Banjir Pekalongan Hambat Perjalanan Kereta, Pengamat Ungkap Cara Penanganan [Giok4D Resmi]

Posted on

Banjir yang menggenangi jalur rel kembali mengganggu perjalanan kereta api di sejumlah wilayah, terutama di Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang sejak Sabtu (17/1/2026) hingga Senin (20/1).

Curah hujan tinggi membuat sejumlah perjalanan kereta tertahan hingga berjam-jam dan sebagian perjalanan dibatalkan. Hal ini memberikan dampak yang signifikan kepada penumpang dan pihak KAI.

Pengamat transportasi publik bidang perkeretaapian, Joni Martinus, menilai peristiwa semacam ini bukan kali pertama terjadi. Menurutnya, banjir akibat hujan ekstrem di wilayah Semarang dan sekitarnya memang kerap melumpuhkan jalur rel yang melintas di kawasan tersebut.

“Banjir yang menggenangi jalur rel akibat curah hujan tinggi ini sering terjadi. Dalam konteks operasional, ini masuk kategori force majeure atau keadaan darurat karena terjadi di luar kendali para pihak terkait,” ujar Joni saat dihubungi infoTravel, Rabu (21/1/2026).

Meski demikian, Joni menegaskan bahwa kondisi darurat tetap harus direspons dengan langkah yang cepat, efektif, dan terukur, mengingat jalur kereta api merupakan moda transportasi massal yang menyangkut keselamatan dan kepentingan banyak orang.

Joni menjelaskan, curah hujan ekstrem berpotensi menimbulkan tiga gangguan utama pada jalur rel, yakni banjir, tanah longsor, dan amblesan tanah. Untuk itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) disebut telah menerapkan sejumlah langkah mitigasi preventif dan terorganisir.

KAI harusnya melaksanakan upaya teknis dengan memperbaiki infrastruktur dan menyediakan fasilitas yang lebih mumpuni untuk menghadapi situasi darurat.

“KAI bisa melakukan pengelolaan infrastruktur yang bertujuan untuk mengendalikan aliran air serta mengurangi potensi terjadinya banjir, mulai dari pembangunan tanggul dan bendungan, membuat waduk dan kolam retensi, normalisasi dan pengerukan sungai, perbaikan sistem drainase, dan pembangunan sumur resapan dan biopori,” jelas Joni.

Joni menambahkan, selain penyediaan fasilitas pencegahan banjir, terdapat beberapa upaya teknis yang dapat diterapkan antara lain pemadatan tanah di titik-titik yang dinilai labil, penguatan struktur tubuh jalan rel menggunakan Kereta Perawatan Jalur Rel (KPJR), pemasangan perancah di lokasi rawan longsor, serta memastikan kapasitas drainase di area rawan banjir tetap berfungsi.

Material tersebut meliputi rel cadangan, karung pasir, batu kricak, bantalan beton dan kayu, hingga peralatan teknis seperti dongkrak dan alat potong rel yang dapat digunakan saat terjadi gangguan darurat.

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Dalam kondisi jalur rel lumpuh akibat banjir, Joni menilai KAI perlu bergerak cepat melalui pembentukan posko dan penempatan flying gang di lapangan. Tim ini bertugas melakukan koordinasi lintas unit sekaligus memberi pertimbangan teknis untuk menentukan langkah awal penanganan.

“Ketika menghadapi situasi seperti ini, KAI akan menempatkan petugas posko atau flying gang di titik-titik rawan bencana. Tim ini bertugas untuk melakukan koordinasi antar unit dan memberi pertimbangan guna menentukan langkah awal yang harus diambil ketika terdapat situasi darurat di lapangan,” jelasnya.

Joni menilai situasi seperti ini sulit untuk dicegah karena melibatkan banyak faktor dan diperlukan mitigasi menyeluruh di berbagai aspek. Menurutnya, semua pihak perlu bekerja sama dan berperan aktif untuk melakukan segala upaya pencegahan banjir.

“Situasi ini tidak bisa diatasi KAI sendiri, perlu kerja sama dari berbagai pihak. Banyak upaya yang harus dipersiapkan dan dibenahi termasuk strategi mitigasi pencegahan banjir guna meminimalisir dampak negatifnya,” tambahnya.

