Viral Mbak Rara Diusir di Acara Labuhan Keraton Jogja, Bagaimana Ceritanya?

Posted on

Viral di media sosial, video bernarasi pawang hujan Mbak Rara diusir saat mengikuti prosesi Labuhan Keraton Jogja di pantai Parangkusumo. Bagaimana ceritanya?

Mbak Rara, pawang hujan yang pernah viral lantaran aksinya mengusir hujan di gelaran MotoGP Mandalika kembali jadi sorotan. Kali ini, Mbak Rara dikabarkan diusir dari acara Labuhan yang digelar oleh Keraton Jogja.

Dalam video yang tersebar di Instagram, terlihat Mbak Rara mengenakan kebaya hitam dan jarik batik lengkap dengan riasan dan sanggul. Dandanan Rara sepintas mirip dengan pakaian abdi dalem keraton dalam prosesi Labuhan.

Dalam video tersebut, terlihat Mbak Rara tengah terlibat pembicaraan dengan salah seorang abdi dalem. Dia tampak sibuk memegangi ponselnya, seakan-akan sedang menelpon seseorang.

Lambat laun, beberapa abdi dalem lainnya tampak menghampiri. Saat itulah, dinarasikan Mbak Rara diusir dari acara tersebut.

“Hadir di Acara Keraton Jogja, Mbak Rara Pawang Hujan Diusir Abdi Dalem,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Dimintai konfirmasi mengenai kejadian tersebut, Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura, GKR Condrokirono menjelaskan jika dalam hajad dalem Labuhan Parangkusumo pada Senin (19/1) lalu, hanya dilakukan oleh Abdi Dalem. Masyarakat biasa hanya bisa menyaksikan dengan menjaga ketertiban.

“Jadi pada dasarnya semua pelaksanaan Hajad Dalem kemarin adalah dari Abdi Dalem Keraton Yogyakarta. Untuk agenda yang memang terbuka untuk umum, ini berarti masyarakat diperbolehkan untuk hadir menyaksikan dengan menjaga ketenangan dan ketertiban demi kelancaran acara, sesuai tata aturan yang berlaku pada agenda tersebut,” jelas Gusti Condro.

“Kemudian, jika ada pihak luar baik perorangan/lembaga akan terlibat dalam agenda keraton, harus ada izin dari Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura,” tegas Gusti Condro.

Wanita bernama asli Rara Istiati Wulandari akhirnya buka suara terkait dugaan pengusiran di acara Labuhan yang digelar Keraton Jogja. Lewat akun Instagramnya, dia mengaku kedatangannya di prosesi tersebut lantaran mendapatkan undangan.

Dalam unggahan di akun @rarapawang_cahayatarot, Mbak Rara menyebut dirinya mendapat undangan dari seseorang bernama Romo Rekso.

halo ini ya udah tak balas aku biasa simpan chat wa itu sebulan baru tak hapusin ini ternyata aku masih save chat dg Romo Rekso dan rekan2 di bawah langit parangkusumo buat persiapan sampai giat acara labuhan #parangkumo intinya kalau buat acara budaya aku pasti mau bantu gratis meskipun tidak diakui,” tulis Mbak Rara dalam akun Instagram pribadinya.

Mbak Rara mengaku sering membantu acara Keraton Jogja dalam beberapa kesempatan.

faktanya acara Kraton Jogya sering tak support doa pawang hujan baik ke lokasi maupun jarak jauh memohon berkah Tuhan agar dikabulkan cuaca baik minta restu leluhur diantaranya kakhi semar & eyang sultan agung juga eyang samber nyawa kandjeng Ibu ratu Kidul. Selama ini sukses nah kalau acara Kraton Kasunanan Surakarta sudah sejak lama aku yg support doa pawang hujan terutama pas suro beruntung rasanya atas izin-Nya Tuhan dan restu semesta dikabulkan dg baik sukses bahagia salam rahayu saking Kulo mbak ra2,” lanjutnya.

Saat dihubungi kembali, Mbak Rara lantas enggan berbicara banyak. Ia mengaku tak ingin kabar tentang dirinya yang viral di media sosial berlarut-larut.

“Aku masih tirakatan jadi belum bisa wawancara. Masalah itu udah aku ikhlaskan, ambil dari berita medsosku aja baik TikTok ataupun IG,” ujar Mbak Rara.

