Tahura Pancoran Mas: Sejarah dan Misteri Hutan di Tengah Permukiman Depok

Posted on

Tak banyak warga Depok yang menyadari bahwa di balik lebatnya vegetasi Taman Hutan Raya Pancoran Mas atau Cagar Alam Depok, tersimpan cerita panjang tentang masa lalu. Kawasan hijau itu bukan hanya tempat pelarian dari polusi kota, tetapi juga ruang sunyi yang menyimpan sejarah dan misteri.

infoTravel menjelajahi kawasan itu bersama Imam Mahdi, pengawas Tahura Pancoran Mas, dan Romo Prabu, pemerhati kebudayaan dan kearifan lokal, yang juga mengawasi taman hutan tersebut pada Rabu (21/1/2026).

Tahura Pancoran Mas yang berada di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat itu dipagar. Tetapi, dari luar pohon lebat dengan beragam jenis bisa dilihat dari luar.

Saat memasuki area konservasi itu, tersaji hamparan bambu yang tumbuh rapat dan menjulang. Imam mengatakan bahwa jenis bambu yang dominan di wilayah ini adalah bambu tali.

“Ini kita berada di dapurnya bambu, atau rumpunan bambu. Jenisnya bambu tali,” ujar Imam di lokasi.

Uniknya, masyarakat lokal dan pengelola menggunakan istilah “dapur” untuk menyebut satu rumpun atau kelompok bambu. Imam menjelaskan bahwa di lokasi tersebut terdapat pembagian wilayah vegetasi.

“Di sini ada dua lokasi, blok utara dan blok selatan. Di sana ada lagi dapur-dapur bambu tali,” kata Imam.

Dia menambahkan bahwa bambu jenis ini pada masa lampau kerap digunakan masyarakat asli sebagai tiang-tiang fondasi bangunan rumah.

Bambu itu tampak betah dan tak terusik di sana. Salah satu pertanda, boleh dibilang ini sebuah fenomena tak biasa, adalah munculnya kembang bambu atau bunga bambu. Menurut Imam, kembang bambu muncul dari bambu yang sudah tua.

“Dia tumbuh semacam tanaman bunga. Bambu itu harus tua banget baru keluar kembang,” kata Imam.

Selain fenomena botani, keberadaan kembang bambu itu juga kental dengan nuansa pengobatan tradisional dan mistis. Secara herbal, serabut kembang bambu dipercaya memiliki khasiat penyembuhan luka.

“Fungsinya kalau buat luka, ini diambil, dikunyah atau dibejek-bejek, lalu tempelin di luka. Insyaallah cepat kering dan sembuh,” kata Imam.

Menurut Prabu, yang juga juru kunci Tahura Panmas, tak sedikit pula yang meyakini benda itu memiliki energi khusus untuk dijadikan jimat atau disimpan di dompet sebagai pembawa keberuntungan.

Merujuk sejumlah sumber, Tahura Pancoran Mas memiliki 163 jenis tumbuhan, mulai dari pohon besar hingga semak belukar. Rotan atau Calamus sp. dan ki koneng atau Arcangelisia flava, serta bambu menjadi tanaman yang dominan.

Prabu kemudian mengajak kami melihat Tahura dari perspektif sejarah, mitos, dan spiritual. Dia menegaskan bahwa tanah di Tahura adalah ‘tanah surga’, karena kesuburannya.

Dia meyakini bahwa area itu memiliki lapisan humus yang tebal, terbentuk selama ratusan tahun tanpa pernah terganggu oleh aktivitas manusia. Prabu juga percaya bahwa kawasan itu bukan sekadar hutan dengan bergagai tanaman dan satwa liar, melainkan situs bersejarah.

“Ini nggak mesti harus kuburan atau batu candi. Ini keramat, ini termasuk situs bersejarah yang ada di Depok,” ujar Prabu.

Prabu meyakini kawasan Tahura dulu adalah sebuah taman indah, tempat para putri dan ratu kerajaan Sunda kuno beraktivitas. Romo Prabu menyebut nama-nama tokoh legenda yang diyakini jejaknya ada di sana.

“Ini dulu taman indah. Istananya Ratu Gumarang di sini. Terus Raja-raja Sunda kan ada Ratu Jaya, ada Ratu Selendang, makamnya masih ada di sana,” kata Prabu.

Dia menceritakan tentang pertemuan-pertemuan historis para ratu yang berkumpul dan melakukan aktivitas rekreasi di taman ini. Romo Prabu mendorong kami untuk menyelami alam bawah sadar, membayangkan kemegahan taman ini di masa lalu, yang kini telah berubah menjadi hutan lebat.

Sejumlah sumber mengatakan Tahura Pancoran Mas itu merupakan tinggalan Meneer Belanda Cornelis Chastelein, sosok penting dalam masyarakat Depok Belanda.

