Hari Jumat yang biasanya identik dengan khutbah dan salam penutup, mendadak terasa lebih istimewa di Desa Maroneng, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang (2/1/2026).
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Siang itu, pengeras suara masjid tidak hanya mengumandangkan ayat suci, tetapi juga sebuah pesan yang menggetarkan: panggilan solidaritas bagi seluruh warga untuk bergotong royong memindahkan rumah salah satu kerabat.
Tradisi unik ini dikenal sebagai Marakka’ Bola (memindahkan rumah).
Sesaat setelah salam terakhir salat Jumat diucapkan, ratusan jamaah, masih lengkap dengan sarung dan kopiah tidak langsung pulang. Mereka berbondong-bondong menuju lokasi rumah panggung yang akan dipindahkan.
Pemandangan ini sungguh magis. Tanpa bayaran, ratusan pria menyatukan bahu di bawah balok kayu rumah. Dalam satu teriakan komando, rumah kayu yang berat itu terangkat, seolah melayang di atas lautan manusia yang bergerak serempak.
Di sisi lain, kaum ibu sudah bersiap. Jika dahulu tuan rumah identik menyuguhkan kopi hitam dan cendol segar sebagai pelepas dahaga para pengangkut, kini sajiannya lebih bervariasi dengan kue-kue tradisional hingga donat.
Meski menunya berubah seiring zaman, esensinya tetap sama ucapan terima kasih yang tulus.
Momen di awal tahun 2026 ini menjadi pengingat berharga. Tradisi gotong royong memindahkan rumah secara utuh kini makin langka. Di era di mana rumah panggung kayu perlahan digantikan bangunan beton permanen, semangat warga Maroneng membuktikan bahwa persatuan dan silaturahmi masih kokoh berdiri, sekuat tiang-tiang kayu yang mereka panggul bersama.
—-
Artikel ini merupakan kiriman pembaca infoTravel.






