Ratusan Penerbangan di Karibia Batal Usai AS Serang Venezuela, Penumpang Terlantar

Posted on

Perjalanan udara di kawasan Karibia kacau di tengah musim liburan. Ratusan penerbangan dibatalkan akibat operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela.

Penyerangan itu membuat wilayah udara di sekitarnya ditutup sementara. Pantauan flightRadar24.com tidak ada satu pun penerbangan maskapai yang melintasi wilayah udara Venezuela sepanjang Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.

Dampak tidak adanya penerbangan itu merembet ke negara-negara sekitar. Maskapai besar terpaksa membatalkan ratusan penerbangan di Karibia bagian timur.

Gangguan penerbangan itu diperkirakan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.

“FAA membatasi wilayah udara di Karibia dan Venezuela untuk memastikan keselamatan masyarakat yang menggunakan penerbangan,” kata Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, dilansir dari Huffpost, Minggu (4/1).

“Silahkan hubungi maskapai penerbangan Anda secara langsung jika penerbangan Anda terkena dampaknya,” keterangan ditambahkan.

Gejolak panas AS-Venezuela ini bukan terjadi begitu saja dan kini mencapai puncaknya. Mengutip berbagai sumber berikut ini alasan serangan yang terjadi.

Militer Amerika Serikat menggelar strike berskala besar di Venezuela pada 3 Januari 2026 dan menangkap Presiden Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores. Kemudian, mereka dibawa ke AS untuk menghadapi dakwaan, termasuk tuduhan narkotika dan terorisme.

Presiden Donald Trump menyatakan operasi itu adalah upaya untuk menindak kepemimpinan yang diduga terlibat dalam kejahatan terorganisir termasuk perdagangan narkoba dan jaringan kriminal internasional.

Pemerintah AS menegaskan tindakan itu merupakan bagian dari penegakan hukum, bukan sekadar intervensi militer.

AS telah lama menuding Maduro dan rezimnya terkait dengan perdagangan narkoba, termasuk peran negara itu sebagai jalur transit narkotika yang memasuki pasar AS. Tuduhan ini menjadi salah satu justifikasi yang sering disebut Washington dalam beberapa bulan terakhir.

Maduro dianggap Pemerintah AS sebagai presiden yang tidak sah.

“Maduro bukan Presiden Venezuela da rezimnya bukanlah pemerintahan yang sah. Maduro adalah kepala kartel Los Sole, sebuah organisasi teror narkoba yang sudah menguasai negara itu dan kini ia didakwa karena menyelundupkan narkoba ke AS,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio dikutip dari The Guardian.

Dari laporan CNBC, Presiden Trump dengan blak-blakan mengatakan usai menggempur Caracas dan menangkap Maduro akan mengambilalih cadangan minyak dan gas Venezuela.

“Perusahaan-perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat kami yang terbesar di manapun di dunia ini akan masuk (ke Venezuela) untuk mengeluarkan investasi miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak. Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini,” kata Trump.

Venezuela merupakan salah satu negara pendiri OPEC (organisasi negara-negara penjual minyak). Mereka memiliki cadangan minyak yang paling banyak di dunia, jumlahnya pun mencapai 303 miliar barel atau sekiranya 17% dari cadangan minyak dunia.

Fakta Serangan AS ke Venezuela

AS Melancarkan Operasi Militer dan Menangkap Presiden Nicolas Maduro

Pemerintah AS Sebut Ini Bagian dari Penegakan Hukum Internasional

Tuduhan Narkotika dan Keamanan Wilayah

Isu Pengambilalihan Cadangan Sumber Daya Alam