Depok Punya Hutan Tua, Ada Zona Rotan yang Tak Bisa Diabaikan

Posted on

Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas atau Cagar Alam Depok bisa jadi benar-benar sudah tua. Ada zona rotan di dalam kawasan itu.

Tahura Pancoran Mas menjadi anomali di antara padatnya permukiman Depok. Terletak di Jl. Cagar Alam RT. 06 RW 18, Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, Tahura Pancoran Mas bukan sekadar kumpulan pohon dan tanaman, ia mewakili ekosistem yang hidup dan beragam.

Predikat hutan itu juga tidak main-main, ada yang menyebutnya alas tua atau hutan tua, bahkan ada yang menyebutnya hutan purba. Sebutan itu mengisyaratkan usia hutan yang diyakini sudah ada sejak zaman Belanda.

infoTravel dan infoFoto, menyusuri tahura tersebut bersama Imam Mahdi, Pengawas Tahura Depok dan Romo Prabu, seorang penggiat warisan budaya dan juru kunci. Mereka membeberkan temuan menarik mengenai kondisi hutan di sana.

Imam dan Prabu mengungkapkan temuan tak biasa di Alas Tua Depok itu, yakni keberadaan tanaman rotan liar. Prabu menegaskan bahwa keberadaan rotan memiliki makna yang penting. Dia menyoroti bahwa rotan berfungsi sebagai indikator utama keaslian hutan.

“Syarat sebuah hutan yang sip itu harus ada rotan. Nah, ini Romo ngomong bukti sekarang,” ujar Prabu sambil menunjukkan tanaman berduri tersebut kepada infoTravel, Rabu (21/1/2026).

Jenis rotan yang ditemukan pun beragam, mulai dari rotan tali atau Calamus javensis hingga otan jernang besar atau Calamus daemonorops. Keberadaan rotan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Depok, sebab tanaman itu biasanya identik dengan hutan belantara di Sumatera, Kalimantan, atau di hutan yang ada di lereng gunung di Jawa.

Selain rotan, kawasan itu juga menyimpan potensi herbal. Prabu menunjukkan tanaman parijoto, yang dipercaya memiliki khasiat kesehatan.

“Ini obat flu. Cara menggunakannya direbus saja airnya, pilih batang yang sedang, jangan terlalu tua,” kata dia.

Prabu juga menyebut bahwa tanaman itu sempat menjadi andalan herbal saat masa pandemi COVID-19 pada 2000-2021.

Tak jauh dari lokasi rotan, terdapat rumpun bambu petung. Menurut Imam, berbeda dengan bambu tali biasa, bambu petung memiliki ukuran diameter yang sangat besar. Rebung (tunas muda) dari bambu itu dikenal sangat lezat dan ukurannya besar.

“Ini bambu petung. Ini biasanya bambu buat apa ya, buat tiang-tiang ini nih. Biasa bambu-bambu kayak gini, ini adanya nih di hutan-hutan daerah Sunda, Jawa, Kalimantan. Ini di Depok!” kata Imam dengan antusias.

Saat menjelaskan soal bambu itu, hutan bambu yang menjulang tinggi langsung memukau indra. Imam Mahdi menjelaskan bahwa jenis bambu yang dominan di wilayah ini adalah Bambu Tali.

“Ini kita berada di dapurnya bambu, atau rumpunan bambu. Jenisnya bambu tali,” ujar Imam.

Dalam penelusuran tersebut, tim disuguhi fenomena yang cukup langka, yakni kembang atau bunga bambu. Menurut Imam, kembang bambu muncul dari pohon yang sudah tua.

“Dia tumbuh semacam kaya tanaman bunga. Bambu itu harus tua banget baru keluar kembang,” kata Imam.

Selain fenomena botani, keberadaan kembang bambu itu juga dikaitkan dengan pengobatan tradisional dan mistis. Secara herbal, serabut kembang bambu dipercaya memiliki khasiat penyembuhan luka.

“Fungsinya kalau buat luka, ini diambil, dikunyah atau dibejek-bejek, lalu tempelin di luka. Insyaallah cepat kering dan sembuh,” ujar Imam.

