Di kawasan Depok Lama, Kota Depok, ada sebuah pemakaman yang lebih dari sekadar tempat peristirahatan, Taman Pemakaman Kristen atau TPU Kamboja. Berstatus cagar budaya, pemakaman ini menyimpan nisan-nisan sosok penting yang membentuk kebijakan kesehatan dan pertanahan pada masa Hindia Belanda.
Terletak di Jl. Nusa Indah, Pancoran Mas, TPU Kamboja bukan sekadar hamparan makam tua. Di sini, terdapat dua nisan milik keluarga de Graaf dan van der Capellen.
Mereka adalah sosok penting yang turut menentukan arah sejarah kolonial Belanda di Indonesia. Di tengah ketenangan taman pemakaman, sejarah seolah berbicara lewat batu nisan dan sunyi yang mengelilinginya.
Makam Cornelis de Graaf dan istrinya langsung mencuri perhatian karena ukurannya yang besar, menandakan bahwa keluarga de Graaf bukan warga biasa.
Menurut Rony, pemandu dari Jakarta Good Guide, kecerdasan keluarga ini berperan penting dalam lahirnya salah satu institusi medis tertua dan paling bersejarah di Jakarta, Rumah Sakit PGI Cikini. Awalnya, mereka mendirikan pusat kesehatan sederhana di Hospitaalsweg, dekat Istana, yang dirancang khusus untuk melayani kelas menengah bawah.
“Balai kesehatan itu untuk orang-orang yang menengah ke bawah, gitu. Jadi kan dulu rumah sakit juga ada pembagian kasta. Jadi enggak semua orang bisa berobat ke rumah sakit,” kata Rony kepada infoTravel di pemakaman tersebut, Selasa (30/12/2025).
Karena biaya operasional terus meningkat, de Graaf meminta bantuan pemerintah Belanda. Upaya itu membuahkan hasil ketika Ratu Emma memberikan dukungan sebesar 100.000 gulden.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli rumah mantan seniman terkenal, Raden Saleh, yang kemudian menjadi bagian dari pengembangan rumah sakit.
“Akhirnya yang tadinya buat balai kesehatan, akhirnya beli lahanlah di istananya Raden Saleh, yang sekarang jadi PGI Cikini rumah sakit itu dijadikan Rumah Sakit Koningin Emma Ziekenhuis atau Rumah Sakit Ratu Emma Itu dulu cikal bakal dari situ. Dari balai kesehatan terus dipindahkan ke rumah sakit yang sekarang jadi Rumah Sakit Cikini,” ujar dia.
Di dekat makam de Graaf, terdapat nisan megah yang didedikasikan untuk keluarga Capellen. Ini adalah makam keluarga Godert van der Capellen, seorang tokoh berpengaruh sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda.
Van der Capellen dikenal karena kepemimpinannya selama periode kritis yang berdampak besar pada kas negara Belanda, terutama selama Perang Diponegoro (Perang Jawa) dan Perang Padri. Namun, di tengah periode konflik ini, warisannya ditandai oleh pendekatan yang penuh belas kasihan terhadap penduduk asli.
“Van der Capellen ini salah satu Gubernur Jenderal yang menghilangkan kebijakan sewa tanah untuk pribumi. Jadi dulu pribumi itu harus ada sewa tanah atau sewa lahan. Nah, di zaman Capellen inilah yang menghapuskan kebijakan tersebut,” kata Rony.
Di kompleks makam itu, bersemayam sekitar delapan keturunan keluarga tersebut. Dua nama yang terukir jelas di nisan antara lain Adolf van der Capellen dan Lodewijk van der Capellen, yang diperkirakan merupakan generasi ketiga atau cicit dari sang Gubernur Jenderal.
Pemakaman itu tampak rapi dan terawat dengan baik. Makam itu diperbaiki beberapa kali akibat ada tragedi di masa lampau.
Menurut Rony pada Masa Bersiap yang penuh gejolak, pada Oktober 1945, pemakaman ini mengalami penjarahan.
“jadi ada satu massa yang mengira kuburan Belanda itu banyak harta bendanya. Jadi warga lokal warga sekitar Depok membongkar, terjadi perusakan, membongkar isi kuburan, dikiranya banyak harta bendanya, ternyata kosong,” kata dia.
Kini, komplek pemakaman ini bukan lagi sekadar tumpukan batu nisan, melainkan sebuah perpustakaan terbuka yang menceritakan kisah tentang kedermawanan medis dan kebijakan kolonial yang pernah mewarnai sejarah Nusantara.
Keluarga de Graaf
Makam Keluarga Capellen







