Warga di sekitar Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas atau Cagar Alam Depok berbeda pendapat tentang rencana revitalisasi kawasan itu. Sebagian mengapresiasi langkah itu, tetapi ada pula yang khawatir akan dampak ekologi, masalah lalu lintas, serta kemungkinan hilangnya makna historis dan keaslian hutan tersebut.
Zizis Salsabila (30), seorang warga RW 02 yang tinggal dekat kawasan Tahura Pancoran Mas, memandang revitalisasi sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas hutan kota, menjadikannya lebih terawat dan menarik bagi masyarakat.
Dia optimistis bahwa inisiatif pembangunan fasilitas seperti lintasan jogging akan berjalan lancar. Dia juga menilai pembangunan lintasan jogging itu sangat tepat karena seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat dan semakin berkurangnya fasilitas olahraga akibat pembangunan proyek-proyek lain.
Zizis berharap pemerintah melibatkan warga lokal dalam pengelolaan area tersebut, bersamaan dengan pengembangan fasilitas olahraga. Dia juga yakin revitalisasi itu bisa menciptakan peluang bagi UMKM dan lapangan kerja.
“Nanti juga kan bakal ada jogging track dan lain-lainnya. Kita sih sebagai warga sekitar pengennya nanti sedikitnya ada apa ya, UMKM, stand-stand, menyediakan pihak Tahuranya untuk warga-warga sekitar, atau pekerjaan-pekerjaan untuk warga sekitar, biar bisa membantu masyarakat di sini untuk memajukan,” ujar Zizis saat ditemui infoTravel, Kamis (22/1/2026).
Zizis menekankan pentingnya memasukkan pertimbangan lingkungan ke dalam visi taman modern. Dia berharap pengembangan tersebut tidak mengorbankan peran utama tahura sebagai ruang hijau.
“Penting pula edukasi buat masyarakat untuk mendorong upaya kolektif dalam menjaga kebersihan dan pelestarian hutan,” kata Zizis.
Di sisi lain, Sidiq Hadi Wijaya (50), warga RW 05, mengemukakan kekhawatiran terkait situasi lalu lintas. Dia menyatakan bahwa jalan-jalan di sekitar tahura sempit dan sering macet, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.
Dia khawatir bahwa jika kawasan itu dibuka untuk umum tanpa perencanaan yang matang, kemacetan akan semakin parah. Sidiq juga mengingatkan pentingnya menyediakan fasilitas parkir di kawasan Tahura Pancoran Mas yang ada di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, Kecamatan Pancoran Mas, Depok itu.
Jika parkir dibatasi di area terbuka, kendaraan mungkin akan meluber ke bahu jalan atau trotoar, sehingga membatasi akses bagi warga.
“Parkirannya sih yang perlu diperhitungkan. Nanti kalau jadi, mungkin bagus untuk UMKM, ya kan buat pedagang bagus. Tapi, soal jalan ada potensi tambah macet atau tambah menyempit,” kata Sidiq.
“Ya mau nggak mau ada akses parkir di dalam, bukan cuma di luar, bukan di luar taman tapi di dalam. Karena kalau di luar taman artinya dia makan bahu jalan atau makan trotoar kan? Menyempit lagi kan? Jalanan ntar mengecil lagi, macet lagi, tambah macet lagi” dia menambahkan.
Selain itu, Sidiq mengutarakan kekhawatirannya bahwa upaya revitalisasi dapat mengubah Tahura Pancoran Mas menjadi kawasan rekreasi modern dengan mengorbankan integritas ekologisnya.
Dia mengingatkan bahwa Tahura Pancoran MAs sangat penting sebagai paru-paru kota dan berfungsi sebagai kawasan penampungan air yang krusial.
“Hutan itu memainkan peran vital, terutama pada musim kemarau, karena membantu menjaga ketersediaan air yang relatif baik di kawasan sekitarnya melalui fungsi penampungannya,” Sidiq menegaskan.
Hannah Varents Casseqta (22), seorang warga setempat di dekat Tahura Pancoran Mas, juga menyambut baik rencana revitalisasi, tetapi juga menyimpan kekhawatiran serupa Sidiq.
Dia berharap revitalisasi itu bisa menjadi langkah kawasan hutan akan mendapatkan pemeliharaan yang lebih baik dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perlindungan lingkungan.
“Di balik itu juga ada rasa khawatir, revitalisasi bisa mengganggu satwa yang ada di hutan atau berpotensi merusak area hutan aslinya sebelum direvitalisasi jika tidak dikelola dengan baik,” kata dia.
Hannah menegaskan bahwa penambahan yang paling mendesak bukanlah fasilitas rekreasi, melainkan area yang didedikasikan untuk pendidikan pohon. Dia yakin bahwa tahura menawarkan peluang signifikan bagi anak-anak sekolah untuk berinteraksi langsung dengan spesies tumbuhan dan ekosistem hutan dalam lingkungan belajar.
Dia berharap Tahura Pancoran Mas tetap menjadi hutan kota yang hidup, bukan diubah menjadi taman modern yang dipenuhi lokasi-lokasi indah.
“Ya mungkin boleh ada beberapa spot foto yang tetap menjaga suasana alami tapi jangan sampai dibuat terlalu modern sampai membuat hilangnya karakter sebagai hutan karena kita butuh udara bersih dan tempat tinggal satwa yang ada di situ,” kata dia.
Dalam perencanaan Kota Depok, Tahura Pancoran Mas itu rampung direvitalisasi pada akhir 2026 dan bisa digunakan untuk masyarakat mulai 2027.
Hannah Varents Casseqta (22), seorang warga setempat di dekat Tahura Pancoran Mas, juga menyambut baik rencana revitalisasi, tetapi juga menyimpan kekhawatiran serupa Sidiq.
Dia berharap revitalisasi itu bisa menjadi langkah kawasan hutan akan mendapatkan pemeliharaan yang lebih baik dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya perlindungan lingkungan.
“Di balik itu juga ada rasa khawatir, revitalisasi bisa mengganggu satwa yang ada di hutan atau berpotensi merusak area hutan aslinya sebelum direvitalisasi jika tidak dikelola dengan baik,” kata dia.
Hannah menegaskan bahwa penambahan yang paling mendesak bukanlah fasilitas rekreasi, melainkan area yang didedikasikan untuk pendidikan pohon. Dia yakin bahwa tahura menawarkan peluang signifikan bagi anak-anak sekolah untuk berinteraksi langsung dengan spesies tumbuhan dan ekosistem hutan dalam lingkungan belajar.
Dia berharap Tahura Pancoran Mas tetap menjadi hutan kota yang hidup, bukan diubah menjadi taman modern yang dipenuhi lokasi-lokasi indah.
“Ya mungkin boleh ada beberapa spot foto yang tetap menjaga suasana alami tapi jangan sampai dibuat terlalu modern sampai membuat hilangnya karakter sebagai hutan karena kita butuh udara bersih dan tempat tinggal satwa yang ada di situ,” kata dia.
Dalam perencanaan Kota Depok, Tahura Pancoran Mas itu rampung direvitalisasi pada akhir 2026 dan bisa digunakan untuk masyarakat mulai 2027.