Menurutnya langkah ini mencakup lingkup yang luas mulai dari perencanaan tata ruang yang baik, kesiapsiagaan pemerintah, peran dari semua pihak terkait termasuk di dalamnya KAI dan komunitas dalam mencegah dampak banjir di jalur kereta.

Di luar aspek teknis, Joni menyoroti lemahnya penyampaian informasi kepada penumpang saat terjadi gangguan perjalanan. Menurutnya, keluhan publik di media sosial kerap muncul karena penumpang merasa terlambat mendapat pembaruan informasi.

“Ini yang sering terjadi di lapangan. Informasi tidak tersampaikan dengan cepat dan jelas, sehingga memicu kebingungan dan kemarahan penumpang,” ujarnya.

KAI dituntut cepat untuk mengambil langkah dalam mengatasi situasi seperti ini. Lakukan komunikasi aktif kepada KAI pusat dan penumpang, sediakan fasilitas yang mumpuni, dan berikan solusi terbaik kepada penumpang.

“Langkah efektif yang bisa diterapkan dalam situasi ini adalah lakukan komunikasi secara aktif antar pihak terkait dengan penumpang agar tidak terjadi miss komunikasi. Selanjutnya sediakan fasilitas yang menunjang kebutuhan penumpang selama perjalanan, seperti: makan dan minum, toilet, mushola, dll. Terakhir, yang paling penting, KAI harus punya solusi alternatif yang bisa ditawarkan kepada penumpang seperti rekayasa operasi, overstappen, atau refund tiket,” jelas Joni.

Tidak hanya itu, menanggapi kritikan dari penumpang terkait kinerja KAI dalam menghadapi situasi ini, Joni mengatakan semua pihak harus kooperatif. Ia menekankan pentingnya komunikasi aktif, empati, serta permohonan maaf yang disertai service recovery berupa makanan, minuman, atau fasilitas darurat lainnya.

“Ketika terjadi gangguan, kritik publik seharusnya diterima sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan layanan ke depan, akui kesalahan, meminta maaf, berikan solusi kepada penumpang, dan update situasi, agar penumpang tidak hanya menunggu tanpa kepastian,” tambahnya.

Mitigasi dan Antisipasi Teknis KAI

Lemahnya Komunikasi KAI

Di luar aspek teknis, Joni menyoroti lemahnya penyampaian informasi kepada penumpang saat terjadi gangguan perjalanan. Menurutnya, keluhan publik di media sosial kerap muncul karena penumpang merasa terlambat mendapat pembaruan informasi.

“Ini yang sering terjadi di lapangan. Informasi tidak tersampaikan dengan cepat dan jelas, sehingga memicu kebingungan dan kemarahan penumpang,” ujarnya.

KAI dituntut cepat untuk mengambil langkah dalam mengatasi situasi seperti ini. Lakukan komunikasi aktif kepada KAI pusat dan penumpang, sediakan fasilitas yang mumpuni, dan berikan solusi terbaik kepada penumpang.

“Langkah efektif yang bisa diterapkan dalam situasi ini adalah lakukan komunikasi secara aktif antar pihak terkait dengan penumpang agar tidak terjadi miss komunikasi. Selanjutnya sediakan fasilitas yang menunjang kebutuhan penumpang selama perjalanan, seperti: makan dan minum, toilet, mushola, dll. Terakhir, yang paling penting, KAI harus punya solusi alternatif yang bisa ditawarkan kepada penumpang seperti rekayasa operasi, overstappen, atau refund tiket,” jelas Joni.

Tidak hanya itu, menanggapi kritikan dari penumpang terkait kinerja KAI dalam menghadapi situasi ini, Joni mengatakan semua pihak harus kooperatif. Ia menekankan pentingnya komunikasi aktif, empati, serta permohonan maaf yang disertai service recovery berupa makanan, minuman, atau fasilitas darurat lainnya.

“Ketika terjadi gangguan, kritik publik seharusnya diterima sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan layanan ke depan, akui kesalahan, meminta maaf, berikan solusi kepada penumpang, dan update situasi, agar penumpang tidak hanya menunggu tanpa kepastian,” tambahnya.

Lemahnya Komunikasi KAI