Pulau Okunoshima atau yang dikenal juga sebagai Pulau Kelinci di Jepang mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Takehara, Prefektur Hiroshima. Pulau itu terancam mengalami overtourism
Ratusan kelinci yang tinggal di Pulau Okunoshima sedang menghadapi tantangan baru, yaitu kunjungan wisatawan yang tak terkendali. Akibat paling signifikan, turis-turis meninggalkan sampah sampai-sampai mengganggu ekosistem di sana.
Dikutip dari The Star, Selasa (20/1/2026) untuk mencegah kerusakan lebih jauh, kota itu berencana memperkenalkan pajak pariwisata. Kebijakan itu mulai diterapkan setelah tahun fiskal 2028.
Menurut data, sekitar 195.000 wisatawan mengunjungi pulau itu sepanjang 2024. Pajak itu akan digunakan untuk menjaga lingkungan seperti membersihkan sisa makanan kelinci, memasang papan petunjuk multibahasa bagi wisatawan asing, dan merawat peninggalan sejarah perang, termasuk sisa fasilitas penyimpanan gas beracun milik Tentara Kekaisaran Jepang.
Kondisi pulau itu semakin memprihatinkan setelah beberapa kelinci ditemukan mati secara mencurigakan antara November 2024 dan awal 2025, bahkan seorang pria ditangkap atas dugaan penyiksaan hewan.
Peristiwa tersebut memperkuat urgensi pemerintah untuk mengelola wisata dengan lebih teratur.
Pemerintah kota akan mengadakan pertemuan pertama komite studi pajak pariwisata, melibatkan pejabat kota, Kementerian Lingkungan Hidup, akademisi, dan pihak terkait lainnya. Komite ini akan membahas cara pengumpulan pajak, besaran yang dipungut, hingga penggunaan pendapatan untuk pelestarian pulau.
Langkah Takehara mengikuti jejak kota Hatsukaichi, juga di Prefektur Hiroshima, yang pada Oktober 2023 mengenakan pajak 100 yen (Rp 11 ribu) per pengunjung usia sekolah dasar ke atas di Pulau Miyajima, rumah bagi Kuil Itsukushima, situs Warisan Dunia UNESCO.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Dengan pajak pariwisata, Takehara berharap wisatawan tetap bisa menikmati keindahan Pulau Kelinci tanpa merusak alam dan kehidupan para kelinci yang sudah menjadi ikon pulau ini.