Seperti diketahui, Diketahui, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar prosesi tahunan yakni peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Prosesi yang identik dalam hajad dalem ini adalah Labuhan. Makna dari labuhan sejatinya berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan.

Tujuan dari upacara labuhan ini adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. Dalam pelaksanaannya, Keraton Jogja melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Benda itu seperti songsong gilap (payung) hingga kambil watangan atau pelana kuda.

Tingalan Jumenengan Dalem sendiri jatuh setiap tanggal 29 Rejeb dalam kalender Jawa Sultanagungan yang bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959.

Tahun ini, memperingati 38 tahun Sultan bertakhta. Tahun ini, Labuhan Alit (Patuh) digelar di empat tempat yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, Gunung Lawu, dan Dlepih, Kabupaten Wonogiri.

——–

Artikel ini telah naik di infoJogja, bisa dibaca selengkapnya dan

Saksikan Live infoSore:

Keraton Jogja Buka Suara

Mbak Rara Ngaku Diundang buat Tolak Hujan

Tentang Prosesi Labuhan yang Digelar Keraton Jogja

Wanita bernama asli Rara Istiati Wulandari akhirnya buka suara terkait dugaan pengusiran di acara Labuhan yang digelar Keraton Jogja. Lewat akun Instagramnya, dia mengaku kedatangannya di prosesi tersebut lantaran mendapatkan undangan.

Dalam unggahan di akun @rarapawang_cahayatarot, Mbak Rara menyebut dirinya mendapat undangan dari seseorang bernama Romo Rekso.

halo ini ya udah tak balas aku biasa simpan chat wa itu sebulan baru tak hapusin ini ternyata aku masih save chat dg Romo Rekso dan rekan2 di bawah langit parangkusumo buat persiapan sampai giat acara labuhan #parangkumo intinya kalau buat acara budaya aku pasti mau bantu gratis meskipun tidak diakui,” tulis Mbak Rara dalam akun Instagram pribadinya.

Mbak Rara mengaku sering membantu acara Keraton Jogja dalam beberapa kesempatan.

faktanya acara Kraton Jogya sering tak support doa pawang hujan baik ke lokasi maupun jarak jauh memohon berkah Tuhan agar dikabulkan cuaca baik minta restu leluhur diantaranya kakhi semar & eyang sultan agung juga eyang samber nyawa kandjeng Ibu ratu Kidul. Selama ini sukses nah kalau acara Kraton Kasunanan Surakarta sudah sejak lama aku yg support doa pawang hujan terutama pas suro beruntung rasanya atas izin-Nya Tuhan dan restu semesta dikabulkan dg baik sukses bahagia salam rahayu saking Kulo mbak ra2,” lanjutnya.

Saat dihubungi kembali, Mbak Rara lantas enggan berbicara banyak. Ia mengaku tak ingin kabar tentang dirinya yang viral di media sosial berlarut-larut.

“Aku masih tirakatan jadi belum bisa wawancara. Masalah itu udah aku ikhlaskan, ambil dari berita medsosku aja baik TikTok ataupun IG,” ujar Mbak Rara.

Seperti diketahui, Diketahui, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar prosesi tahunan yakni peringatan Ulang Tahun Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Prosesi yang identik dalam hajad dalem ini adalah Labuhan. Makna dari labuhan sejatinya berasal dari kata labuh yang artinya membuang, meletakkan, atau menghanyutkan.

Tujuan dari upacara labuhan ini adalah sebagai doa dan pengharapan untuk membuang segala macam sifat buruk. Dalam pelaksanaannya, Keraton Jogja melabuh benda-benda tertentu yang disebut sebagai ubarampe labuhan. Benda itu seperti songsong gilap (payung) hingga kambil watangan atau pelana kuda.

Tingalan Jumenengan Dalem sendiri jatuh setiap tanggal 29 Rejeb dalam kalender Jawa Sultanagungan yang bertepatan dengan Minggu Kliwon, 18 Januari 2026 atau 29 Rejeb Dal 1959.

Tahun ini, memperingati 38 tahun Sultan bertakhta. Tahun ini, Labuhan Alit (Patuh) digelar di empat tempat yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, Gunung Lawu, dan Dlepih, Kabupaten Wonogiri.

——–

Artikel ini telah naik di infoJogja, bisa dibaca selengkapnya dan

Saksikan Live infoSore:

Mbak Rara Ngaku Diundang buat Tolak Hujan

Tentang Prosesi Labuhan yang Digelar Keraton Jogja