Di jantung kawasan Manggarai yang ramai di Jakarta Selatan, sebuah bangunan bata merah yang mencolok menjulang tinggi di tengah pemandangan perkotaan. Bangunan itu Menara Air Balai Yasa Manggarai itu dikagumi wisatawan Jepang, bikin penasaran traveler penyuka mistis.
Menara Air Balai Yasa Manggarai itu bukan bangunan baru. Menara itu dibangun sekitar tahun 1920.
Meskipun usianya sudah tua, bangunan itu tetap kokoh dan kini secara resmi diakui sebagai cagar budaya pada 14 Mei 2025 berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta.
Susilo Andri Wibowo, penjaga dan perwakilan yang mendukung penetapan status warisan budayanya, mengungkap kisah menarik di menara yang telah menjadi elemen penting dalam identitas kawasan tersebut.
Susilo menegaskan bahwa menara itu melampaui struktur fisiknya. Dia bilang menara itu bukan sekadar tumpukan bata tua, melainkan ikon yang melekat kuat pada identitas warga.
“Cukup identik. Bisa dilihat dari nama jalan-jalan sekitaran, masih dinamakan Menara Air,” ujar Susilo saat dihubungi infoTravel, Rabu (15/1/2026).
Pesona menara yang dikelola KAI tersebut tidak hanya menarik bagi penduduk lokal atau mereka yang memiliki minat pada sejarah. Susilo mengungkapkan bahwa menara itu sering menarik pengunjung dari luar negeri, terutama dari Jepang.
Para pengunjung sering datang untuk mengagumi keindahan arsitektur dan desain yang kokoh dari struktur warisan kolonial ini.
“Orang Jepang datang dan terkagum-kagum melihat bangunan yang masih kokoh berdiri,” kata Susilo.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Selain kekaguman pada arsitektur, tidak sedikit pula pengunjung yang datang dengan rasa penasaran lain. “Ada pula yang datang dan bertanya-tanya tentang hal mistis,” dia menambahkan.
Meskipun demikian, Susilo menyoroti bahwa saat ini akses ke menara tersebut dibatasi bagi masyarakat umum. Para pengunjung dan mereka yang tertarik dengan sejarah biasanya berhenti sejenak untuk mengambil foto dari luar pagar, dengan mengutamakan keselamatan.
Susilo menyambut dengan antusias penetapan Menara Air Manggarai sebagai Situs Warisan Budaya. Sebagai salah satu penandatangan penetapan tersebut, ia berharap ada perhatian yang lebih besar terhadap bangunan bersejarah ini.
“Cukup senang karena ke depannya akan lebih diperhatikan kembali,” kata dia.
Susilo menuturkan bahwa rencana pemugaran atau perbaikan kemungkinan akan dilakukan, namun waktunya belum dapat dipastikan. “Untuk ke depannya kemungkinan akan ada pemugaran, cuman kapannya saya tidak dapat memberikan kepastian karena masih ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan,” kata Susilo.
Mengenai kondisi fisik bangunan, Susilo mengakui ada kekhawatiran wajar mengingat usia menara. Namun, ia pribadi meyakini struktur utamanya masih sangat kuat.
“Kekhawatiran pasti ada lah ya. Namun buat saya pribadi masih mempercayai bangunan itu kokoh dan kuat. Hanya saja perlu diperhatikan hal seperti genteng yang melorot,” ujar dia.
Kerja sama antara warga setempat dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemilik aset, dianggap efektif, terutama dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan sekitar. Anggota masyarakat mengambil langkah proaktif untuk melindungi kawasan tersebut dari eksploitasi oleh individu yang ceroboh.
Menara Air Manggarai tetap menjadi ikon yang menonjol, diam-diam menyaksikan perkembangan transportasi kereta api di Jakarta, dengan sabar menanti restorasi agar kisahnya tetap abadi.
