya, H Munajir (almarhum), dulunya sudah diwakafkan ke masjid. Dari masjid dijual (kepada seseorang) laku Rp 900 ribu, tapi sama perwakilan masyarakat tidak boleh (dijual) untuk tetenger (penanda). Nggak jadi (dijual), sudah dibeli, tapi dikembalikan (uangnya) sekitar tahun 1990-an,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat kecil melihat pohon randu alas sudah seperti sekarang ini.

“Saya sudah 53 tahun (dari dulu pohon sudah besar). Tahunya sudah besar (pohon) nggak tambah, nggak kurang,” katanya yang tinggal persis di bawah pohon randu alas.

“Saya khawatir (hujan deras dan angin). Lha ini saja ranting-ranting sudah jatuh di atap yang kecil-kecil. Itu mulai rapuh,” tuturnya.

Warga lainnya, Atmojo, mengatakan pohon randu alas itu sudah menjadi salah satu ikon Desa Tuksongo.

“Karena barometernya wisata di Lapangan Tuksongo, salah satunya randu alas. Ya memang karena kondisi alam,” katanya.

“Kalau saya nggak usah dipotong semua (dari bawah), tapi disisakan paling nggak 5 meter. Di sini akan menjadi penanda. Secara historis, kalau orang bertanya masih ada sisanya karena sudah menjadi ikon,” ucap Atmojo.

Pohon randu alas tersebut, kata dia, jika dipotong semua dari bawah tidak ada ceritanya.

“Kalau saya pengennya jangan dipotong semua. Tapi, disisakan sebagai penanda,” pungkasnya.

——-

Artikel ini telah naik di

Warga Sepakat untuk Menebang