Salju Lumpuhkan Asia Timur, Rusia Alami Musim Dingin Terparah dalam 60 Tahun

Posted on

Gelombang musim dingin ekstrem membuat wilayah Asia Timur-Rusia nyaris tak bergerak. Salju melumpuhkan sistem transportasi hingga penerbangan ditutup.

Rusia alami hujan salju terparah dalam 60 tahun terakhir menyelimuti kawasan itu, menimbun jalan, rumah, hingga kendaraan dengan salju setinggi beberapa meter.

Badai salju itu juga menjalar ke berbagai penjuru Asia. Shanghai yang jarang bersalju mendadak berubah putih, sementara wilayah barat laut Jepang dihantam hujan salju lebat dan angin kencang hingga puluhan penerbangan terpaksa dibatalkan.

Aktivitas transportasi di sejumlah negara pun terganggu, dari jalanan yang ditutup di China hingga penumpang pesawat yang tertahan di bandara Jepang.

Mengutip The Independent, Jumat (23/1/2026) para ahli menyebut cuaca ekstrem ini dipicu oleh masuknya gelombang udara dingin dari Arktik. Ilmuwan iklim Theodore Keeping menjelaskan, fenomena tersebut terjadi akibat gangguan pada arus jet di atmosfer.

“Terdapat dua gelombang udara dingin yang datang secara bersamaan dari Arktik karena adanya gelombang pada arus jet,” ujar Keeping.

Ia menambahkan melemahnya vorteks kutub Arktik membuat udara dingin lebih mudah turun ke wilayah Rusia dan Asia.

Sementara, di Semenanjung Kamchatka, Rusia Timur Jauh, curah salju luar biasa membuat pintu bangunan tertutup rapat dan mobil-mobil terkubur. Dalam dua pekan pertama Januari saja, salju setebal lebih dari dua meter turun, setelah sebelumnya wilayah ini menerima 3,7 meter salju sepanjang Desember.

Kendaraan berpenggerak empat roda pun kewalahan. Warga harus menggali jalur sempit di antara dinding salju untuk bisa keluar rumah. Di Petropavlovsk-Kamchatsky, kota pelabuhan di kawasan itu, warga terlihat berjalan di atas gundukan salju setinggi lampu lalu lintas, bahkan ada yang melompat dari tumpukan salju sekadar mencari hiburan.

Kata Polina Tuichieva, warga sekaligus blogger setempat, menggambarkan kondisi kotanya yang berjarak sekitar 6.800 kilometer dari Moskow. Sistem cuaca yang sama bergerak ke selatan dan membawa hujan salju langka ke Shanghai.

Otoritas setempat memperingatkan suhu dingin bisa bertahan setidaknya tiga hari. Terakhir kali kota ini mengalami hujan salju lebat adalah pada Januari 2018.

“Ini pertama kalinya saya melihat salju turun begitu lebat di Shanghai,” ujar mahasiswa di sana, Li Meng.

Perubahan cuaca terasa sangat kontras. Sepekan sebelumnya, Shanghai menikmati suhu hingga 20 derajat Celsius, bahkan membuat pohon osmanthus berbunga.

Media pemerintah China melaporkan penurunan suhu tajam juga terjadi di wilayah selatan Sungai Yangtze dan Huai. Di Provinsi Guizhou, suhu diperkirakan turun hingga 10-14 derajat Celsius.

Jalanan yang membeku memaksa penutupan sebagian ruas jalan utama di 12 provinsi, termasuk Shanxi, Mongolia Dalam, dan Heilongjiang.

Di Jepang, hujan salju lebat dan angin kencang mengganggu perjalanan di sepanjang pantai barat laut, tepat saat musim wisata ski sedang ramai.

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan cuaca ekstrem akan berlangsung hingga 25 Januari dan mengimbau warga menghindari perjalanan yang tidak penting.

Dampaknya, ANA Holdings membatalkan 56 penerbangan yang memengaruhi sekitar 3.900 penumpang. Japan Airlines juga membatalkan 37 penerbangan dengan lebih dari 2.200 penumpang terdampak. Sebagian besar pembatalan terjadi di Bandara New Chitose, dekat Sapporo, Hokkaido.