Prabu juga membeberkan kisah lain tentang Tahura Pancoran Mas itu. Dia mengibaratkan Cagar Alam Depok itu sebagai tanah surga karena kesuburannya yang terbentuk dari endapan organik (humus) selama ratusan tahun tanpa jamahan manusia.

Lebih jauh, Prabu menjelaskan bahwa kawasan itu bukan sekadar hutan, melainkan situs bersejarah.

“Ini nggak mesti harus kuburan atau batu candi. Ini keramat, ini termasuk situs bersejarah yang ada di Depok,” ujar Prabu.

Menurutnya, kawasan Tahura dulu adalah sebuah taman indah, tempat para putri dan ratu kerajaan Sunda kuno beraktivitas. Romo Prabu menyebut nama-nama tokoh legenda yang diyakini jejaknya ada di sana.

“Ini dulu taman indah. Istananya Ratu Gumarang di sini. Terus Raja-raja Sunda kan ada Ratu Jaya, ada Ratu Selendang, makamnya masih ada di sana,” kata Prabu.

“Dulu ini dibilang istana, taman bermainnya para ratu,” kata Prabu sembari menjelaskan sejumlah mitos yang berkembang di kawasan tersebut.

Lebih dari sekadar kekayaan hayati, Alas Tua Depok dijaga dengan ketat oleh unggah-ungguh atau tata krama leluhur. Romo Prabu menekankan pentingnya “kulo nuwun” atau permisi saat memasuki kawasan ini.

Ia menceritakan tradisi leluhur, seperti yang dilakukan oleh Kong Jeni (ayah dari Imam) yang kerap membacakan kidung Bul Kukus sebuah mantra doa saat membakar dupa untuk menyambung rasa dengan alam dan Sang Pencipta.

Bul kukus mencat ka manggung-manggung.Nyambuang ka uwung-uwung. Brubul meong ti kidul. Oray Lanang datang depa. Ulah sok sakama – kama. Mangka di kata lunta-lunta. Ageman elmu sejati Dina cupu astagina,” kata dia.

“Di sini ada istilah Orai Lanang Datang Depa. Itu kode alam. Memang ada ular besar di sini, tapi kalau kita sopan, dia akan ‘depa’ atau duduk bersimpuh bersahabat,” Prabu menambahkan.

Sebaliknya, ada pantangan keras bagi pengunjung untuk tidak sombong atau gegabah (ulah sok sekama-kama). Konsekuensinya bisa fatal, mulai dari tidak dihargai oleh alam hingga risiko tersesat (terlunta-lunta) berputar-putar di area hutan yang sebenarnya luasnya hanya beberapa hektare tersebut.

Romo Prabu memberikan pesan mendalam mengenai definisi “Ilmu Sejati” dalam memandang alam. Baginya, ilmu sejati bukanlah sekadar teori atau mantra, melainkan implementasi nyata.

“Apa itu ilmu sejati? Merawat hutan, merawat alam, itu bagian dari ilmu sejati,” kata dia.

Boy Loen, koordinator bidang Sejarah di Yayasan Cornelis Chastelein (YLCC), menceritakan kisah menarik tentang pengelolaan kawasan ini berabad-abad lalu. Menurutnya, kesuksesan pertanian di Depok pada masa itu sangat erat kaitannya dengan sistem irigasi yang dibawa dari Bali.

Para pekerja yang merawat tanah-tanah milik Chastelein sebagian adalah budak dari Bali. Mereka termasuk yang mengelola kawasan yang kini menjadi Tahura Pancoran Mas. Dulu luasnya mencapai 12 hektar, kini tersisa 7 hektare.

“Nah, itu sebabnya Chastelein mendatangkan budak-budak dari Bali. Bali terkenal dengan sistem irigasi Subak, di mana semua sawah mendapat air dan tidak ada yang kekurangan. Sistem ini diterapkan dengan rapi dan efisien,” ujar Boy.

Para pekerja dari Bali menerapkan sistem tersebut di Depok. Hasilnya sangat mengesankan, sawah yang produktif, beras berkualitas tinggi, dan buah-buahan premium yang bahkan diekspor ke Eropa.

Setelah kematian Chastelein, komitmen untuk melindungi hutan itu tetap dijaga. Namun, karena biaya pemeliharaan yang tinggi, sebuah perjanjian penting ditandatangani pada 31 Maret 1912.

