Larangan pelayaran kapal wisata ke Taman Nasional (TN) Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dikeluhkan warga setempat. Warga Pulau Komodo, yang sebagian besar bekerja di sektor pariwisata, kehilangan pendapatan.
“Kayak Corona lagi. Seperti itu dirasakan rasakan oleh warga yang berusaha di pariwisata,” kata warga Pulau Komodo, Abdul Salam, Minggu (18/1/2026), dikutip dari infoBali.
Warga Pulau Komodo memang menggantungkan hidup dari pariwisata. Mereka meraup penghasilan dari berbagai profesi, termasuk naturalist guide.
Selain itu, ada pula yang menjadi pedagang, baik suvenir, makanan dan minuman hingga berbagai profesi lain. Abdul adalah pedagang suvenir hingga makan dan dan minuman di Long Pink Beach.
Abdul mengaku tak ada pemasukan selama penutupan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo. Tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya selama tak ada kunjungan wisatawan ke sana.
Menjelang liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, Abdul sudah membeli ratusan kelapa muda. Namun, kelapa muda yang dia beli tak bisa dijual karena tak ada turis yang berkunjung ke Pulau Komodo.
Sekretaris Desa Komodo, Ismail, mengatakan penutupan pelayaran kapal wisata berdampak terhadap perekonomian warga setempat. Sebagian besar warga Desa Komodo, ujar dia, bekerja di sektor pariwisata.
“Sangat berdampak pada roda perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat Komodo,” ujar Ismail.
Saat ini, kata Ismail, banyak di antara mereka memilih melaut agar ada pemasukan. Salah satunya adalah Saiful. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang suvenir di Pulau Komodo itu turun ke laut memancing gurita. Saiful inilah yang menemukan bangkai kapal pinisi Putri Sakinah yang mengangkut pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando dan keluarganya.
“Banyak masyarakat Komodo yang sudah alih profesi ke nelayan untuk mencari ikan demi menghidupi keluarga. Mereka akan melakukan aktivitas di laut sampai kunjungan wisatawan kembali normal,” kata Ismail.
Ismail berharap cuaca kembali membaik sehingga kapal-kapal wisata diizinkan berlayar ke TN Komodo.
Pelarangan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo itu diperpanjang hingga 20 Januari 2026 atau sampai cuaca membaik. Ada potensi gelombang tinggi di perairan Taman Nasional Komodo dan sekitarnya berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Ya, larangan kapal wisata berlayar diperpanjang hingga 20 Januari,” kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, Rabu (14/1).
****
Selengkapnya klik di infoBali.
