Museum Nasional Indonesia bertransformasi menjadi ruang publik modern, tapi harga tiketnya naik dua kali lipat. Apakah semua orang masih bisa menikmatinya?
Museum Nasional Indonesia memang tampak lebih modern dan ramah bagi pengunjung, dengan ruang pamer yang interaktif, area terbuka untuk anak-anak, hingga fasilitas ibadah yang lebih memadai. Namun, perubahan itu datang bersamaan dengan kenaikan harga tiket hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya.
Bagi sebagian pengunjung, terutama keluarga dan masyarakat sekitar, harga baru itu menjadi pertimbangan penting sebelum memasuki museum, sehingga pertanyaan tentang akses publik tetap relevan meski fasilitasnya semakin lengkap.
infoTravel menyambangi Museum Nasional Indonesia pada Minggu (4/1/2026). Di dalam ruang pamer, pengalaman edukasi sejarah terasa semakin interaktif. Pengunjung dapat mencium langsung aroma rempah-rempah Nusantara sekaligus melihat artefak asli perjuangan para pahlawan dari berbagai daerah.
Perubahan museum tak berhenti di ruang pamer saja. Museum Nasional terus bertransformasi, tidak lagi semata sebagai ruang pamer koleksi sejarah, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik yang inklusif dan multifungsi.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah pengalihfungsian auditorium menjadi masjid. “Tadinya ini auditorium, tapi kita putuskan fungsinya akan lebih banyak berguna sebagai masjid,” ujar Angel, tour guide Museum Nasional, saat menjelaskan perubahan tersebut.
Sebelumnya, museum hanya memiliki musala kecil di area parkir dengan kapasitas terbatas. Dengan jumlah pegawai yang mencapai ratusan orang, kebutuhan akan ruang ibadah yang lebih layak menjadi perhatian serius pengelola.
“Musala sebelumnya mungkin hanya muat sekitar 20 orang, padahal pegawai kita ada ratusan,” kata Angel.
Masjid itu tidak hanya diperuntukkan bagi pegawai museum. Masyarakat dan pekerja perkantoran di sekitar kawasan Museum Nasional juga dipersilakan memanfaatkannya, termasuk untuk salat berjamaah dan salat Jumat.
“Diharapkan nanti Jumatan dari kantor-kantor sekitar juga bisa ke sini,” kata Angel.
Selain menyediakan fasilitas ibadah, Museum Nasional juga membuka berbagai area non-tiket yang kini dapat diakses publik. Area seluas sekitar 1.500 meter persegi difungsikan sebagai ruang tunggu dan ruang aktivitas bebas bagi pengunjung.
“Kita ingin museum ini lebih ramah. Jadi tidak semua orang harus langsung beli tiket untuk bisa menikmati ruang di museum,” ujar Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin.
Ruang anak, teater, inner court, hingga kantin kini dapat dinikmati tanpa tiket masuk. Kehadiran area ini memberi alternatif bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke museum tanpa harus langsung masuk ke ruang pamer.
“Misalnya orang tuanya belum beli tiket, anak-anak tetap bisa bermain atau menunggu di sini,” kata Indira.
Transformasi itu membuat Museum Nasional terasa lebih hidup dan dekat dengan masyarakat. Pengunjung dapat menjadikannya sebagai tempat singgah, menunggu, belajar, atau sekadar beraktivitas dengan nyaman.
Di sisi lain, pengelola tetap menjaga kualitas dan keamanan ruang pamer, termasuk pembatasan akses ke area tertentu demi keselamatan pengunjung dan pelestarian koleksi.
Melalui berbagai pembaruan ini, Museum Nasional Indonesia menegaskan perannya bukan hanya sebagai pusat sejarah, tetapi juga sebagai ruang publik modern yang terbuka, adaptif, dan relevan bagi kehidupan masyarakat saat ini.
Kini, harga tiket masuk Museum Nasional menjadi Rp 30 ribu untuk pelajar, mulai dari Paud hingga SMA. Adapun untuk ana 0-3 tahun gratis dan tiket dewasa Rp 50.000. Sementara itu, tiket rombongan dengan minimal 50 orang untuk pelajar Rp 24 ribu dan dewasa Rp 40 ribu. Tiket untuk Warga Negara Asing (WNA) Rp 150.000 dan WNA Pemegang KITAS Rp 50.000. Tiket masuk ImersifA Rp 35.000.