Pengelolaan hutan pun diserahkan kepada Nederlands-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming (Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda), dan statusnya resmi menjadi cagar alam (natuurreservaat) seluas 12 hektar.

Tahura Pancoran Mas itu sedang direvitalisasi saat ini. Lintang Yuniar Pratiwi, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok, menjelaskan langkah itu bukan sekadar untuk menggaet wisatawan.

Lintang mengatakan revitalisasi itu untuk mengembalikan kelestarian hutan 7 hektare Tahura Pancoran Mas. Inisiatif tersebut mencakup pembentukan unit pengelolaan khusus UPTD Tahura sesuai Perwal no. 33 Tahun 2019 yang berfokus mengelola kawasan Tahura Pancoran Mas atau Tahura Panmas, penyelesaian konflik lahan, dan peningkatan infrastruktur fisik.

“Pekerjaan tahun 2025 sudah selesai untuk pembangunan pagar dan rehabilitasi pos jaga yang dilaksanakan Pemerintah Kota Depok dibantu oleh Disrumkin Kota Depok. Selain itu, masyarakat yang memiliki tujuan edukasi dan penelitian bisa mengakses kembali sesuai aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan,” ujar Lintang saat dihubungi infoTravel, Selasa (20/1).

Meskipun demikian, Lintang mengakui bahwa masih ada beberapa tugas fisik yang perlu diselesaikan dalam revitalisasi Tahura Pancoran Mas juga dikenal sebagai Cagar Alam Depok atau Alas Tua Depok, yang berada di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Pancoran Mas, Depok itu.

Lintang mengatakan revitalisasi juga menyangkut penyelesaian sisa pembangunan pagar keliling batas kawasan yang kurang lebih sepanjang 500 meter lagi.

Disuguhi Bunga Bambu

Mitos di Cagar Alam Depok

Etika Masuk Hutan: “Ulah Sok Sekama-kama”

Tinggalan Meneer Belanda Chastelein




Prabu juga membeberkan kisah lain tentang Tahura Pancoran Mas itu. Dia mengibaratkan Cagar Alam Depok itu sebagai tanah surga karena kesuburannya yang terbentuk dari endapan organik (humus) selama ratusan tahun tanpa jamahan manusia.

Lebih jauh, Prabu menjelaskan bahwa kawasan itu bukan sekadar hutan, melainkan situs bersejarah.

“Ini nggak mesti harus kuburan atau batu candi. Ini keramat, ini termasuk situs bersejarah yang ada di Depok,” ujar Prabu.

Menurutnya, kawasan Tahura dulu adalah sebuah taman indah, tempat para putri dan ratu kerajaan Sunda kuno beraktivitas. Romo Prabu menyebut nama-nama tokoh legenda yang diyakini jejaknya ada di sana.

“Ini dulu taman indah. Istananya Ratu Gumarang di sini. Terus Raja-raja Sunda kan ada Ratu Jaya, ada Ratu Selendang, makamnya masih ada di sana,” kata Prabu.

“Dulu ini dibilang istana, taman bermainnya para ratu,” kata Prabu sembari menjelaskan sejumlah mitos yang berkembang di kawasan tersebut.

Lebih dari sekadar kekayaan hayati, Alas Tua Depok dijaga dengan ketat oleh unggah-ungguh atau tata krama leluhur. Romo Prabu menekankan pentingnya “kulo nuwun” atau permisi saat memasuki kawasan ini.

Ia menceritakan tradisi leluhur, seperti yang dilakukan oleh Kong Jeni (ayah dari Imam) yang kerap membacakan kidung Bul Kukus sebuah mantra doa saat membakar dupa untuk menyambung rasa dengan alam dan Sang Pencipta.

Bul kukus mencat ka manggung-manggung.Nyambuang ka uwung-uwung. Brubul meong ti kidul. Oray Lanang datang depa. Ulah sok sakama – kama. Mangka di kata lunta-lunta. Ageman elmu sejati Dina cupu astagina,” kata dia.

“Di sini ada istilah Orai Lanang Datang Depa. Itu kode alam. Memang ada ular besar di sini, tapi kalau kita sopan, dia akan ‘depa’ atau duduk bersimpuh bersahabat,” Prabu menambahkan.

Sebaliknya, ada pantangan keras bagi pengunjung untuk tidak sombong atau gegabah (ulah sok sekama-kama). Konsekuensinya bisa fatal, mulai dari tidak dihargai oleh alam hingga risiko tersesat (terlunta-lunta) berputar-putar di area hutan yang sebenarnya luasnya hanya beberapa hektare tersebut.

Romo Prabu memberikan pesan mendalam mengenai definisi “Ilmu Sejati” dalam memandang alam. Baginya, ilmu sejati bukanlah sekadar teori atau mantra, melainkan implementasi nyata.

“Apa itu ilmu sejati? Merawat hutan, merawat alam, itu bagian dari ilmu sejati,” kata dia.

Mitos di Cagar Alam Depok

Etika Masuk Hutan: “Ulah Sok Sekama-kama”


Boy Loen, koordinator bidang Sejarah di Yayasan Cornelis Chastelein (YLCC), menceritakan kisah menarik tentang pengelolaan kawasan ini berabad-abad lalu. Menurutnya, kesuksesan pertanian di Depok pada masa itu sangat erat kaitannya dengan sistem irigasi yang dibawa dari Bali.

Para pekerja yang merawat tanah-tanah milik Chastelein sebagian adalah budak dari Bali. Mereka termasuk yang mengelola kawasan yang kini menjadi Tahura Pancoran Mas. Dulu luasnya mencapai 12 hektar, kini tersisa 7 hektare.

“Nah, itu sebabnya Chastelein mendatangkan budak-budak dari Bali. Bali terkenal dengan sistem irigasi Subak, di mana semua sawah mendapat air dan tidak ada yang kekurangan. Sistem ini diterapkan dengan rapi dan efisien,” ujar Boy.

Para pekerja dari Bali menerapkan sistem tersebut di Depok. Hasilnya sangat mengesankan, sawah yang produktif, beras berkualitas tinggi, dan buah-buahan premium yang bahkan diekspor ke Eropa.

Setelah kematian Chastelein, komitmen untuk melindungi hutan itu tetap dijaga. Namun, karena biaya pemeliharaan yang tinggi, sebuah perjanjian penting ditandatangani pada 31 Maret 1912.

Pengelolaan hutan pun diserahkan kepada Nederlands-Indische Vereeniging tot Natuurbescherming (Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda), dan statusnya resmi menjadi cagar alam (natuurreservaat) seluas 12 hektar.

Tahura Pancoran Mas itu sedang direvitalisasi saat ini. Lintang Yuniar Pratiwi, kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Taman Hutan Raya (Tahura) Kota Depok, menjelaskan langkah itu bukan sekadar untuk menggaet wisatawan.

Lintang mengatakan revitalisasi itu untuk mengembalikan kelestarian hutan 7 hektare Tahura Pancoran Mas. Inisiatif tersebut mencakup pembentukan unit pengelolaan khusus UPTD Tahura sesuai Perwal no. 33 Tahun 2019 yang berfokus mengelola kawasan Tahura Pancoran Mas atau Tahura Panmas, penyelesaian konflik lahan, dan peningkatan infrastruktur fisik.

“Pekerjaan tahun 2025 sudah selesai untuk pembangunan pagar dan rehabilitasi pos jaga yang dilaksanakan Pemerintah Kota Depok dibantu oleh Disrumkin Kota Depok. Selain itu, masyarakat yang memiliki tujuan edukasi dan penelitian bisa mengakses kembali sesuai aturan dan prosedur yang sudah ditetapkan,” ujar Lintang saat dihubungi infoTravel, Selasa (20/1).

Meskipun demikian, Lintang mengakui bahwa masih ada beberapa tugas fisik yang perlu diselesaikan dalam revitalisasi Tahura Pancoran Mas juga dikenal sebagai Cagar Alam Depok atau Alas Tua Depok, yang berada di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Pancoran Mas, Depok itu.

Lintang mengatakan revitalisasi juga menyangkut penyelesaian sisa pembangunan pagar keliling batas kawasan yang kurang lebih sepanjang 500 meter lagi.

Tinggalan Meneer Belanda Chastelein