Legenda Tedak Kroman, Wujud Buaya Siluman di Sungai Kedungpeluk

Posted on

Misteri buaya siluman di Sungai Kedungpeluk, Sidoarjo, Jawa Timur menjadi mitos yang melegenda. Seperti apa kisahnya?

Mitos ini hidup dan berkembang di sekitar Sungai Kedungpeluk, sebuah aliran sungai yang kerap dikaitkan dengan penampakan buaya berukuran besar yang muncul secara misterius.

Cerita tentang siluman buaya ini bukan sekedar legenda lama. Masyarakat setempat percaya, bahwa buaya yang kerap muncul dan meresahkan warga itu juga beberapa kali kedapatan menampakkan diri dalam wujud yang berbeda.

Hingga kini, kepercayaan tersebut masih hidup dan diturunkan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Mitos ini mengundang rasa penasaran mengenai kebenaran dari keberadaan siluman buaya tersebut.

Sungai Kedungpeluk adalah salah satu sungai yang berada di Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Sungai ini menjadi bagian penting dari sistem drainase dan aliran air di wilayah timur Sidoarjo karena berperan dalam mengalirkan air ke area pesisir termasuk ke muara laut.

Melansir situs Antara, Selasa (6/1/2026), Pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan dinas terkait secara berkala melakukan pengerukan dan penanganan untuk menjaga aliran air agar tidak tersumbat oleh sedimentasi, eceng gondok, dan sampah yang bisa mempersempit sungai serta memicu banjir di sekitar Kecamatan Candi.

Sungai Kedungpeluk menjadi habitat buaya muara yang kerap meresahkan warga sekitar. Kemunculan satwa liar tersebut terbilang cukup sering, bahkan hampir setiap hari, baik pada siang maupun malam hari. Buaya-buaya itu biasanya terlihat muncul ke permukaan sungai atau berjemur di tepian, terutama di area yang jauh dari aktivitas padat manusia.

Meski sudah terbiasa dengan keberadaan buaya muara, masyarakat setempat mengaku tetap merasa waswas. Warga yang tinggal dan beraktivitas di sekitar sungai, khususnya para petani tambak, memilih untuk lebih berhati-hati saat melintas atau bekerja di dekat aliran sungai. Hingga kini memang belum ada laporan serangan terhadap manusia, namun potensi bahaya tetap menjadi perhatian utama.

Kemunculan buaya muara meningkat sejak ambruknya Jembatan Desa Kedungpeluk pada tahun 2024. Runtuhnya jembatan tersebut diduga membuat kawasan sekitar sungai menjadi lebih sepi dari lalu lintas manusia dan kendaraan, sehingga buaya lebih leluasa menampakkan diri.

“Sejak ambrolnya Jembatan Desa Kedungpeluk, akhir-akhir ini buaya sering muncul. Baik malam, bahkan siang hari,” ujar Gianto seorang warga Desa Kedungpeluk, dilansir infoJatim.

Meski kemunculan buaya masih berada cukup jauh dari permukiman, masyarakat tetap diimbau untuk waspada dan tidak mendekati sungai demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Keberadaan buaya muara di Sungai Kedungpeluk tidak bisa dilepaskan dari mitos yang melegenda di kalangan masyarakat setempat. Legenda Tedok Kroman, dipercaya warga memiliki kaitan dengan keberadaan buaya muara di sungai Kedungpeluk.

infoTravel mencatat, Legenda Tedok Kroman merupakan kisah turun-temurun tentang kemunculan siluman buaya yang diyakini mampu menyerupai wujud manusia. Mitos ini dibuktikan dengan cerita-cerita dari masyarakat setempat yang kerap tidak sengaja bertemu dengan sosok kakek-kakek atau nenek-nenek di sekitar kawasan sungai.

“Tedak Kroman itu merupakan jelmaan buaya yang berubah wujud menjadi mansuia. Biasanya muncul di pinggir-pinggir sungai atau area tambak,” ujar Arwan seorang warga.

Masyarakat Desa Kedungpeluk masih mempercayai cerita yang melegenda ini, bahkan masyarakat memberikan sesaji untuk sosok Tedak Kroman ketika mengadakan hajatan.

Lokasi Sungai Kedungpeluk

Keberadaan Buaya Muara

Legenda Tedok Kroman