Tahura Pancoran Mas merupakan komponen penting dari ekosistem kota, sekaligus menjaga narasi historis yang kaya dari tanah Pasundan, narasi yang semakin terancam terlupakan di tengah gelombang modernisasi.

Tahura Pancoran Mas menjadi surga bagi pecinta wisata sejarah yang juga ingin menikmati alam dan menyelami misteri tersembunyi; setiap sudutnya menyimpan cerita yang menunggu untuk diungkap.

Saat ini Tahura Pancoran Mas tengah direvitalisasi. Sejumlah fasilitas bakal ditambahkan di area itu.

Lintang Yuniar Pratiwi, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok, menjelaskan bahwa langkah itu bukan sekadar untuk menggaet wisatawan. Lintang mengatakan revitalisasi itu untuk mengembalikan kelestarian hutan seluas 7 hektare tersebut.

Inisiatif tersebut mencakup pembentukan unit pengelolaan khusus UPTD Tahura sesuai Perwal no. 33 Tahun 2019 yang berfokus mengelola kawasan Tahura Pancoran Mas atau Tahura Panmas, penyelesaian konflik lahan, dan peningkatan infrastruktur fisik.

“Pekerjaan tahun 2025 sudah selesai untuk pembangunan pagar dan rehabilitasi pos jaga yang dilaksanakan Pemerintah Kota Depok. Selain itu, masyarakat yang memiliki tujuan edukasi dan penelitian bisa mengakses kembali sesuai aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan,” ujar Lintang saat dihubungi infoTravel, Selasa (20/1).

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Prabu kemudian mengajak kami melihat Tahura dari perspektif sejarah, mitos, dan spiritual. Dia menegaskan bahwa tanah di Tahura adalah ‘tanah surga’, karena kesuburannya.

Dia meyakini bahwa area itu memiliki lapisan humus yang tebal, terbentuk selama ratusan tahun tanpa pernah terganggu oleh aktivitas manusia. Prabu juga percaya bahwa kawasan itu bukan sekadar hutan dengan bergagai tanaman dan satwa liar, melainkan situs bersejarah.

“Ini nggak mesti harus kuburan atau batu candi. Ini keramat, ini termasuk situs bersejarah yang ada di Depok,” ujar Prabu.

Prabu meyakini kawasan Tahura dulu adalah sebuah taman indah, tempat para putri dan ratu kerajaan Sunda kuno beraktivitas. Romo Prabu menyebut nama-nama tokoh legenda yang diyakini jejaknya ada di sana.

“Ini dulu taman indah. Istananya Ratu Gumarang di sini. Terus Raja-raja Sunda kan ada Ratu Jaya, ada Ratu Selendang, makamnya masih ada di sana,” kata Prabu.

Dia menceritakan tentang pertemuan-pertemuan historis para ratu yang berkumpul dan melakukan aktivitas rekreasi di taman ini. Romo Prabu mendorong kami untuk menyelami alam bawah sadar, membayangkan kemegahan taman ini di masa lalu, yang kini telah berubah menjadi hutan lebat.

Sejumlah sumber mengatakan Tahura Pancoran Mas itu merupakan tinggalan Meneer Belanda Cornelis Chastelein, sosok penting dalam masyarakat Depok Belanda.

Tahura Pancoran Mas merupakan komponen penting dari ekosistem kota, sekaligus menjaga narasi historis yang kaya dari tanah Pasundan, narasi yang semakin terancam terlupakan di tengah gelombang modernisasi.

Tahura Pancoran Mas menjadi surga bagi pecinta wisata sejarah yang juga ingin menikmati alam dan menyelami misteri tersembunyi; setiap sudutnya menyimpan cerita yang menunggu untuk diungkap.

Saat ini Tahura Pancoran Mas tengah direvitalisasi. Sejumlah fasilitas bakal ditambahkan di area itu.

Lintang Yuniar Pratiwi, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok, menjelaskan bahwa langkah itu bukan sekadar untuk menggaet wisatawan. Lintang mengatakan revitalisasi itu untuk mengembalikan kelestarian hutan seluas 7 hektare tersebut.

Inisiatif tersebut mencakup pembentukan unit pengelolaan khusus UPTD Tahura sesuai Perwal no. 33 Tahun 2019 yang berfokus mengelola kawasan Tahura Pancoran Mas atau Tahura Panmas, penyelesaian konflik lahan, dan peningkatan infrastruktur fisik.

“Pekerjaan tahun 2025 sudah selesai untuk pembangunan pagar dan rehabilitasi pos jaga yang dilaksanakan Pemerintah Kota Depok. Selain itu, masyarakat yang memiliki tujuan edukasi dan penelitian bisa mengakses kembali sesuai aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan,” ujar Lintang saat dihubungi infoTravel, Selasa (20/1).

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi